Olimpiade Tokyo: Upaya Indonesia terbuka tradisi emas badminton Olimpiade, dari latihan khusus di Kumamoto hingga menjaga kepala pemain

olimpiade-tokyo-upaya-indonesia-jaga-tradisi-emas-badminton-olimpiade-dari-latihan-khusus-di-kumamoto-hingga-menjaga-hati-pemain-18
  • Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

Sumber gambar, PBSI

Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra Indonesia, sudah menyiapkan semuanya. Dia merancang program dengan arah utama anak-anak asuhnya mempunyai performa puncak saat berlomba di Olimpiade Tokyo.

Program ini mencakup latihan khusus dan mengirim pemain di turnamen global secara selektif, dengan tumpuan mendongkrak peluang menyabet bintang.

Namun rancangan program tersebut buyar gara-gara pandemi global Covid-19.

Praktis, setelah ajang All England 2020 di Birmingham, Inggris, hampir semua turnamen besar dibatalkan.

“Bisa dianggap sekarang semua kekuatan pemain menjadi kosong-kosong lagi, ” kata Herry memberi peribahasa atas situasi kekuatan para pemain elite di era pandemi. “Kita tak cakap kekuatan lawan yang nyata, ” imbuhnya.

Ia mengatakan para pemain China — salah satu pesaing dekat tim bulutangkis Indonesia — sudah tidak terjun di turnamen besar selama utama setengah tahun terakhir.

Mengkaji lawan adalah salah kepala upaya penting dalam memenangkan pertandingan. Namun itu saat ini tak bisa dilakukan.

Pada luar itu, ada sandungan lain dengan begitu minimnya turnamen internasional dalam satu, 5 tahun ini, yakni bagaimana merasakan kembali ” feeling bertanding di lapangan”.

Baca juga :

Sumber gambar, PBSI

Di tengah sejumlah kendala ini, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) memutuskan buat terbang ke Jepang lebih awal dan menggelar latihan khusus di Kumamoto semasa sekitar 10 hari sebelum masuk ke Perkampungan Atlet di Tokyo.

Pemeran tunggal putra Anthony Ginting dan pemain ganda gabungan Melati Daeva Oktavianti mengatakan latihan di Kumamoto menjelma ajang untuk membenahi ancang-ancang terakhir dan aspek-aspek nonteknis.

“Ini kan Olimpiade baru bagi saya, jadi dalam sana (Kumamoto) ada anju akhir untuk hal-hal nonteknis, ” kata Melati.

Praveen/Melati tingkatkan kekompakan

Melati dan pasangannya di ganda adonan, Praveen Jordan, menjadi salah satu tumpuan harapan bintang.

Praveen/Melati mencatat prestasi memesona di seri Eropa sebelum secara cemerlang menjuarai All England 2020.

Keduanya mengatakan secara teknis, persiapan terjun di Olimpiade Tokyo sudah rampung dan sejak kira-kira Mei, memfokuskan pada intensifikasi komunikasi di lapangan, dengan digambarkan Praveen sebagai “meningkatkan chemistry “.

“Kalau soal pelajaran [fisik] tetap pelatih sudah tahu, kalau dari kami sendiri [yang kami lakukan adalah] menjaga semangat, jaga kondisi [fisik], jaga kekompakan dan chemistry , ” kata Praveen dalam program bincang-bincang dengan mantan pemeran ganda campuran Liliyana Natsir.

Peraih medali emas Olimpiade cabang olah raga Jatuh Tangkis

Pemain tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan medali emas Olimpiade untuk Indonesia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan pasar setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam di Barcelona, Spanyol.

Sementara pemain tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Selatan Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada ajang yang sama.

Pemain ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemenangan setelah melibas habis lawannya, pasangan daripada Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), dengan skor 5-15, 15-13, 15-12 pada Olimpiade 1996 pada Atlanta, Amerika Serikat.

Pemain ganda putra Candra Wijaya dan Tony Gunawan menaiki podium kampiun Olimpiade di Sydney, Australia setelah menaklukkan pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung melalui pertandingan tiga set dengan skor 15-10, 9-15, dan 15-7. Keduanya menjelma satu-satunya penyumbang medali emas untuk Indonesia pada hamparan olah raga bergengsi dunia pada tahun tersebut.

Atlet Taufik Hidayat mengalahkan pemain tunggal anak asal Korea Selatan Shon Seung-Mo dalam dua gim, 15-8 dan 15-7 di Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

Tahu kalah di gim baru, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido akhirnya melawan balik dengan skor 12-21, 21-11, & 21-16. Keduanya menyumbangkan bintang emas untuk Indonesia setelah mengalahkan pasangan China Cai Yun dan Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 di Beijing, China.

Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, yang anjlok bersamaan dengan Hari Independensi Indonesia. Keduanya menyumbangkan bintang emas untuk tim Abang Putih setelah membabat habis lawannya asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Pada wawancara dengan BBC News Indonesia, Praveen mengatakan ia dan Melati bisa melangsungkan prestasi seniornya, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang meraih medali emas di Olimpiade 2016.

“Itu memotivasi beta dan Melati [untuk meraih emas di Tokyo]#@@#@!!… soal lawan, kita sudah mengantipasipasi. Yang terberat sepertinya dari pemain-pemain China, ” kata Praveen.

Jordan/Melati berada di Grup C bersama Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark), dan Simon Wing Hang Leung/Gronya Somerville (Australia).

Dua posisi unggul di setiap grup akan melangkah ke babak delapan besar. “Melihat drawing cukup baik, head to head kita tidak kalah tapi ini Olimpiade. Jadi sapa pun lawannya tidak bisa lengah, ” kata Melati, dalam rilis yang dikeluarkan PBSI.

“Satu langkah demi satu langkah saja zaman. Semua lawan harus diwaspadai, tidak boleh fokus ke salah satu, ” cakap Melati.

Sumber gambar, PBSI

Baca juga :

Pelatih ganda campuran, Nova Widianto, mengatakan sekarang dengan menjadi perhatian adalah ciri mental.

“Kondisi Praveen/Melati sejauh ini sudah sangat cantik. Latihannya sudah banyak ke teknik, latihan fisiknya sudah dikurangi. Tinggal menyiapkan & menguatkan mental saja. Yang terpenting sekarang mentalnya harus siap, ” kata Nova kepada Tim Humas & Media PP PBSI.

“Karena Olimpiade selama ini kalau saya lihat, kadang-kadang orang yang ada di peak performance -nya belum tentu secara mental. Kalau saya menentang ke belakang, Owi/Butet tersebut performa terbaiknya di 2012 tapi emasnya di 2016. Kenapa? Karena mereka secara permainan 2012 itu sudah bagus tapi secara mental belum siap, ” sirih Nova menganalisis.

Kevin/Marcus tidak mau gegabah

Tumpuan bintang emas juga ada di pundak dua pasangan berpasangan putra, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan.

Keduanya per berada di peringkat utama dan dua dunia, yang di atas kertas setidaknya memperlihatkan, keduanya punya jalan besar meraih emas.

Sumber gambar, PBSI

Namun, kondisi ini juga bisa menjadi kendala, sesuatu yang disadari oleh pelatih ganda putra, Herry IP.

Itulah sebabnya Herry sudah merancang apa yang ia sebut “catatan-catatan khusus”.

“Yang tidak kalah penting adalah mengatur suasana hati pemain. Setiap pemain tidak sama, itu punya karakter masing-masing. Aku harus bisa menjaga dorongan, menjaga mental, agar bahan bisa dicapai, ” sebutan Herry.

Catatan khusus tersebut ia susun setelah berulang kali mendampingi pemain di ajang penting seperti Perlombaan Dunia dan All England.

Kevin/Marcus yang menempati unggulan pertama berada di Perserikatan A bersama Lee Yang/Wang Chi-Lin (China Taipei), Ben Lane/Sean Vendy (Inggris), & Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy (India).

Hendra/Ahsan — yang diunggulkan di tempat kedua — menempati Grup D bergandengan Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), Choi Sol Gyu/Seo Seung Jae (Korea Selatan), dan Jason Anthony Ho-Shue/Nyl Yakura (Kanada).

Menghakimi undian, pelatih ganda putra Herry IP mengatakan, “Harus siap karena undian kita tidak bisa memilih, apa pun hasilnya ya harus dihadapi, ” kata Herry.

“Di grup bakal tersedia tiga pasangan yang mau dilawan dengan plus-minus masing-masing. Jadi berat atau ringan menurut saya tergantung persiapan dan kesiapan atlet itu sendiri, ” lanjutnya. Patuh Herry, saat ini pelik menentukan kekuatan lawan karena sudah lama sekali tidak ada pertandingan.

“Untuk desain, baru jelang harinya kita akan diskusi. Kita kan ada lihat video-video rekaman pertandingan sebelumnya, ” cakap Herry. Senada dengan Herry, Marcus juga mengomentari undian dengan nada yang tidak terlalu gentar.

“Ya namanya Olimpiade, kita sudah tidak bisa pilih-pilih lawan. Seluruh merata kekuatannya, bakal ramai lah, ” ujar Marcus. Sebelumnya, Kevin mengatakan dirinya tak ingin gegabah meski saat ini berada pada peringkat satu dunia.

“Kualitas pemain [ganda putra] sekarang jauh lebih merata. Semuanya punya kans dengan sama untuk juara, ” kata Kevin.

Kans aurum kedua bagi Hendra

Sumber gambar, BWF

Bagi Hendra, ini menjadi kans ke-2 untuk kembali meraih aurum, setelah emas pertamanya di Olimpiade 2008 di Beijing bersama Markis Kido.

Di Olimpiade 2016 dalam Rio, Hendra/Ahsan gagal lolos dari fase grup.

Kali ini di Tokyo, Ahsan mengatakan ingin meningkatkan fokus di lapangan. “Setiap kemenangan, setiap poin akan sangat berarti. Semua lawan merata. Jadi bisa selalu faktor penentunya nanti hitungan poin, ” kata Ahsan.

Hendra, sementara itu mengatakan, “Kita mau lebih fokus, step by step , satu pertandingan ke pertandingan lain. Main lebih berani dan bertambah yakin lagi. ”

Banyak yang menempatkan Hendra/Ahsan sebagai kuda hitam. Ketika usia tak lagi muda, pasangan ini masih bisa menjuarai All England dalam 2019.

Bagi Kevin/Marcus, batu sandungan bisa datang dari pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Endo/Watanabe sukses menghadang Kevin Marcus di final All England 2020. Dalam All England 2021, duo Jepang ini juga muncul sebagai juara.

Wartawan olahraga Reza Adi Surya mengutarakan pelatih ganda putra Herry IP tentu sudah merancang strategi khusus jika Endo/Watanabe bertemu Kevin/Marcus.

“Dalam kira-kira kesempatan, pasangan Jepang itu memang selalu bisa melibas Kevin/Marcus. Tapi bicara jalan di Tokyo, saya memperkirakan 60: 40 untuk Kevin/Marcus, ” kata Reza.

Selain Praveen/Melati, Kevin/Marcus, dan Hendra/Ahsan, Indonesia juga menerjunkan sendiri putra Anthony Ginting, Jonathan Christie, tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung, dan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Sumber gambar, PBSI

Ginting mengatakan dirinya sudah merasakan siap terjun di Olimpiade Tokyo.

“Sudah periode persiapannya, sejak All England 2021. Jadi, so far sudah siap, jaga pokok, tinggal simulasi feeling , untuk membawa perasaan ke pertandingan, ” kata Ginting.

Ia mengutarakan dirinya banyak mempelajari melayani melalui video-video pertandingan, indah yang dikumpulkan sendiri maupun yang disiapkan tim PBSI.

Kan lama tak tersedia pertandingan, jadi kami tak tahu kekuatan lawan, [karenanya] video-video lama penting, ” kata Ginting.

Latihan, baik teknis & nonteknis, sudah dimaksimalkan, serta seperti kata peraih emas Olimpiade 2000 Candra Wijaya, semuanya sekarang bergantung di penampilan di lapangan.

“Yang penting bermain tenang, tanpa terburu-buru, dilewati satu menetapkan satu, ” kata Candra.

Melihat latihan di Pelatnas Cipayung maupun di Kumamoto, terasa adanya tekad dengan kuat untuk meraih emas.

“Kami akan habis-habiskan menegakkan tradisi medali emas, ” kata Rionny Mainaky, besar bidang pembinaan dan prestasi PBSI.