Penembakan enam orang pengikut Rizieq Shihab: Polisi angkat bukti rekaman perkataan, FPI sebut ‘tak punya senjata api’

Penembakan enam orang pengikut Rizieq Shihab: Polisi angkat bukti rekaman perkataan, FPI sebut 'tak punya senjata api'

Kepolisian mengatakan memiliki bukti berupa rekaman suara, terkait ditembak matinya enam orang yang diduga pengikut Rizieq Shihab, sementara Front Pembela Islam (FPI) mengatakan tak memiliki senjata api.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Polisi Tubagus Ade Hidayat mengatakan, “tidak benar (ada rekayasa terkait peristiwa penembakan) & menyebut bukti adanya ” voice note ” (rekaman suara).

“Faktanya kita diserang, dan faktanya voice note -nya seperti itu. Sudah tahu itu mobil polisi, dan tidak melakukan apa pun, tetapi dikerjakan proses penyerangan. Dan didapatkan senjata tajam dan senjata api yang dirilis Kapolda, ” kata Tubagus.

Tetapi Sekretaris Umum FPI Munarman mengucapkan pihaknya tidak pernah memakai senjata api.

“Laskar kami tidak pernah dibekali dengan senjata api. Kami terbiasa dengan tangan kosong. Kalau sahih itu, tolong dicek, nomor registrasi senjata apinya, pelurunya, semua tercatat, ” kata Munarman.

“Cek saja! Silakan dicek. Pasti bukan punya awak. Karena kami tidak punya akses ke senjata api. Dan tak mungkin membeli dari pasar kelam, ” tambahnya.

Benny K Harman, bagian DPR dari Komisi III dengan membidangi hukum, hak asasi manusia dan keamanan mengatakan kepolisian perlu memberikan keterangan yang objektif pada publik.

“Kepolisian, harus memberikan penjelasan dengan terbuka, secara objektif, secara jujur dan masuk akal, kepada terbuka, apa alasan mereka melakukan penembakan, ” kata politikus Partai Demokrat ini.

“Saya rasa barang bukti (yang ditunjukkan polisi dalam jumpa pers) itu tidak serta merta mampu menjelaskan secara masuk akal alasan penembakan… bisa saja alat fakta itu diambil dari tempat lain, lalu ditunjukkan, ” katanya lagi.

“Perlu diselidiki”

Erasmus Napitupulu, direktur Institute for Criminal and Justice Reform (ICRJ) mengatakan kejadian ini perlu diselidiki.

“ICRJ meminta supaya dilakukan penyelidikan yang serius, terang dan akuntabel terhadap penembakan dengan dilakukan oleh aparat kepolisian yang menyebabkan enam orang meninggal dunia, ” kata Erasmus.

“Oleh karena itu, ICJR mendorong kepada Mabes Polri, Kompolnas, Komnas HAM, dan Ombudsman RI untuk menyelidiki dengan mendalam tindakan penembakan dari aparat kepolisian dalam peristiwa tersebut. Setiap kegiatan yang diambil oleh aparat kepolisian haruslah sesuai dengan ketentuan serta peraturan yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan, ” tambahnya.

Sebelumnya, kepolisian dan FPI sama-sama mengeklaim diserang terlebih dahulu.

“Kalau mereka mau pengajian, kok harus menyerang polisi yang tersedia di belakangnya. Kalau mau pengajian, lakukan saja, kita tidak bakal lakukan apa pun, ” cakap Tubagus.

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran sebelumnya juga mengatakan kejadian yang sama.

“Sehingga terhadap kelompok pengikut MRS (Muhammad Rizieq Shihab) berjumlah 10 orang, yang melakukan penyerangan terhadap anggota (polisi), dilakukan tindakan kasar dan meninggal dunia sebanyak enam orang, ” ungkap Kapolda Metro Jaya, Senin (07/12).

Keterangan resmi kepolisian menyebutkan sejumlah pengikut Rizieq Shihab melakukan penyerangan terhadap kendaraan polisi di Tol Jakarta-Cikampek Km 50, sekitar pukul 00. 00 WIB, Senin (07/12) dini hari.

Dalam data tertulis yang diterima BBC, Senin (07/12), Ketua Umum DPP FPI Ahmad Shabri Lubis mengatakan sudah terjadi apa yang disebutnya jadi “peristiwa penghadangan dan penembakan terhadap rombongan Rizieq Shihab”.

“Benar ada perkara penghadangan, dan penembakan terhadap rombongan Habib Rizieq Shihab dan rumpun, serta penculikan terhadap enam orang laskar pengawal Habib Rizieq, ” kata Shabri dalam keterangan terekam itu.

Kejadiannya, menurut Shabri, terjadi di dekat pintu Tol Kerawang Timur.

Dia mengeklaim saat insiden tersebut Rizieq sedang menuju tempat pengajian yang disebutnya untuk internal keluarga.

Barang apa isi jumpa pers Kapolda Metro Jaya?

Lebih lanjut Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (07/12) siang, mengatakan, aparatnya yang berjumlah enam orang membuntuti kendaraan yang diduga ditumpangi pengikut Rizieq.

Hal ini dilakukan terkait rencana pemeriksaan polisi atas Rizieq Shihab dalam perkara dugaan pelanggaran keramaian protokol kesehatan covid-19 yang rencananya digelar Senin cepat.

“Terjadi penyerangan terhadap anggota Polri dengan sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan MRS (Muhammad Rizieq Shihab) yang dijadwalkan berlangsung keadaan ini jam 10. 00 WIB, ” kata Fadil Imran.

Dalam bertemu pers, Fadil didampingi Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman.

Di depan wartawan, Kapolda dan Pangdam memamerkan beberapa senjata api dan senjata tajam yang diklaim digunakan kawula Rizieq untuk menyerang anggota penjaga.

Cara penyelidikan ini dilakukan setelah polisi menerima informasi bahwa akan ada pengerahan massa pendukung Rizieq Shihab ke Polda Metro Jaya, sebutan Kapolda.

“Dan ketika anggota Polda Metro Jaya mengikuti kendaraan yang diduga pengikut MRS, kendaraan petugas dipepet, lalu kemudian diserang dengan memakai senjata api dan senjata pintar, ” ungkap Fadil Imran.

Menurut Kapolda, petugas kepolisian yang “terancam kesejahteraan jiwanya karena diserang”, kemudian melaksanakan “tindakan tegas-terukur”.

“Sehingga terhadap kelompok hamba MRS (Muhammad Rizieq Shihab) berjumlah 10 orang, yang melakukan penyerbuan terhadap anggota, dilakukan tindakan jelas dan meninggal dunia sebanyak enam orang, ” ungkap Kapolda Metro Jaya.

“Adapun empat orang lainnya, melarikan diri, ” tambahnya.

Hasil penyelidikan petugas menyebutkan bahwa pelaku penyerangan anggota polisi itu adalah “laskar khusus” yang selama ini dianggap menahan penyelidikan terhadap pimpinan FPI, kata Kapolda Metro Jaya.

Fadil Imran menambahkan, akibat serangan itu, kendaran milik polisi mengalami kerusakan “karena dipepet” dan “terkena tembakan”.

“Tidak ada anggota polisi yang terluka, ” ungkapnya.

Apa tanggapan FPI mengenai kejadian tersebut?

Melalui keterangan tertulis kepada media, FPI menyebut kejadian tersebut sebagai “penghadangan terhadap rombongan Rizieq Shihab” dalam perjalanan di jalan tol menuju sebuah pengajian internal keluarga.

Versi FPI menyebut perihal itu terjadi di dekat kemungkinan Tol Kerawang Timur, seperti diungkap Ketua Umum DPP FPI Ahmad Shabri Lubis, dalam keterangan tertulis kepada media, Senin (07/12).

Shabri mengklaim bahwa rombongan itu “dihadang oleh preman OTK (orang tidak dikenal)” yang diduga melakukan penguntitan kepada Rizieq.

Dia mengeklaim orang-orang itu “menghadang dan mengeluarkan tembakan kepada tentara pengawal keluarga”.

Akibatnya, lanjutnya, enam karakter yang disebutnya sebagai “pengawal puak Rizieq Shihab” belum diketahui keberadaannya.

Shabri menyebut satu kendaraan berisi enam orang laskar FPI “tidak diketahui keberadaannya”.

Dia mengklaim itu “diculik”.

Apa tanggapan Pangdam Jaya?

Pada hadapan wartawan, Fadil kembali meminta agar Rizieq Shihab memenuhi panggilan pemeriksaan oleh tim penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus kelompok orang di markas FPI yang diduga melanggar protokol kesehatan.

Kapolda Metro Jaya juga meminta agar Rizieq dan pengikutnya tidak menghalangi cara penyidikan.

Sementara, Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman mengatakan pihaknya menjunjung langkah Kapolda dan meminta biar Rizieq Shihab “segera mengikuti kaidah hukum yang berlaku”.