Pertemuan ASEAN: Pemimpin kudeta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, diminta hentikan kekerasan lalu memulai proses dialog

pertemuan-asean-pemimpin-kudeta-myanmar-jenderal-min-aung-hlaing-diminta-hentikan-kekerasan-dan-memulai-proses-dialog-22

Sumber gambar, Biro Pers Setpres

Presiden Joko Widodo meminta militer Myanmar untuk menghentikan kekerasan serta memulai proses dialog yg inklusif dalam Pertemuan Pemimpin ASEAN di Jakarta, dalam Sabtu (24/04).

Berbicara setelah pertemuan rampung, Presiden Jokowi menegaskan “kekerasan diharuskan dihentikan dan demokrasi, stabilitas, dan perdamaian di Myanmar harus segera dikembalikan”.

Selain itu, tambah Jokowi, Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing diminta memberi komitmen atas beberapa hal, termasuk memulai proses dialog yg influsif serta pembebasan tahanan politik.

“Perlu dibentuk particular envoy ASEAN yaitu Sekjen dan Ketua ASEAN untuk mendorong dialog dengan sepenuhnya pihak di Myanmar, ” ujarnya.

Yg ketiga, adalah pembukaan hubungan bantuan kemanusiaan dari ASEAN, yang dikoordinir oleh Sekjen ASEAN dan AHA middle.

“Indonesia berkomitmen untuk mengawal terus tindak lanjut komitmen agar krisis politik Myanmar dapat segera diatasi.

“Kita bersyukur apa yang disampaikan Indonesia ternyata sejalan apa yang disampaikan pemimpin ASEAN. sehingga dapat dikatakan pemimpin ASEAN telah mencapai konsensus, ” papar Jokowi.

Sumber gambar, Biro Pers Setpres

Min Aung Hlaing, pemimpin militer yang berada di balik kudeta Myanmar, tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Sabtu (24/04), pukul 11. 00 WIB tuk menghadiri pertemuan para pemimpin ASEAN di Jakarta—pertemuan pertama sejak kudeta Februari lalu.

Kedatangan Min Aung Hlaing direkam oleh Sekretariat Presiden RI. Sang jenderal, yg mengenakan masker, disambut oleh Duta Besar Myanmar buat Republik Indonesia Ei Khin Aye dan Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto dengan mengatupkan kedua telapak tangan pada dada.

Jenderal Min Aung Hlaing dan delegasi terlebih dahulu menjalani PCR swab test serta penapisan kesehatan sebagai periode dari penerapan protokol kesehatan dan selanjutnya bergerak meninggalkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju lokasi ASEAN Leaders’ Conference {ALM) di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta.

Sumber gambar, Biro Pers Sekretariat Presiden

Sekitar satu kilometer {dari|dri} Gedung Sekretariat ASEAN, sejumlah orang melancarkan protes terhadap kedatangan Jenderal Min Aung Hlaing.

Beberapa {media|press|mass media} melaporkan bahwa aksi demonstrasi dibubarkan polisi dan {setidaknya|minimalnya} tiga orang dibawa ke mobil polisi.

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Sumber gambar, Anadolu Agency/Getty Images

Aksi protes di Jakarta {ini|terkait} disambut ribuan komentar netizen Myanmar yang berterima kasih atas solidaritas warga {Indonesia|Philippines}.

Kehadiran Hlaing sebelumnya {banyak|melimpah} ditentang oleh para aktivis dan politisi pro-demokrasi {yang|yg} membentuk pemerintahan bersatu, {National|Nationwide} Unity Government (NUG), {April|04|Apr} ini.

NUG mendesak negara-negara tetangga untuk tidak mengakui junta dan meminta perundingan sebaiknya dengan pihak mereka.

Di antara aktivis {yang|yg} menentang kehadiran sang jendral, termasuk Kyaw Win, {direktur|pimpinan} badan HAM yang berkantor di London, Burma {Human|Human being|Individual} Rights Network (BHRN).

“Apakah Presiden Jokowi {akan|jadi|maka akan} berjabat tangan dengan {Min|Minutes} Aung Hlaing yang {melakukan|proses} genosida Rohingya dan membunuh 700 orang Burma lainnya, ” cuit Kyaw {Win|Earn}. “Undanglah pemerintahan NUG. {“|inch}

Indria Fernida dari {Bike|Bicycle} for Democracy, yang menggelar demonstrasi di dekat Gedung Sekretariat ASEAN, juga menentang kehadiran Min Aung Hlaing di Jakarta.

“Kami menuntut agar militer Myanmar menghentikan segala bentuk kekerasan, penangkapan sewenang-wenang kepada masyarakat sipil, termasuk pembela HAM {dan|serta|lalu} membebaskan mereka tanpa syarat. Kemudian membuka akses kemanusiaan dan memberikan jaminan {dasar|basis} hidup bagi rakyat Myamar. Serta mengembalikan demokrasi {di|pada} Myanmar sesuai Pemilu tahun 2020, ” tegasnya.

Sumber gambar, Reuters

Kekerasan {di|pada} Myanmar masih terus terjadi dan ASEAN sendiri terpecah dalam mencapai konsensus {untuk|tuk|buat} membantu mencari jalan menangani krisis di Myanmar.

Sejauh ini, kepala negara {yang|yg} hadir termasuk Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, {dan|serta|lalu} PM Vietnam, Pham Minh Chinh. Adapun PM {Thailand|Asia}, Prayuth Chan-ocha mengatakan {akan|jadi|maka akan} diwakili Don Pramudwinai, {yang|yg} juga menteri luar negeri.

Dinna Prapto Raharja selaku pengamat hubungan internasional sekaligus mantan Utusan Indonesia {Untuk|Tuk|Buat} Komisi HAM ASEAN, mengaku menyesali ketidakhadiran sejumlah kepala negara.

“Dalam dunia diplomasi, ini tanda bahwa mereka tidak menginginkan ada konsensus terjadi dalam pertemuan ASEAN Summit ini, tapi mereka harus tahu bahwa konsensus bukan segala-galanya untuk menyelesaikan masalah. ”

“Justru negara-negara yang tidak hadir mengirimkan kepala negaranya akan mendapatkan sorotan internasional karena {tidak|bukan} menyambut baik uluran tangan Indonesia untuk membicarakan masalah ini, ” papar Dinna kepada BBC Indonesia.

Sumber gambar, AFP via GETTY {IMAGES|PICTURES}

Dalam beberapa pekan terakhir, militer Myanmar {telah|sudah} menggunakan granat lontar {atas|arah} warga sipil dan jet-jet tempur dalam melawan {kaum|so gut wie keine|keine} pemberontak di sejumlah {daerah|kota}.

Banyak pengamat yakin bahwa negara ini berada di ambang status “negara gagal”.

Karena yakin {bahwa|yakni} rangkaian sanksi ekonomi {yang|yg} telah diterapkan hanya {akan|jadi|maka akan} berdampak terbatas bagi pimpinan militer Myanmar, pemerintah negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur {telah|sudah} mengimbau mitra-mitra mereka {di|pada} Asia Tenggara untuk memimpin upaya mengatasi krisis.

Sekilas mereka tampaknya punya {banyak|melimpah} alasan untuk melakukannya: situasi Myanmar merupakan ancaman terbesar bagi keamanan Asia Tenggara sejak bentrokan antara {Thailand|Asia} dan Kamboja satu dekade lalu.

Sikap ASEAN terpecah

Terlepas dari risiko arus pengungsi besar-besaran atau bahkan perang saudara, kesepuluh {anggota|awak} ASEAN berselisih soal apakah akan mengadakan pertemuan. {Ada|Wujud} tanda-tanda jelas perpecahan {antara|masa} pemerintah yang ingin {mengambil|menarik} tindakan dan yang {tidak|bukan}.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Empat negara secara khusus telah mendesak adanya intervensi. Pada {31|thirty-one} Maret, menteri luar negeri Singapura, Malaysia, Indonesia, {dan|serta|lalu} Filipina mengunjungi China, {yang|yg} diyakini membahas Myanmar. Sebagai ketua ASEAN {saat ini|sekarang}, Brunei Darussalam juga aktif dalam menyusun pernyataan bersama yang menyatakan keprihatinan.

Malaysia telah menolak untuk mengakui junta militer sebagai pemerintah yang sah. Dalam pernyataannya, Malaysia mengacu pada “otoritas militer di Myanmar” {dan|serta|lalu} terus menyerukan pembebasan {atas|arah} “Penasihat Negara Aung San Suu Kyi” mengacu {pada|dalam} gelar resminya sebelum dikudeta.

Perdana Menteri Singapura, {Lee|Shelter} Hsien Loong, menyebut penindasan militer terhadap aksi-aksi protes merupakan langkah yang “tidak dapat diterima”.

Tetapi {muncul|nampak} pertanyaan soal sikap negara-negara tetangga lainnya: Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam.

{Secara|Sebagaiselaku, ala, menurut,} khusus perhatian difokuskan {pada|dalam} Thailand dan Vietnam. Seorang analis Asia Tenggara mengatakan diplomat dari negaranya menyalahkan Bangkok dan Hanoi {atas|arah} penundaan dalam mencapai {posisi|gaya} bersama di ASEAN.

Masih belum jelas apakah Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, akan hadir dalam KTT nanti. Menurut pengamat {Thailand|Asia} dari Universitas Chulalongkorn, Thitinan Pongsudhirak, “Pemerintahan Prayuth relatif diam” atas isu Myanmar.

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Menurut dia, ada dua faktor {di|pada} balik sikap pemimpin {Thailand|Asia} itu. Salah satunya, Prayuth sendiri adalah mantan jenderal yang berkuasa lewat kudeta militer.

Faktor lain {adalah|ialah} “Thailand punya kepentingan nyata yang dipertaruhkan, tidak terkecuali impor gas alam {yang|yg} menyediakan sekitar 30% {bagi|untuk} listrik Thailand. ”

Kritik lain soal pemerintah {Thailand|Asia} datang dari Pavin Chachavalpongpun dari Universitas Kyoto {di|pada} Jepang. “Thailand dan Myanmar ibarat kembar yang dipisahkan saat lahir, ” ujarnya.

“Militernya saling memperhatikan satu sama lain dan meniru cara memperkuat diri {dalam|di dalam} perpolitikan. Saya melihat mereka mencoba membuat aliansi iliberalisme di kawasan ini. {“|inch}

Vietnam pun setali {tiga|3} uang. Pimpinan di Vietnam berhubungan erat dengan mitranya di Myanmar. Perusahaan telekomunikasi milik militer, Viettel, punya sejumlah kerja sama {besar|tidak kecil} dengan militer Myanmar, nilainya lebih dari US$1 miliar.

Duta Besar Vietnam {untuk|tuk|buat} Perserikatan Bangsa, yang {kini|sekarang} memimpin Dewan Keamanan PBB, Dang Dinh Quy, {sudah|telah} mengatakan bahwa negaranya menentang penggunaan sanksi internasional {atas|arah} junta militer, sembari mengatakan “kita perlu melibatkan {semua|sepenuhnya} pihak yang berkepentingan {di|pada} Myanmar, jadi kita {akan|jadi|maka akan} membuat siapapun merasa dikucilkan. ”

Baik Vietnam {dan|serta|lalu} Thailand, bersama Laos, {China|The far east|Tiongkok|Cina|China and taiwan}, India, Bangladesh, Rusia, {dan|serta|lalu} Pakistan mengirim pejabat {senior|older|mature} militer untuk menghadiri perayaan Hari Angkatan Bersenjata Myanmar pada 27 Maret lalu, walaupun pada hari yang sama puluhan pemrotes ditembak mati di berbagai kota.

Dianggap peluang ganda

Bagi pemerintah yang sering dikritik oleh masyarakat internasional soal situasi hak asasi manusia di negara mereka, {krisis|kritis} Myanmar dipandang sebagai peluang ganda.

Pertama, krisis {ini|terkait} menjadi momen untuk menegaskan prinsip ASEAN, yaitu “non intervensi’ atas masalah {dalam|di dalam} negeri salah satu anggotanya.

Kedua, hal itu juga merupakan momen saat perhatian internasional biasanya tengah berkutat pada, contohnya, Kamboja sehingga fokusnya kini teralihkan.

Sumber gambar, Getty Images

Pemerintahan Hun Sen mungkin tengah menikmati berkurangnya sorotan {saat|ketika} para diplomat Eropa {kini|sekarang} justru mendorong tindakannya terhadap junta Myanmar.

Sikap ASEAN tampaknya terbelah dua: {antara|masa} negara-negara ‘daratan’, yang {secara|sebagaiselaku, ala, menurut,} geografis lebih dekat ke China dan menentang intervensi di Myanmar, serta negara-negara ‘maritim’ – yang posisinya jauh dari China {dan|serta|lalu} memilih mengambil tindakan.

{Dari|Dri} negara-negara maritim itu, {Indonesia|Philippines} telah berupaya keras menggalang respons kolektif atas krisis di Myanmar.

Presiden Joko Widodo telah mengimbau sesama pemimpin untuk menyepakati kerangka kerja ASEAN dalam mengakhiri kekerasan, mengirim bantuan kemanusiaan, dan memulai kembali {dialog|discussion} di antara pihak-pihak {yang|yg} bertikai.

Skenario terbaik {dan|serta|lalu} terburuk

Evan Laksmana {dari|dri} Centre for Strategic {and|plus} International Studies di Jakarta mengatakan bahwa ‘skenario terbaik’ adalah ‘membentuk suatu gugus tugas untuk mendukung {dan|serta|lalu} memfasilitasi proses tersebut. ‘

Sedangkan ‘skenario terburuk’, menurutnya, adalah “memberikan legitimasi kepada rezim yang melakukan kudeta dengan mengundang Jenderal {Senior|Older|Mature} untuk datang namun {tidak|bukan} mendapatkan komitmen yang {bisa|dapat} dijalankan demi mengakhiri kekerasan dan memulai kembali {dialog|discussion}. ”

Bagi Indonesia {dan|serta|lalu} pemerintah lainnya yang menginginkan proses rekonsiliasi dimotori ASEAN di Myanmar, pembicaraan KTT nanti akan krusial. {Menurut|Berdasarkan} seorang diplomat utama {dari|dri} suatu negara ASEAN, “Kami hanya berharap ASEAN {bisa|dapat} menjadikan KTT ini {bukan|tidak merupakan} sebagai undangan bagi kepala pemerintah, namun sebagai semacam panggilan. ”

Dalam kata lain, pengaturan foto bersama antar-pemimpin memang penting, {tapi|namun} penting juga mengupayakan kesepakatan di atas kertas. Diplomat itu yakin Jenderal {Min|Minutes} Aung Hlaing akan sangat sedikit setuju.

Sumber gambar, Getty Images

“Beliau {akan|jadi|maka akan} menyampaikan pidato, menguraikan jadwalnya, menawarkan visa kunjungan {yang|yg} diatur” dan berharap {bisa|dapat} menghindari tindakan lebih lanjut.

ASEAN selama ini bangga akan kemampuannya untuk membujuk ketimbang memaksa, namun kemampuan itu jadi sangat lemah bila organisasi itu {tidak|bukan} kompak.

Membujuk sembilan Negara anggota lain untuk {mengambil|menarik} sikap yang solid {akan|jadi|maka akan} sama menantangnya dengan membujuk junta Myanmar untuk meredakan krisis.

{Bill|Expenses|Costs} Hayton, peneliti lembaga kajian Chatham House, London , turut berkontribusi {dalam|di dalam} artikel ini.