Serangan Israel membunuh dokter dengan merawat pasien Covid, tenaga kesehatan Gaza berduka porakporanda ‘Kematiannya adalah malapetaka’

serangan-israel-membunuh-dokter-yang-merawat-pasien-covid-tenaga-kesehatan-gaza-berduka-kematiannya-adalah-malapetaka-10
  • Lina Shaikhouni
  • BBC Arabic

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Ghaith al-Zaanin

Tanpa peringatan, serangan udara Israel menghancurkan bangunan 4 lantai di Jalur Gaza, Minggu (16/05). Bangunan itu adalah tempat dokter Ayman Abu al-Ouf tinggal.

Ayman, yang merupakan besar unit penyakit dalam rumah sakit utama pada Palestina, tewas akibat serangan itu.

Ibu, abu, istrinya yang bernama Reem, dan putranya yang berumur 17 tahun, Tawfik, dan putrinya yang berumur 12 tahun, Tala, juga kematian nyawa dalam peristiwa tersebut.

Total terdapat 12 bagian keluarga Ayman yang tewas.

“Ini kematian yang amat besar, tidak hanya bagi kami yang secara pribadi mengenal Ayman, tapi juga untuk pasien dan mahasiswanya, ” kata pendahuluan Ghaith al-Zaanin, teman dekat sekaligus mantan rekan kerjanya yang kini tinggal pada Kanada.

Baca pula:

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Handout

Selain bertanggung jawab arah pasien penyakit dalam di Rumah Sakit al-Shifa dalam Kota Gaza, Ayman serupa mengawasi penanganan pasien Covid-19.

Dia melakukan supervisi pembelaan di bangsal yang khusus menangani pasien Covid-19 secara kondisi parah. Hanya terdapat sedikit dokter spesialis aib pernapasan yang bekerja dalam bangsal itu..

Ayman pula melatih para calon tabib dari dua sekolah kedokteran di Gaza.

“Untuk mendapatkan dokter dengan kualifikasi semacam Ayman, perlu setidaknya 10-15 tahun pelatihan, ” introduksi Zaanin, yang memberi nama putrinya, Tala, seperti budak perempuan kawan Ayman.

“Dia mendedikasikan kehidupannya untuk membangun orang lain, merawat penderita, dan mengajar generasi segar dokter.

“Saya bakal menyebutnya sebagai orang dengan paling baik hati serta penuh kasih yang pernah saya lihat dalam kesibukan saya, ” ujar Zaanin.

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Reuters

Ayman telah meninggalkan rumah lara sekitar satu jam pra serangan udara Israel mengacaukan tempat tinggalnya di Tiang al-Wahda, Kota Gaza.

Medan itu dipenuhi gedung kondominium dan pertokoan.

Militer Israel mengeklaim serangan udara tersebut ditujukan untuk menyerang kekuatan bersenjata kelompok militan Hamas di bawah tanah.

“Fondasi bawah tanah runtuh, menyebabkan permukiman warga biasa di atasnya runtuh serta memicu korban yang tidak diinginkan, ” begitu informasi Israel.

Baca pula:

Dokter Ayman terkubur di bawah reruntuhan bangunan selama hampir 12 jam. Dia sempat mampu bertahan hingga enam jam, patuh putrinya, Haya Agha.

Agha adalah salah utama dokter yang mendapat pengajaran dan pelatihan dari Ayman.

Jenazah Ayman baru terlihat 48 jam setelah bangunan itu ambruk.

“Tidak dengan percaya bahwa dia sudah mati sampai seorang sinse di rumah sakit menyampaikan foto tubuhnya, ” kata pendahuluan Agha kepada BBC.

“Kematiannya adalah bencana. Dia mengemong tiga atau empat dokter. Dia pekerja keras jadi kami pikir dia tak terkalahkan. ”

Agha berkata, serangan Israel juga menghancurkan jalan menuju daerah itu dan rumah sakit al-Shifa. Akibatnya, tim penyelamat semakin terhambat untuk sampai dalam sana tepat waktu & menyelamatkan korban.

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Handout

Putra Ayman dengan berusia 15 tahun, Omar, adalah satu-satunya anggota keluarganya yang selamat dari serbuan udara Israel.

Omar saat ini dirawat karena mengalami luka. Dia tidak tahu bahwa orang tua & dua saudara kandungnya sudah meninggal.

Saudara laki-laki Omar, Tawfik, tengah menjalani tarikh terakhir di jenjang madrasah menengah. Dia bermimpi mengejar gelar di bidang kimia.

Adapun guru yang mengajar Tala menyebut bahwa putri Ayman itu adalah pelajar yang sangat tertib, tertarik pelajaran agama & senang menghafal Alquran.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan setidaknya 227 orang, termasuk 102 anak-anak dan perempuan, tewas akibat serangan Israel semenjak 10 Mei lalu.

Sementara di Israel 12 orang, termasuk dua bujang, tewas dalam serangan berpandu dari militan di Palestina, menurut otoritas medis setempat.

Militer Israel mengeklaim hanya menyerang yang mereka pendapat target militer. Mereka pula menyebut telah melakukan dengan terbaik untuk menghindari objek sipil.

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Gaza health ministry

Serangan hawa yang menewaskan Ayman selalu menyebabkan 42 warga Palestina lainnya kehilangan nyawa. Dua korban di antaranya merupakan seorang ahli saraf bertanda Mouin al-Aloul dan Rajaa Abu al-Ouf, seorang psikolog

Enam rumah sakit serta 11 pusat kesehatan sari di Gaza juga rusak digempur Israel, termasuk satu-satunya laboratorium pengujian Covid-19 dalam Gaza.

Rumah kecil lain tidak berfungsi sebab kekurangan bahan bakar.

“Ini tidak adil. Sangat tidak adil Israel membunuh masyarakat sipil yang tidak bersalah. Mereka tidak hanya mengacaukan infrastruktur fisik, tapi selalu membunuh sumber daya bani adam kami, ” kata Zaanin.

Sistem perawatan kesehatan Gaza rapuh karena konflik berat dan blokade yang diberlakukan Israel dan Mesir.

Vila sakit di Gaza kini kelebihan beban karena lonjakan kasus Covid-19. Hampir segenap rumah sakit di sana kekurangan ruang perawatan serius, ventilator, dan peralatan medis lainnya.

Pertempuran yang kini berlangsung menambah beban para-para petugas medis.

“Dokter bertemu luka dan cedera dengan belum pernah terlihat sebelumnya. Mereka perlu melakukan operasi yang rumit tapi umum dokter tidak terlatih melakukannya, ” kata Agha.

Tatkala itu Zaanin berkata membuang Gaza pada tahun 2017. Dia beralasan, pendidikan spesialis yang dia kejar tak tersedia di Gaza.

Jalan Zaanin maupun Agha percaya bahwa tewasnya dokter laksana Ayman Abu al-Ouf mau berdampak signifikan bagi sektor medis di Gaza.

“Ayman meninggalkan kenangan indah di benak semua pasiennya. Aku berharap kami memiliki jalan untuk setidaknya mengucapkan aman tinggal, ” kata Agha.