Reynhard Sinaga, pemerkosa berantai yang tak boleh dibebaskan karena kejahatan ‘luar biasa serius’, kata Kejaksaan Terkenal dalam sidang banding

Reynhard Sinaga, pemerkosa berantai yang tak boleh dibebaskan karena kejahatan 'luar biasa serius', kata Kejaksaan Terkenal dalam sidang banding
  • Endang Nurdin
  • BBC News Indonesia

Kebiadaban yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga serta Joseph McCann, terpidana perkosaan berantai sangat “luar biasa serius” sehingga mereka tidak boleh dibebaskan’.

Demikian permintaan Kejaksaan Agung terhadap hakim di Pengadilan Banding, London.

Mahkamah Banding yang digelar di Royal Court of Justice, London, Rabu (14/10) dipimpin oleh lima orang hakim.

Inilah untuk pertama kalinya Pengadilan Banding mempertimbangkan hukuman total seumur hidup di luar peristiwa pembunuhan sangat parah, atas benduan Reynhard dan Joseph McCann, karena keduanya dianggap sebagai terpidana pemerkosa paling parah.

Jaksa dari Kejaksaan Gemilang Michael Ellis mengatakan dua kasus ini menyangkut “kejahatan seksual dengan begitu parah. ”

Terkait kasus Reynhard, Ellis mengatakan, “belum pernah ada kasus seperti ini” dan kalau Reynhard adalah pemerkosa paling payah dalam sejarah hukum Inggris.

Jaksa Sarah Whitehouse, yang membacakan kasus melaksanakan bersama Ellis mengatakan kejahatan itu menyebabkan dampak jangka panjang pada korban dan menimbulkan apa yang ia sebut “samudera luas pidana. ”

“Diputuskan bahwa hukuman seumur tumbuh total dalam dua kasus tersebut harus dipertimbangkan karena kejahatan seksi yang dilakukan oleh dua pelaku termasuk yang paling parah dan paling keji yang pernah berlaku di negara ini, ” cakap Ellis.

“Hukuman total seumur hidup dijatuhkan kepada pelaku kejahatan yang dianggap sangat parah dan pelaku tak akan pernah dibebaskan dari tangsi, ” kata pejabat Kejaksaan Agung ini.

“Terpidana bisa tetap berada di penjara seumur hidup dan nyaris tanpa ada peluang untuk dibebaskan, walaupun mungkin ada kesempatan [untuk bebas] dengan alasan musibah keluarga misalnya. ”

Banding untuk memperberat hukuman dalam skema yang dikenal Unduly Lenient Sentence (atau hukuman yang dianggap terlalu ringan) biasanya dijatuhkan pada jenis kasus pembunuhan terbatas, termasuk penculikan anak ataupun tindak terorisme.

Skema banding ini belum pernah diterapkan pada kasus dengan bukan pembunuhan.

*Peringatan: Tulisan ini berisi keterangan eksplisit terpaut kekerasan seksual

Reynhard Sinaga dijatuhi hukuman sebaya hidup pada 6 Januari 2020 atas kejahatan yang disebut Hakim Suzanne Godard dalam pengadilan dalam Manchester sebagai “predator seksual setan” yang “tidak akan pernah damai untuk dibebaskan. ”

Reyhnard menjalani sidang ini melalui sambungan gambar dari penjara karena pembatasan pandemi Covid-19. Pertama-tama, petugas memintanya untuk mengukuhkan jati dirinya.

“Dapatkah Anda mengonfirmasi bahwa Anda adalah Reynhard Sinaga? ”

“Ya benar, ” jawab Reynhard.

Dari layar video, tampak Reynhard memakai baju hangat warna oranye dan hem kerah biru serta berkacamata.

Jumlah pengunjung di ruang wasit dibatasi sesuai dengan protokol kesehatan tubuh Covid-19 sehingga sebagian awak jalan diminta untuk meliput dari tempat terpisah yang dilengkapi dengan adang-adang.

Reynhard dihukum – setelah menjalani empat sidang terpisah yang berlaku selama 18 bulan – pada 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 orang korban pria. Kejahatan ini dilakukan semasa rentang waktu dua setengah tarikh dari 1 Januari 2015 datang 2 Juni 2017.

Dari kira-kira 200 orang korban yang diketahui polisi berdasarkan rekaman video tindak perkosaan yang ditemukan di telepon seluler, 48 korban bersedia kasusnya disidangkan, sementara puluhan lainnya sedang belum teridentifikasi.

Sementara McCann dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sebanyak 33 kali pada 10 Desember tahun lalu karena melakukan serangkaian serangan seksual terhadap 11 orang rani dan anak-anak.

Lebih lanjut Jaksa Michael Ellis menekankan bahwa peristiwa seperti kasus Reynhard Sinaga ini “belum pernah terjadi sebelumnya, tak hanya dari skala tapi pula bahaya penggunaan obat dan rekaman tindak kejahatan yang berdampak jangka panjang, mungkin hingga seumur tumbuh, bagi 48 orang korbannya. ”

Jaksa Ellis kembali menguraikan tindak pidana yang dilakukan Reynhard dengan menyuarakan antara lain ada satu target yang diperkosa tiga kali semasa dua jam, ada yang diperkosa delapan kali selama enam tanda.

“Dan semua ini difilmkan dan tampak sangat grafis, ” kata jaksa.

“Begitu para korban tidak ingat (setelah diberi obat bius), karakter melakukan perkosaan melalui anus kepada mayoritas korban, ” tambahnya.

“Sebagian gembung, namun tidak semua korban menjadi sasaran perkosaan atau serangan berulang kali. Satu korban diperkosa tiga kali dalam rentang waktu perut jam… Korban lain diperkosa delapan kali dalam waktu enam jam, ” kata Ellis.

“Sidang banding Joseph McCann dan Reynhard Sinaga karena itu ialah pengujian apakah hukuman seumur hidup dapat diterapkan terhadap pelaku kebusukan seksual paling keji, ” sebutan kantor Kejaksaan Agung.

Kuasa hukum Reynhard dan McCann menentang dijatuhikannya aniaya seumur hidup dengan mengatakan meskipun kejahatannya “sangat serius”, para benduan tidak bisa disamakan “dengan urusan terparah dalam pembunuhan. ”

Saat tersebut, baik McCann ataupun Reynhard, meringkuk di penjara paling tidak selama 30 tahun sebelum secara otomatis dapat mengajukan pembebasan bersyarat.

Mengapa Reynhard dan McCann diadili bersama di Mahkamah Banding?

Kejaksaan Agung mengatakan mereka menyambut permohonan agar hukuman terhadap perut terpidana ditinjau ulang berdasarkan besar U nduly Lenient Sentence s, atau hukuman yang dianggap terlalu ringan.

“Dua kasus ini mengangkat dua pertanyaan legal yang serupa – apakah hukuman seumur hidup total dapat diterapkan bagi karakter kejahatan seksual paling keji berantakan sehingga dua kasus ini mampu ditinjau bersama dalam sidang yang sama, ” kata kantor Kejaksaan Agung.

McCann, yang tinggal di Beswick, Manchester Timur, mendapatkan peringatan sifat antisosial oleh Pengadilan Manchester zaman ia masih berusia 14 tahun. Ia disebut sebagai “psikopat klasik” oleh hakim dalam putusannya tahun lalu.

Korban McCann berumur 11 datang 71 tahun, termasuk tiga orang perempuan yang diculiknya di bulevar, diancam dengan pisau dan berulang kali diperkosa.

Meliput persidangan di tengah pandemi Covid-19

Sekitar 20 karakter telah berkumpul di seputar bagian sidang 4, Royal Court of Justice, London, 45 menit pra sidang banding dimulai. Lima patos menit menjelang sidang, petugas tiba mengatur berapa orang yang mau ditempatkan di ruang sidang istimewa, baik di bagian bawah ataupun di balkon.

Saya dan wartawan BBC lain Daniel De Simone mengikuti sejumlah wartawan lain diarahkan ke balkon, menyusuri tangga lingkar gedung tua yang diresmikan Ratu Victoria tahun 1882. Hanya ada sekitar 10 orang di balkon masing-masing di satu bangku, dan berseberangan sekitar satu setengah meter kepala sama lain Ada dua bagian terpisah, masing-masing lima orang pada kiri dan kanan.

Namun tak lama kemudian, petugas meminta kami yang di bagian kanan, untuk alih ke ruangan sidang lain, sebab dianggap terlalu banyak.

Sidang banding Reynhard dan McCann ini, akhirnya saya ikuti melalui sambungan video di ruang sidang 7 dengan audio yang tak terlalu jelas.

Tersedia sejumlah ruang sidang lain dengan disiapkan di gedung pengadilan nasional Inggris ini, walaupun kemungkinan wartawan yang meliput tak lebih sebab 20 orang, demi untuk menerapkan protokol kesehatan ketat di periode pandemi ini.

S kema ULS – para-para korban minta terpidana diperberat hukumannya

Skema ULS memungkinkan para korban kejahatan, beserta keluarga mereka dan juga terbuka meminta Kejaksaan Agung untuk meninjau hukuman yang mereka anggap sungguh-sungguh ringan.

Hanya satu pengajuan yang diperlukan untuk mengkaji hukuman dan dewan kejaksaan memiliki hanya 28 hari untuk mengajukan banding dari zaman hukuman dijatuhkan.

Skema ULS ini hanya diterapkan pada sejumlah kejahatan serta ada patokan yang ditetapkan supaya kasus ini dapat diajukan ke Mahkamah Banding.

Sedianya, kasus Reynhard Sinaga dijadwalkan disidang di Mahkamah Banding pada Maret lalu namun diundur sampai pertengahan Oktober ini karena pandemi Covid-19.

Pada Januari lalu, Jaksa Agung Geoffrey Cox mengatakan dalam satu pernyataan, “Sinaga melakukan sejumlah serangan sangat parah dalam masa waktu lama dan menyebabkan penderitaan dan trauma psikologis terhadap objek. ”

Tindak perkosaan sejak 2005

Ada kira-kira 200 korban yang diketahui menjelma korban Reynhard berdasarkan rekaman telepon seluler yang dilakukan sendiri sebab Reynhard. Kemudian 48 orang objek mau menjalani proses hukum tatkala puluhan orang lainnya masih belum dapat diidentifikasi.

Setelah vonis dijatuhkan, kepolisian menyebutkan banyak korban yang mengontak hotline yang dibuka untuk pengaduan, sebagian termasuk korban Reynhard.

April lalu, Reynhard dipindahkan ke penjara Wakefield pada West Yorkshire, rumah tahanan dengan disebut “Gedung Monster” karena banyaknya pembunuh dan pemerkosa yang dipenjara di sana.

Kepolisian Manchester Raya mengatakan sistem yang dilakukan Reynhard, adalah mengajak korban yang tampak rentan setelah mabuk, atau tersesat pada seputar tempat tinggalnya, di zona ramai di pusat kota Manchester.

Reynhard biasanya dilaporkan mencari korbannya seputar tengah malam.

Reynhard – yang datang ke Manchester pada Juni 2007 dengan visa mahasiswa – kemudian memurukkan obat yang dicurigai adalah GHB -( gamma hydroxybutyrate ) obat bius yang menyerbu sistem syaraf- dan memasang tustel melalui dua telepon selulernya berserakan menyerang korban.

Kepolisian Manchester Raya mengungkap bahwa kejahatan yang dilakukan Reynhard kemungkinan dilakukan dalam periode zaman lebih dari 10 tahun.

Kepolisian mengatakan hal itu karena foto-foto yang ditemukan terpaut orang yang kemungkinan adalah target, tidak hanya foto pada tahun 2007 saat Reynhard pertama kali datang ke Inggris untuk studi, namun juga ada yang teridentifikasi sebagai rekaman pada tahun 2005.

Tindak perkosaan itu semua dilakukan pada apartemennya di pusat kota Manchester, yang menjadi tempat tinggal Reynhard sejak 2011 sampai ditahan dalam Juni 2017.

Reynhard disebut polisi, sangat terampil dalam “perilaku predator”.

Selama di Inggris, Reynhard mengambil dua kali program S2 di Universitas Manchester dan tengah mengambil gelar doktoral di Universitas Leeds saat ditangkap.

Korban alami trauma, Reynhard t etap menekankan sering sama suka

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript ataupun coba di mesin pencari asing

Ahli bicara Kepolisian Manchster Raya menyatakan Januari lalu, “Dari 195 karakter yang kemungkinan menjadi korban terpampang dari 2005 sampai 2017. Buktinya adalah kombinasi foto dan video (dan tidak semua tindak kejahatan direkam) dan cinderamata yang diambil (Reynhard) dari korban-korban. ”

Reynhard tidak memiliki catatan kriminal dan tidak pernah dicurigai sebelumnya terkait secara kejahatan sampai tanggal 2 Juni 2017, saat korban terakhirnya terjaga ketika sedang diperkosa.

Korban yang adalah olahragawan segera memukulnya dan Reynhard dibawa ke rumah sakit karena luka parah di kepala.

Korban belakang ini pada awalnya sempat ditahan karena melakukan penyerangan terhadap Reynhard, namun kemudian polisi mengetahui kesibukan Reynhard setelah menyita dua telepon seluler berisi rekaman perkosaan terhadap sekitar 200 pria.

Dalam persidangan di Manchester, Reynhard, kelahiran 19 Februari 1983 ini, selalu mendahulukan bahwa apa yang dia kerjakan berdasarkan suka sama suka, walaupun jaksa menyebutkan berdasarkan bukti video, korban jelas terlihat mendengkur dan dalam keadaan tidak sadar.

Namun petugas konseling kekerasan seksual Lisa Walter yang bekerja sama dengan kepolisian Manchester menyatakan para korban Reynhard mengalami “trauma berlipat. ”

Lisa mengatakan para korban umumnya “berurusan secara dua rangkaian insiden traumatis” porakporanda kejutan mengetahui apa yang berlaku pada mereka, ditambah dengan trauma dari serangan seksual.

Dalam keterangan kepada polisi, para pria korban perkosaan Reynhard mengatakan mereka ingin Reynhard menderita atas apa yang telah ia lakukan terhadap para objek dan “membusuk di neraka”.

Berdasarkan hukum Inggris, identitas korban perkosaan, tercatat nama, tidak boleh diungkap ke publik seumur hidup kecuali korban memutuskan untuk membuka jati dirinya.

Puluhan korban perkosaan yang kasusnya disidangkan semua adalah pria kulit putih Inggris berusia rata-rata 21 tarikh. Sejumlah orang di antara mereka mengatakan mereka “tak akan pernah melupakan saat polisi mendatangi mereka” dan mengungkapkan apa yang berlaku pada mereka. ”

Ayah Reynhard, Saibun Sinaga mengatakan menerima hukuman yang dijatuhkan kepada putranya dengan menjawab singkat pertanyaan BBC News Indonesia, setelah vonis Januari lalu, “Saya sudah menerima apa adanya, bertemu dengan perbuatannya. Tak usah teristimewa dibahas. ”