Mahasiswi Papua: ‘Hinaan rasis’ dan semangat membanggakan Papua ‘lebih besar’ lantaran cercaan, ‘ih ada orang hitam, kok bisa sampai Amerika’

Mahasiswi Papua: 'Hinaan rasis' dan semangat membanggakan Papua 'lebih besar' lantaran cercaan, 'ih ada orang hitam, kok bisa sampai Amerika'

Sejumlah mahasiswi Papua yang tengah menempuh studi di luar negeri mengatakan demonstrasi antirasisme, menyusul kematian George Floyd di Amerika Serikat, perlu dijadikan momentum untuk membuka mata semua pihak bahwa rasisme masih terjadi dan perlu ditangani.

Para mahasiswi ini bercerita pengalaman mereka tunggal menghadapi cercaan dan tindakan rasis, baik di Indonesia ataupun pada tempat mereka menempuh studi.

Video George Floyd, adam kulit hitam yang ditindih lehernya dengan lutut petugas polisi indra peraba putih – kondisi yang menyebabkannya meninggal – menyebar cepat dan memicu aksi unjuk rasa besar di banyak kota Amerika Konsorsium dan sejumlah negara.

Demonstrasi yang mengangkat Black Lives Matters ini diangkat aktivis Papua, termasuk Veronica Koman dengan tagar Papuan Lives Matters untuk yang disebutnya “membangkitkan kesadaran untuk menghentikan rasisme kepada orang kulit hitam, termasuk dalam masyarakat Papua”.

Di Australia, demonstrasi mengangkat hak warga asli Aborigin.

Seorang mahasiswi asal Papua, Florida Nasategay, yang tengah mengambil S2 di bidang teknik pertambangan dalam Universty of Nevada, Reno, sempat menyaksikan protes antirasisme di kota Amerika Serikat tersebut, demonstrasi dengan mengingatkannya atas ucapan rasis dengan pernah ia alami.

“Ada yang pernah bilang “di Papua sudah ada mobil ya? Di sana sudah pakai baju? Dalam sana masih makan manusia? Orang Papua kok bisa sampai pada sini (Amerika)? Cantik ya buat ukuran orang Papua, ” kata Florida yang mendapatkan beasiswa untuk studi di Amerika sejak 2012 setelah lulus dari SMA pada Jayapura.

“Tindakan rasial bukan cuma datang dari sesama orang Indonesia tetapi juga dari orang Amerika… ada yang tidak mau duduk di samping aku di transportasi umum walaupun sepi, ada yang langsung memegang kampit, saat saya berada di depan mereka dan lain sebagainya. ”

Namun ia menambahkan “banyak keluarga dan teman-teman lantaran Indonesia yang memperlakukan saya dengan baik, sebagai sesama orang Indonesia”

‘Ih ada karakter hitam… kotor, bodoh dan hinaan-hinaan lain’

Theresia Wellung, mahasiswi asal Mimika, Papua yang tengah melanjutkan studi bidang computer science di Oregon, juga mengalami hal sejenis.

“Saya dan teman-teman seperantauan sudah tidak asing lagi dengan rasisme. Saya sendiri sudah ditanya waktu tinggal di Jawa, ‘Di Papua ada TV n g gak ? Di Papua pakai baju? ‘, ‘Kalau di Papua, presidennya sama atau nggak? ‘, ‘Orang Papua mukanya sama semua ya’, ” rencana Theresia yang biasa disapa Desty tersebut.

“Jujur saya jengkel mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tapi di lain sisi aku juga sangat prihatin karena ternyata di pulau semaju ini orang-orangnya tidak semaju yang saya pikirkan, ” katanya kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Desty mengatakan demonstrasi antirasisme yang terjadi menyusul kematian George Floyd perlu dijadikan momentum buat menghilangkan perlakuan rasis.

“Kalau di Amerika sebutan buat grup ini adalah white supremacists . Sayangnya penuh orang di Indonesia juga menyerupai white supremacists terhadap orang kulit hitam di negara sendiri, orang Papua atau daerah timur lainnya.

“Mereka menilai kulit hitam berarti jelek, kotor, bodoh, letak di pohon dan hinaan-hinaan lainnya. Nah, pemikiran-pemikiran seperti ini dengan harus dibasmi cukup sampai generasi ini saja, ” kata Desty yang mendapat beasiswa sejak SMA dan sudah ikut dalam Olimpiade Sains Nasional.

Mahasiswi lain yang tengah melanjutkan studi untuk gelar sarjana di Aachen, Jerman, Erlince Magai, juga sudah mengalami tindakan rasis di Jakarta dan kota tempat dia menempuh studi.

“Waktu saya ke Jakarta liburan bersama sepupu lagi menunggu jemputan pada sore hari di depan pintu keluar Monas, ada seorang anak kecil sekitar lima tahun melihat saya & berkata ‘ih ada orang hitam”.

“Saya saja senyum tetapi yang bikin aku marah adalah si ibunya tak melakukan apa-apa cuma ketawa. Dalam sni saya bisa menyimpulkan bahwa tidak ada pendidikan dini yang baik dari si ibu, ” kata Erlince, mahasiswi yang bermula dari Timika.

Sementara di Aachen, Jerman, ia berkisah saat pembagian grup ketika kongres di kampus, ada sejumlah mahasiwa “yang tidak mau berkelompok dengannya”.

“Itu juga ialah tindakan rasisecara tidak langsung. ”

Indonesia ‘masih dalam proses’

Unjuk mengecap menentang tindakan rasis juga menerjang sejumlah kota di Papua, tercatat Manokwari pada Agustus tahun berarakan.

Dua orang prajurit TNI yang saat itu dituding mengucapkan kata-kata rasis pada depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, diskors dan dibawa ke mahkamah militer. Sandrayati Moniaga, pengantara ketua Komnas HAM mengatakan Nusantara masih dalam proses menerima kedamaian.

“Indonesia secara formal mengakui adanya keragaman, ini telah jelas bahkan Indonesia juga sudah menetapkan undang-undang penghapusan diskiriminasi ras dan etnis. Artinya Indonesia mengiakan adanya diskrimnasi ras dan etnis. Tapi bagaimana ini dilaksanakan ini yang masih berjalan, masih pelan-pelan berjalan, ” kata Sandrayati.

Namun kata Sandrayati, situasi ini “tidak mudah, karena memang ada banyak perspektif masing-masing karakter masih sangat kuat pada keseragaman. Untuk jadi suatu bangsa pada mana seluruh warganya dapat mentolerir keragaman yang ada, kita sedang dalam proses”.

BBC News Indonesia menghubungi sejumlah pekerja khusus presiden, termasuk Lenis Kogoya, terkait isu rasisme namun tempat menyatakan belum mau berkomentar.

Tetapi Hilmar Farid, Direktur Jendral Kebudayaan, mengatakan melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pihaknya menyelenggarakan sejumlah acara melibatkan anak-anak muda dari seluruh provinsi, seperti Kemah Budaya, untuk menekan rasisme.

“Itu satu diantara tujuannya [menekan rasisme]. Kami melihat bahwa silih pengertian timbul bukan hanya dengan memperkenalkan perbedaan tapi mendorong persekutuan di antara berbagai elemen yang berbeda, ” kata Hilmar.

“Selama ini terbukti ketika orang dipersatukan oleh tujuan bersama maka perbedaan lebih mudah dikomunikasikan atau dinegosiasikan. Jadi tanpa harusecara eksplisit menyebut keragaman sebagai bercak tolak sekaligus tujuan, kegiatan-kegiatan diciptakan dalam kerangka tersebut, ” tambahnya.

Mahasiswi Papua dengan pernah menghadapi ucapan rasis itu menyatakan harapan agar semakin banyak orang yang mau belajar topik rasisme agar masalah ini tak terjadi lagi.

‘Susah maju, kalau rasisme masih ada’

“Saya rasa Indonesia hendak susah maju kalau rasisme sedang ada. Kami tidak akan pernah merasa punya persaudaraan dengan orang Indonesia non-Papua kalau kami tak diperlakukan setara, ” kata Desty.

Sementara Erlince mengatakan kematian George Floyd serta demosntrasi yang terjadi membuka peluang bagi orang-orang Papua ikut berbahasa.

“Dan semoga teman-teman di Indonesia terbuka matanya kalau rasisme masih terjadi dan kita perlu berbuat sesuatu, ” katanya.

Voni Blesia yang sudah menyelesaikan gelar doktoral dalam bagian l ife s ciences secara peneltian tentang kelebihan zat besi di Universty of Westminster, London, belum pernah mengalami ucapan rasisecara langsung.

Namun ia menilai unjuk rasa antirasisme ini dapat dijadikan landasan untuk berdiskusi dan mencari solusi.

“Ada begitu banyak pihak dengan mengalami tekanan yang mana berdampak pada aspek sosial, ekonomi, makin kesehatan dan aspek-aspek penting lainnya, ” kata mahasiswi asal Timika ini.

“Kita perlu sekali mendiskusikan hal ini secara tujuan mengedukasi generasi saat itu agar sadar dengan isu tersebut. Kita perlu mengartikulasi permasalahan tersebut dengan mendiskusikan akar permasalahan dan mencari solusi, ” tambahnya.

Florida juga menyuarakan peristiwa senada dengan menyatakan isu rasisme “bisa ditiadakan kalau banyak orang Indonesia bersedia untuk belajar & berdiskusi setelah mempelajari topik-topik tersebut”.

Semangat lebih luhur untuk membanggakan Papua

Meskipun merasa “marah” karena hinaan rasis masih terjadi di abad ke-21, Florida mengatakan, “Keinginan saya untuk membanggakan keluarga dan Papua lebih besar dari komentar-komentar tersebut. Memang ada rasa kecewa sedikit, tetapi harus bisa bangkit lagi dan tetap melangkah maju. ”

Salah satu mimpi terbesarnya, kata Florida, adalah membentuk “sekolah kepemimpinan gratis di beberapa kota di Papua, sebagai ekstrakurikuler untuk siapa saja yang ingin melancarkan tanpa ada batasan umur”.

Desty, yang menyatakan “berasal dari keluarga pas-pasan” dan menikmati banyak tantangan dan kesulitan selama studi di Amerika, mengatakan mimpinya adalah “mengabdi di tanah Papua”.

“Saya mau Papua bangkit bukan hanya dalam jurusan pembangunan, tapi juga edukasi, wisata, ekonomi, teknologi, gaya hidup, jalan berpikir dan masih banyak lagi. Saya ke Amerika untuk bersekolah tentang c omputer s cience , tapi saya mau kembali secara banyak pengalaman di bidang asing juga, salah satunya dalam bisnis. ”

“Banyak sekali kendala yang saya dan teman-teman di luar negeri rasakan sebab tidak mendapat uang tepat di dalam waktunya. Saya sudah pernah rasakan punya akun bank negatif, tidak bisa beli makan, tidak bayar sewa tiga bulan, sampai numpang di apartemen teman. Sangat sulit juga untuk orang tua membangun karena gaji ayah saya tak seberapa dan itu pun di dalam rupiah. ”

“Tapi saya tetap bersyukur karena kerasnya hidup di Amerika sudah ajarkan saya tentang kerja keras. Di beberapa tahun ke depan beta ingin terlibat dalam gerakan-gerakan anak muda Papua yang punya tujuan sama seperti saya. Saya pula mau belajar dari teman-teman dengan selama ini ada secara fisik di Papua dan saya selalu mau bagikan ke mereka apa yang saya pelajari dari sungguh.

“Saya membenarkan dengan sistem crowdsourcing di Papua, tingkatan muda bisa mengoptimalkan daya itu untuk memajukan Papua. ”

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Bagi Voni Blesia, yang ingin segera ia ingin kerjakan, membuat berbagai video pendek terkait informasi kesehatan, terkait gelar doktor yang baru diraihnya.

“Saya ingin membuat video-video hina yang berisi informasi bersifat edukasi dalam bidang kesehatan dan membuat kerja sama dengan paramedis untuk menciptakan wadah yang dapat menyediakan informasi kesehatan kepada masyarakat daripada berbagai status, ” tutup Voni.