Mengapa Trump yang biasanya mencari cahaya kamera justru ‘menghilang’ pada hari-hari terakhirnya sebagai presiden?

Mengapa Trump yang biasanya mencari cahaya kamera justru 'menghilang' pada hari-hari terakhirnya sebagai presiden?
  • Imbangan McKelvey
  • Reporter BBC News di Gedung Putih

trump, pemilu amerika

Mengapa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak banyak berbicara pada publik akhir-akhir ini? Ia merupakan sosok yang senang disorot. Namun selama 14 hari terakhir Trump tidak keluar dari Gedung Suci.

Inilah bagaimana Trump mema minggu-minggu terakhir di masa jabatannya.

Seorang Marinir AS, mengenakan sarung lengah putih dan topeng gelap, membentengi pintu masuk ke Sayap Barat awal pekan lalu. Trump zaman itu tengah berada di kawasan kerjanya yang biasa disebut jadi Oval Office.

Namun Trump tidak berperan dalam pekerjaan yang biasanya dikerjakan seorang presiden AS pada simpulan jabatan mereka.

Empat tahun lulus, Trump datang ke Oval Office. Ia menerima nasihat dari Barack Obama, presiden AS ke-44 dengan akan dia gantikan kala tersebut.

Sebaliknya, saat ini Trump malah mengeluhkan hasil pilpres dan kerap menonton siaran televisi. Itu terlihat dari sejumlah cuitannya di Twitter.

Hari-hari Trump yang diisi dengan cara mengasingkan diri setelah pilpres itu sangat kontras dengan yang ia lakukan sebelum pemungutan suara.

Saat itu, Trump sering bepergian. Dalam mulia hari, dia pergi ke empat negara bagian. Trump berbicara di dalam kampanye umum dan terlihat dalam TV hampir sepanjang waktu.

Trump sering bercanda tentang sikap mati dari saingannya, Joe Biden, ataupun “Joe Basement”, begitu Trump memanggil Biden.

Presentational white space

Sejak Biden dinyatakan menang, Trump menjatuhkan di Gedung Putih. Trump menjelma di depan kamera hanya dalam dua kesempatan, yaitu di Pemakaman Nasional Arlington dan saat bertemu pers terkait Covid-19. Dalam dua peristiwa itu, ia tidak menjawab pertanyaan jurnalis.

Trump juga sempat menonjol, Jumat (20/11), ketika mengumumkan kebijakan harga obat. Hari itu ia sebenarnya juga dijadwalkan mengambil arah dalam pertemuan puncak isu kebijakan Asia-Pasifik.

Trump juga tidak bisa membekukan diri untuk menyambangi para pendukungnya yang berkumpul untuk memprotes buatan pilpres di Washington, Sabtu kemarin.

Dan pada akhir pekan ini, Trump melakukan perjalanan ke Virginia untuk bermain golf. Inilah wadah di mana ia merasa aman dan dicintai.

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Walau mayoritas aktivitasnya kini tertutup dari sorotan publik, Trump tetap sibuk. Ia mengikuti One America News Network, saluran televisi kabel konservatif yang dikenal gemar menyiarkan konspirasinya.

Trump belum lama ini juga memecat orang, yaitu Menteri Pertahanan Mark Esper serta Christopher Krebs, pejabat di bidang keamanan siber.

Esper belakangan ini menolak saran Trump agar mengerahkan pasukan untuk memadamkan protes dalam berbagai kota. Adapun Krebs berselisih paham dengan Trump soal manipulasi pilpres.

Trump juga terpantau mengawasi perubahan kebijakan, seperti pengurangan pasukan militer AS di Afghanistan dan Irak.

Bermacam-macam kebijakan ini, yang dilakukan dengan tertutup di Gedung Putih, bakal berefek panjang pada AS dan negara lainnya. Ini tentu mau memperumit Biden saat dia menjemput alih jabatan presiden Januari kelak.

Selain beberapa langkah dramatis ini, Trump memantau pekerjaan para pengacaranya yang tidak begitu berhasil menggugat buatan pilpres.

Menurut beberapa orang yang mengenal Trump, karena gugatan yang sedang bergulir itulah dia tak menonjolkan diri belakangan ini.

“Trump mencoba membiarkan gugatan hukum bermain sendiri, ” kata Kurt Volker, yang sudah menjabat sebagai utusan khusus pemimpin untuk Ukraina dan bersaksi pada upaya pemakzulan Trump oleh DPR yang dikendalikan Demokrat.

Ketika menggulirkan gugatan hukum pilpres, Trump menuduh lawan politiknya sebagai “Demokrat Kiri Radikal” yang ikut campur dalam pilpres.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Ini mencerminkan gaya pemimpin.

Trump, seperti yang dikatakan Volker, mengganggap berbagai hal sebagai serangan pribadi. Volker ingat pernah berbicara dengan Trump di Gedung Putih mengenai kebijakan AS di Ukraina dan masalah lainnya.

Selama diskusi mereka, logat Volker, Trump berbicara seolah-olah orang-orang ingin memakzulkannya.

“Dia berkata itu mencoba menjatuhkannya, siapa pun itu. Dia merasa seperti memperjuangkan hal-hal yang ia yakini dan kalau orang-orang bersekongkol melawannya, ” kata pendahuluan Volker.

Dalam beberapa pekan terakhir, para kritikus Trump cemas karena dia menolak membantu transisi pemerintahan.

“Sungguh situasi yang tragis melihat objek seperti ini. Dia mendahulukan hajat dirinya ketimbang urusan rakyat Amerika, ” kata Lawrence Korb, dengan menjabat sebagai asisten sekretaris pertahanan di era pemerintahan Ronald Reagan.

“Bahkan jika ia menolak hasil pilpres, ia semestinya tetap bisa mengiblatkan orang-orang Biden dan menyiapkan itu. ”

Namun, pendukung Trump tetap menyayangi kepadanya. Jutaan orang di segenap AS memiliki pandangan yang sesuai dengannya. Hampir tiga perempat sebab anggota dan simpatisan Partai Republik, menurut sebuah jajak pendapat, meragukan kemenangan Biden.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Sementara itu, banyak dari mereka yang berfungsi di Gedung Putih terlihat berserah pada nasib mereka dan bersiap menyongsong pemerintahan baru. Meja pada Sayap Barat Gedung Putih tampak rapi.

Beberapa bagian kantor sudah dekat dibersihkan. Seorang staf membawa papan buletin dengan kenang-kenangan dari Gedung Putih, yang lainnya membawa sekotak coklat.

“Kami akan pergi bersuka-suka, ” kata seseorang kepada beta sambil bergegas.

Seorang mantan pejabat Gedung Putih, ahli kebijakan luar jati yang masih bekerja untuk negeri, mengatakan dia dan rekan-rekannya hanya menunggu akhir masa jabatan Trump.

“Tidak banyak yang bisa kami kerjakan kecuali menonton bagaimana pemerintahan ini dikendalikan, ” katanya.