Kekosongan stok vaksin di wilayah: Cerita kesulitan warga mendapatkan vaksin, ‘Empat kali jadwal, semua ditolak’, apa hambatannya?

kekosongan-stok-vaksin-di-daerah-cerita-kesulitan-warga-mendapatkan-vaksin-empat-kali-daftar-semua-ditolak-apa-hambatannya-18

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Beberapa daerah mengeluhkan kekosongan stok vaksin, dengan berakibat pada terganggunya upaya mencapai target pemerintah melangsungkan dua juta vaksin mulai hari pada Agustus itu.

Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan vaksin dosis kedua, bahkan ada yang 3 kali mendaftar namun segenap ditolak.

Kelangkaan itu, taat epidemiolog dari Universitas Indonesia, disebabkan oleh penggunaan vaksin yang tidak tepat bahan.

Vaksinasi juga, menurut epidemiolog dari Universitas Airlangga, tak bisa dijadikan satu-satunya senjata utama dalam meredam penyaluran Covid-19 karena bergantung di vaksin dari luar jati, efikasi vaksin yang rendah, dan juga varian virus corona yang semakin kritis.

Baca juga:

Bersandarkan data dari Satgas Covid-19 per Selasa (03/08), total mereka yang divaksin berantakan untuk dosis pertama & kedua – berjumlah mutlak kurang dari satu juta. Jumlah total mereka yang divaksin sejauh ini, untuk dosis pertama dan ke-2, lebih dari 68 juta.

Terkait dengan kekosongan itu, Satgas Penanganan Covid-19 mengucapkan pemerintah terus bekerja keras untuk menambah pasokan vaksin dan menjamin agar setiap masyarakat dapat menerimanya.

Gajah Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Senin lalu (02/08), Nusantara akan mendapatkan sebesar 331 juta dosis vaksin tenggat Desember mendatang.

Total itu, ujar Budi, lulus untuk diberikan pada sekitar 200 juta warga serta ia meminta kepada kawasan untuk tidak khawatir akan potensi kehabisan stok vaksin.

Sumber gambar, Antara Memotret

Cerita dari Surabaya: ‘kekosongan vaksin dan ketidakpastian jadwal vaksinasi’

Ketersediaan vaksin di Surabaya, Jawa Timur kembali kosong untuk kesekian kalinya. Penyelenggaraan vaksinasi jumlah kedua untuk warga pula kembali tersendat.

Kasno, warga kawasan Pakis, Surabaya, mendatangi Puskesmas untuk menanyakan jadwal vaksinasi dosis kedua, Selasa (03/08).

Datang saat ini, setelah vaksinasi pertama sebulan kemarin, dirinya belum mendapat informasi agenda vaksinasi kedua dari unit RT/RW domisilinya.

Sesampainya di lokasi, Kasno pulang dengan tangan hampa.

Sumber gambar, Antara Foto/Prasetia Fauzani

Seorang tenaga kesehatan yang tengah bertugas menyampaikan, stok vaksin sedang hambar dan tidak dapat mengambil kapan vaksin dosis ke-2 dapat dilaksanakan.

“Jadi waktu itu (vaksin pertama) ada jadwal, saya mendaftarkan jadwal. Ya sekarang saya memastikan lagi butuh nek ada kan bisa izin kantor, ” ujar Kasno kepada Roni Fauzan, wartawan di Surabaya yang mengadukan untuk BBC News Nusantara.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengaku, kekosongan terjadi karena jumlah vaksin dengan diberikan oleh pusat terpatok dan cepatnya proses vaksinasi.

“Kemarin ada tambahan vaksin sekitar 9. 075 [dosis] untuk vaksin Sinovac, yang akan kita gunakan untuk dosis ke-2 yang dalam waktu sehari atau dua hari tepat habis, ” ungkap Wali Kota di depan warga media, Selasa pagi (3/8).

Eri Cahyadi, berharap negeri pusat memberikan pasokan dengan lebih besar untuk Surabaya.

Sumber gambar, Antara Memotret

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Timur, Makhyan Jibril Al Farabi, membantah jika di wilayahnya kehabisan stok vaksin.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Senin kemarin, (02/08), simpanan vaksin di Jawa Timur sebanyak 908. 798 dosis yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

“Lalu tadi pagi kita kedatangan lagi, itu memang (vaksinnya sedang) kita total lagi, ” ujar Makhyan Jibril.

Mahkyan meminta, vaksinasi di Jatim selama PPKM berlangsung cepat. Tanah air Surabaya adalah daerah dengan termasuk dari lima tinggi kabupaten/kota di Jatim secara proses vaksinasi cepat.

Selain Surabaya, wilayah teratas vaksinasi adalah Kota Mojokerto 93%, Kota Kediri 62, 41%, Kota Blitar 52, 71%, dan Kabupaten Jombang 54, 51%.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA

Cerita dari Samarinda: ‘Empat kali mendaftar, semua ditolak’

Mendapatkan vaksin bukan mengenai mudah. Dua warga pada Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), terus mengalami penolakan, real vaksin kini telah menjelma “kebutuhan wajib” setiap orang.

Indah Fia Silfiana, 21 tahun, mengaku sudah empat kali mendaftar vaksinasi sejak Juni lalu. Tetapi hingga kini, tidak tersedia yang membuahkan hasil.

“Pertama dan kedua ikut yang disuruh sama Pak RT, itu dua hari berturut-turut, tapi tidak dapat kuota, ” ungkap Peduli kepada wartawan Lamanele pada Samarinda, Selasa (03/08).

Sesudah itu, Indah mendaftar vaksinasi di Big Mall Samarinda “dan juga enggak bisa karena kehabisan kuota juga, ” terang dia.

Selanjutnya, ia mendaftar keempat kali dari kampus dan had kini belum ada informasi.

Pengalaman yang sama juga dirasakan Sophie Ruwa Hayati Ananda Polanagau, 22 tahun, yang telah mendaftar vaksin secara online pada Juni lalu namun gagal sebab kuota penuh.

Sophie kemudian mencoba mendaftar vaksin teristimewa untuk mahasiswa yang diadakan kampusnya, pada 26 Juli lalu dan hingga kini menunggu giliran.

“Sudah terdaftar namum belum ada program kapan akan divaksin. ” Kata dia.

Besar Dinas Kesehatan Kaltim, Padilah Mante Runa mengaku stok vaksin di Kaltim menemui kekosongan sejak dua kamar terakhir.

Sumber gambar, Antara Foto

Sekretaris Kawasan Kaltim Muhammad Sabani mengucapkan hingga kini realisasai vaksin diwilayahnya baru 17% yang disebabkan oleh jumlah vaksin yang kurang.

“Memang sejak awal vaksin payah. Bahkan ada yang sudah harusnya dapat vaksin kedua, tapi belom bisa diberikan karena stok kosong. Jadwal datang bulan ini pas banyak, ” katanya.

Mengutip data Satgas Covid-19 Kaltim, total target penyambut vaksin di Kaltim mencapai sekitar 2, 8 juta namun, hingga Selasa (03/08), realisasi dosis pertama hanya 17% dan dosis ke-2 baru 11% dari target.

Cerita dari Medan: “Vaksin penting untuk pekerjaan saya’

Andi Rambe, seorang pelaku swasta, merupakan satu dalam antara warga Kota Kawasan, Sumatera Utara, yang cukup kesulitan mengakses vaksin.

Beberapa hari lalu, Andi menyambangi Puskesmas di sekitar kediaman. Tapi stok vaksin saat itu kosong jadi dia disarankan menunggu.

Bagi Andi, vaksin bukan cuma upaya untuk memperkecil efek paparan. Namun, berbagai kejadian kini menjadikan sertifikat vaksin sebagai suatu syarat, kaya untuk melakukan perjalanan jauh.

“Karena kebetulan kan saya wiraswasta, pekerja lepas, oleh karena itu saya sangat butuh seluruhnya ketika ke luar kota saya melakukan pekerjaan kaya naik kereta api, itu mesti menunjukkan sertifikat vaksin, ” kata Andi kepada wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Selasa (03/08).

Sumber gambar, Antara Foto/Prasetia Fauzani

Kepala Puskesmas Simalingkar, Kota Medan, Roosleyn Bakkara, membenarkan bahwa stok vaksin dalam tempatnya sudah kosong semenjak dua pekan.

“Stok vaksin di Puskesmas benar tidak ada sementara akan tetapi mudah-mudahan minggu ini sudah ada, ” kata Roosleyn.

“Kami sampaikan ke umum bahwa vaksin tahap ke-2 diundur sampai ada vaksin, ” katanya.

Kota Medan, Sumatera Utara, merupakan utama di antara sederet daerah dengan sempat mengalami kelangkaan simpanan vaksin.

Pada Rabu (28/07) lalu, stok vaksin Dinas Kesehatan Kota Medan tersisa 150 dosis. Tak lama berselang, pemerintah induk mengirim ratusan dosis vaksin.

Pelaksana Tugas Besar Dinas Kesehatan Pemprov Sumatera Utara Aris Yudhariansyah meminta stok dan penyaluran vaksin berjalan lancar.

Pemberian vaksin yang ‘salah sasaran & mustahilnya herd imunity’

Kelangkaan stok vaksin di kawasan, menurut epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko, disebabkan salah satunya karena penggunaan vaksin yang tak tepat sasaran.

“Kesalahannya sebab prioritasnya salah, banyak ngawur -nya, untuk pelayanan publik bahkan dikasih ke pasar-pasar, serta sekolah-sekolah. Sudah salah pemahaman, ke bawah-bawah salah semua, kacau semua. Kalau sejenis ya habis vaksinnya yang terbatas, ” kata Yunis.

Menurutnya, bagi kelompok yang tidak bekerja jadi pelayan publik dan sektor esensial yang belum memerlukan vaksin, harus menjalankan implementasi protokol kesehatan yang erat.

“Penerapan protokol kesehatan dengan UU dan azab yang tegas, sambil meningkatkan jumlah vaksin dan menyerahkan bagi pekerja prioritas & kemudian ke masyarakat umum, ” kata Yunis.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH

Langkah tersebut, taat Yunis akan memaksimalkan penerapan vaksin dan menurunkan level penularan Covid-19.

Selaras, epidemiolog dari Universitas Airlangga Windhu Purnomo, meminta pemerintah mengedepakan pengetesan dan penelaahan kontak ( testing dan tracing ) sebagai strategi penanganan Covid, dibandingkan dengan mengandalkan vaksinasi untuk menciptakan herd immunity .

“Vaksinasi sebagai pelengkap sebab yang utama adalah testing dan tracing karena berpunya memutus penyebaran, ” kata pendahuluan Windhu.

Windhu membaca, vaksinasi tidak bisa menjadi strategi andalah karena 3 hal, pertama ketergantungan vaksin dari luar negeri, efikasi vaksin yang rendah, & juga varian virus corona yang semakin berbahaya.

Satgas Covid: ‘Pemerintah bekerja keras’

Terkait dengan kekosongan tersebut, juru bicara Satgas Pengerjaan COVID-19 Wiku Adisasmito, mengutarakan pemerintah terus bekerja berpenat-penat untuk menambah pasokan vaksin dan menjamin agar setiap masyarakat dapat menerimanya.

“Pemerintah telah melakukan sejumlah jalan untuk menambah jumlah vaksin dari luar daerah untuk dikirimkan ke Indonesia, serta akselerasi proses mengkonversi vaksin menjadi vaksin dengan siap disuntikkan, ” kata Wiku.

Sumber gambar, Kurun Foto/Aprillio Akbar

Sejauh ini, tambah Wiku, vaksinasi masih diprioritaskan terlebih dahulu untuk daerah dan populasi rentan, dan secara pararel mengejar cakupan yang luas secara nasional.

Gajah Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada Senin (02/08) mengucapkan, vaksin akan mengalami penggandaan sebesar 331 juta maka Desember mendatang dan meminta daerah untuk tidak kacau akan potensi kehabisan stok vaksin.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan tubuh Siti Nadia Tarmizi mengucapkan, hingga awal Agustus, Nusantara telah menerima 150 juta dari 426 juta dosis vaksin yang dibutuhkan.

Dalam Agustus ini, pemerintah menetapkan dua juta vaksinasi di dalam sehari.