Nusantara resmi resesi akibat Covid-19: ‘Teritori negatif akan terjadi di kuartal tiga dan mungkin kuartal empat’, perkiraan tergantung pada perkembangan pandemi’

Nusantara resmi resesi akibat Covid-19: 'Teritori negatif akan terjadi di kuartal tiga dan mungkin kuartal empat', perkiraan tergantung pada perkembangan pandemi'
  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesia

Nusantara dipastikan masuk ke jurang resesi akibat pandemi Covid 19, introduksi Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Dia menyebut perekonomian Indonesia akan masuk ke teritori negatif pada kuartal tiga, sementara kuartal empat memiliki potensi yang sama.

Sri Mulyani mengatakan perekonomian Indonesia di kuartal tiga akan -2, 9% hingga -1%—kontraksi yang terjadi di dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal ke-2 tahun ini, perekonomian Indonesia tercatat mengalami kontraksi sebesar 5, 32%.

“Kementerian Keuangan melakukan revisi forecast pada kamar September ini, yang sebelumnya kita perkirakan untuk tahun ini merupakan -1, 1% hingga 0, 2%. Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah kisaran -1, 7% sampai -0, 6%, ” sekapur Sri Mulyani melalui konferensi pers virtual Selasa (22/09).

“Ini artinya, minus territory kemungkinan akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga sedang akan berlangsung untuk kuartal ke IV yang kita upayakan bisa dekat 0% atau positif, ” tambahnya.

Untuk tahun depan, kata Sri Mulyani, “Indonesia tetap menggunakan bertemu yang dibahas dalam RUU APBN 2021, yakni antara 4, 5%-5, 5% dengan forecast titiknya di 5, 0%”.

“Bagi institusi lain, yang menyelenggarakan forecast untuk Indonesia mereka rata-rata berpindah antara 5%-6%. OECD tahun pendahuluan prediksi tumbuh 5, 3%, ADB sama 5, 3%, Bloomberg median view 5, 4%, IMF 6, 1%, Word Bank di 4, 8%. ”

Namun semua perkiraan itu, tambah Sri Mulyani, “sangat tergantung dengan jalan apa perkembangan kasus Covid-19 dan bagaimana pandemi ini akan mempengaruhi aktivitas ekonomi”.

Pada 25 Agustus lalu, Sri Mulyani mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi di dalam triwulan ketiga berada di kisaran 0 persen hingga -2%. Adapun untuk keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berada di kisaran -1, 1 persen hingga 0, 2 persen.

Saat tersebut, Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan minus pada kuartal III mungkin sekadar terjadi karena tingkat konsumsi asosiasi masih lemah, meski mendapat sandaran sosial (bansos) dari pemerintah.

Sri Mulyani juga mengatakan, kunci pokok untuk mengerek kinerja perekonomian dalam kuartal III adalah investasi dan konsumsi domestik.

“Kalau tetap negatif meski pemerintah sudah all out oleh sebab itu akan sulit untuk masuk ke zona netral tahun ini, ” ujar Sri Mulyani.

Dalam pengumuman pada Rabu (05/08), BPS menyatakan angka Produk Domestik Bruto pada triwulan II 2020 menyusut sebesar 5, 32%.

Penyusutan ini lebih besar sejak prediksi pemerintah dan Bank Nusantara. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi PDB di kuartal II akan jatuh -3, 8%, sementara Bank Indonesia memprediksi penurunan sebesar -4, 8%.

“Perekonomian Indonesia pada triwulan II 2020 secara y-o-y, dipadankan triwulan II 2019 mengalami kontraksi sebesar 5, 32%. Kalau kita bandingkan dengan triwulan I 2020, atau q-o-q, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II ini juga mengalami kontraksi -4, 19%, ” ujar Suhariyanto, Kepala BPS.

Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan bahwa pengurangan PDB itu berarti “situasi resesi ekonomi sudah di depan lengah. ”

“Di kuartal III kemungkinan besar kita akan resesi, kalau melihat kuartal II ini kita cukup dalam minusnya, ” kata Bhima.

“Yang perlu diperhatikan ini kan adanya penurunan tajam pada konsumsi panti tangga, karena adanya pandemi membuat masyarakat tidak yakin untuk berbelanja, dan akhirnya berpengaruh juga di dalam industri manufaktur yang turun & sektor perdagangan turun. ”

Ia mengatakan, ini adalah penurunan ekonomi tahunan Indonesia terburuk pertama sejak dihantam krisis moneter 1998—ketika itu, ekonomi Indonesia anjlok sampai minus 13, 13%.

“Resesi itu membangun dua kuartal berturut-turut [pertumbuhan PDB] kita negatif, resesi dengan sesungguhnya itu nanti ketika kita kuartal ketiga kita akan minus, ” ujar Bhima.

“Tapi itu ketika penurunannya relatif tajam dengan year-on-year, maka bisa dikatakan tersebut resesi technical, jadi secara bukti ini sudah menunjukkan adanya resesi karena penurunannya cukup tajam sebab tidak mungkin di kuartal III bisa kembali positif. ”

Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan PDB dalam kuartal I sebesar 2, 97%. Indef memprediksi bahwa penurunan di kuartal III akan sebesar -1, 7%.

Jika ekonomi mengambil resesi, para pencari kerja dalam Indonesia bisa kesulitan mencari lowongan pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan.

Pendapatan korporasi dan pelaku cara juga bisa menurun lantaran berkurangnya daya beli masyarakat, kata seorang pengamat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani telah dua kali membeberkan prediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam kuartal berjalan dan beberapa kuartal ke depan, & proyeksinya suram.

Pertumbuhan PDB pada kuartal III, yang dimulai bagi Juli, diprediksi akan tumbuh dalam kisaran 1, 4%, atau menyurut sampai minus 1, 6%.

Untuk kuartal IV, pemerintah Indonesia berniat ekonomi mulai mencatatkan pertumbuhan 3, 4%, atau paling sedikit 1%.

Jika pertumbuhan ekonomi minus pada dua triwulan berturut-turut, maka mampu dikatakan Indonesia mengalami resesi, kata pendahuluan Sri Mulyani.

“Kami harapkan dalam kuartal III dan kuartal IV (2020), pertumbuhannya bisa recover (pulih), di dalam hal ini bisa 1, 4 persen atau kalau seandainya kita dalam zona negatif, bisa sekadar minus 1, 6 persen.

“Itu yang saya sebutkan technically kita mampu resesi kalau kuartal II negatif, kuartal III nya juga negatif, maka Indonesia secara teknis bisa resesi, ” kata Sri Mulyani saat rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di dalam Senin (22/06).

Sulitnya mencari lapangan pekerjaan

Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, dampak lantaran resesi yang berpotensi paling dirasakan masyarakat adalah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, disusul dengan jatuhnya daya beli masyarakat karena berkurangnya pendapatan.

“Kenapa lapangan pekerjaan jadi suram [ditemukan]? Karena aktivitas-aktivitas ekonomi belum kembali normal.

“Kemarin dunia usaha mengatakan, begitu ada pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), karena masih harus memenuhi aturan Covid-19, maka pekerja-pekerja yang itu rumahkan tidak full 100 persen itu bisa pekerjakan kembali.

“Kemungkinan, untuk rata-rata industri, yang bisa itu pekerjakan kembali tinggal 50 obat jerih, artinya 50 persen sisanya itu, yang sudah terlanjur terdepak daripada lapangan kerja ini, mereka harus mendapatkan pekerjaan dari mana? ” kata Enny saat dihubungi BBC Indonesia pada Selasa (23/06).

Hal itu tengah dirasakan oleh Dimas Aji Pratama, yang telah kehilangan pekerjaannya di sebuah ritel kelanjutan pandemi Covid-19.

Pria berusia 24 tahun asal Purwokerto, Jawa Pusat tersebut baru bekerja selama kurang lebih dua bulan ketika dia dipanggil staf personalia untuk diberi surat Pemutusan Hubungan Kerja.

“Saya baru masuk dunia kerja, pembukaan masuk Februari, terus dapat PHK akhir April, ” kata Dimas, yang baru lulus kuliah di November tahun lalu tersebut.

Ia tidak sendiri. Rekan-rekannya sesama peserta pelatihan manajemen di sebuah amben ritel di Jakarta tersebut, dengan jumlah 42 orang, juga di-PHK secara bergiliran.

Setelah di-PHK, ia memutuskan kembali ke panti orangtuanya di Purwokerto. Setelah Lebaran, Dimas menghabiskan waktu sehari-harinya untuk melamar pekerjaan, namun hingga saat ini belum mendapat panggilan.

“[Saya sudah melamar ke] cukup banyak [perusahaan], lebih dari 20, ” kata Dimas.

“Sampai saat ini masih belum ada kabar, karena saya juga baru mulai mencari order lagi setelah Lebaran kemarin.

“Kalau saya sendiri merasanya cukup suram untuk mencari pekerjaan, apalagi hamba berdomisili di luar Jabodetabek, sebab kebanyakan perusahaan, kalau kita apply saat ini, pastinya harus ada proses interview , saya kudu berangkat dari Purwokerto ke Jakarta dan dari sisi transportasi selalu sulit. ”

Dimas kini harus mengetatkan ikat pinggang. Ia adalah tulang punggung keluarga, mengingat dia tinggal bersama ibunya yang berniaga jajanan pasar.

Usaha sang ibu memberikan Dimas inspirasi usaha jika ia masih sulit mendapatkan pekerjaan dalam beberapa bulan ke ajaran.

“Kalau misal dalam beberapa bulan ini, masih sulit untuk bergerak, kemungkinan saya mencoba buat aktif usaha. Misalnya usaha makanan, ataupun mencoba mengembangkan usaha orang sampai umur, ” kata Dimas.

Dalam resesi, para sarjana baru, atau fresh graduate , yang mencari pekerjaan untuk pertama kalinya mungkin akan sulit mendapatkannya. Itu telah diantisipasi oleh Putri Nurdivi Djamil, yang akan lulus kuliah September mendatang.

“Ketika kemarin ego ngobrol di tempat magang aku, itu agency advertising sama public relation , dua-duanya sekarang sedang hiring freeze . Bahkan intern s aja pun mereka tidak hire .

“Jadi yang seperti ini susah banget. Makanya aku juga struggling , aku belakangan ini, dalam empat tahun terakhir mengabulkan banyak hal, kita improve our skills ourselves , tapi ujung-ujungnya ini.

“Bukan karena kita tidak kompeten, tapi karena mungkin salah satu masalah yang paling kencang adalah bisnisnya selalu semakin tidak jalan, ” kata pendahuluan mahasiswi yang tengah menyelesaikan pelajaran di Jepang tersebut, tapi tidak bisa kembali ke sana karena wabah virus corona.

Putri menambahkan beban sarjana yang lulus tarikh ini lebih berat karena itu tidak hanya bersaing sesama tentara 2020, namun juga mereka yang lulus tahun lalu, seperti Dimas, yang masih mencari pekerjaan ataupun terkena PHK saat ini.

Barang apa itu resesi?

Enny Sri Hartati, direktur Indef, mengatakan bahwa ekonomi sebuah negara bisa dikatakan menemui resesi jika terjadi “penurunan ekonomi secara eksesif. ”

Enny mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia mencatatkan inflasi yang sangat rendah pada bulan Mei, hanya 0, 07 persen, lupa satu indikasi bahwa daya beli masyarakat sedang sangat jatuh.

Inflasi merupakan kenaikan harga barang-barang dan jasa yang salah satunya disebabkan oleh melonjaknya permintaan. Oleh karenanya, gaya beli masyarakat yang lemah bisa menurunkan tingkat inflasi.

Belanja vila tangga jelang Hari Raya Idul Fitri dan sepanjang Ramadan, yang tahun ini jatuh pada kamar Mei, selama ini bisa diandalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada kuartal yang mencakup bulan serta hari suci umat Islam tersebut.

Rendahnya daya beli masyarakat zaman Lebaran bisa menjadi indikasi kalau ekonomi pada periode April-Juni tak tumbuh dan justru melemah, atau minus.

Resesi akan terjadi kalau Indonesia mencatatkan pertumbuhan minus di dua triwulan berturut-turut.

“Kalau pada triwulan dua, otomatis karena ada pemberlakuan PSBB dan dampak pandemi yang telah berjalan lebih sejak dua bulan terhadap daya beli dan konsumsi rumah tangga, yang dampaknya jauh lebih besar daripada di triwulan satu.

“Maka banyak yang memberikan simulasi bahwa [pertumbuhan ekonomi] untuk triwulan perut sudah pasti minus, ” terang Enny.

“Cuma minusnya berapa, tersebut sangat tergantung dari bansos lantaran pemerintah, seberapa efektif, itu untuk menopang penurunan daya beli asosiasi.

“Tapi kalau kita lihat sejak rilis Badan Pusat Statistik [BPS] di bulan Mei, inflasi sangat rendah hanya 0, 07%, padahal ada hari awam, itu menunjukkan bahwa mitigasi di dalam hal perlindungan sosial relatif tidak efektif.

“Daya beli masyarakat betul-betul drop . Yang kedua, adalah penjualan ritel yang juga minus untuk bulan April dan Mei, sehingga itu dengan menyebabkan potensi kita menghadapi kontraksi ekonomi, kalau tidak disebut resesi atau pertumbuhan minus, itu betul besar, ” tambahnya.

Apa upaya pemerintah mengatasinya?

Juru bicara Kementerian Keuangan Rahayu Puspasari mengatakan bahwa negeri telah mencoba upaya terbaiknya biar penyaluran stimulus-stimulus dan anggaran, dengan tercakup dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar 695, 20 triliun rupiah, efektif di lapangan.

“Stimulus fiskal yang sudah dikeluarkan pemerintah, satu per satu mulai diimplementasikan, tentunya dengan berbagai semangat di lapangan, mengingat pertama, perkara [pandemi Covid-19] ini shocking , kepada kita semua, di mana kita kudu cepat-cepat menyiapkan uang dan tata kelolanya juga.

“Jadi saya taksir semua pihak mencoba at their best effort untuk melakukan hal ini, ” kata Rahayu.

Ia memasukkan, Kemenkeu telah menyiapkan tim dengan khusus memonitor dan mengevaluasi penyaluran stimulus dalam program PEN itu.

“Per tiga hari kita melakukan konsolidasi dan setiap minggu tersebut dibicarakan dengan Menkeu untuk dicarikan solusi-solusinya seperti apa.

“Ini supaya penyerapan terjadi lebih cepat dibanding anggaran yang sudah dialokasikan. Ke-2 supaya cepat sampai ke beneficiaries atau mereka yang menikmati manfaat [program] tersebut. Kita tak punya luxury time berlama-lama dan itu butuh kolaborasi bersama, ” ujar Rahayu.

Berapa lama resesi bakal terjadi?

Terakhir kali Indonesia menemui krisis ekonomi masif adalah pada krisis moneter 1997-1998. Enny Sri Hartati mengatakan Indonesia membutuhkan waktu lebih dari lima tahun buat bangkit.

“Berdasarkan pengalaman kita bertemu krisis ’97-’98 saja tidak lulus lima tahun untuk benar-benar reda. Dampak pandemi itu jauh lebih berat daripada krisis ’97-’98.

“Karena krisis ’97-’98 itu hanya kira-kira sektor yang berdampak, kali tersebut dampaknya seluruh sektor, ” kata Enny.

Meski demikian, Enny mengutarakan pemerintah nampaknya telah mengantisipasi kritis ekonomi akibat pandemi akan berlaku selama tiga tahun, jika tahu dari sikap pemerintah yang menjadikan aturan soal relaksasi defisit Perkiraan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang membolehkan defisit APBN dalam atas 3% selama tiga tahun.

Defisit APBN terjadi apabila pengeluaran negara lebih besar dari pendapatannya.

Dalam krisis ekonomi, pemerintah mungkin menggontorkan pengeluaran yang lebih besar untuk merangsang daya beli masyarakat lewat program-program seperti bantuan sosial ataupun pengurangan bunga atas cicilan nilai masyarakat.

“Artinya mereka memprediksi dalam tiga tahun minimal [ekonomi] bisa pulih, artinya ‘pulih’ itu adalah kegiatan ekonomi sudah mulai normal.

“Tapi kalau reda yang benar-benar mampu untuk akselerasi [pertumbuhan] dan sebagainya, itu tergantung pada respon kebijakan perbaikan ekonomi selama 2-3 tahun [ke depan] ini, ” nyata Enny.

Artikel ini diperbarui pada Rabu (05/08), setelah Lembaga Pusat Statistik menyatakan angka Keluaran Domestik Bruto pada triwulan II 2020 menyusut sebesar 5, 32%.