Iran bersumpah untuk ‘membalas serbuan Israel’ terhadap fasilitas nuklir yang disebut target ‘terorisme’

iran-bersumpah-untuk-membalas-serangan-israel-terhadap-fasilitas-nuklir-yang-disebut-target-terorisme-4

Ilustrasi teknisi bekerja di fasilitas nuklir Iran

Sumber gambar, EPA

Menteri sungguh negeri Iran mengatakan negaranya akan “membalas dendam” pada serangan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah di Natanz, yang dituduhkan kepada Israel.

Para pejabat Iran mengatakan fasilitas pengayaan uranium itu menjadi target “terorisme nuklir” pada hari Minggu, setelah awalnya melaporkan beku listrik.

Mesin sentrifuga canggih baru untuk memperkaya uranium baru saja diaktifkan dalam fasilitas tersebut.

Israel belum berkomentar, tetapi radio jemaah mengutip sumber-sumber intelijen dengan mengatakan serangan ini ialah operasi siber Mossad.

Sumber-sumber intelijen mengatakan serangan ini telah menjadikan kerusakan yang lebih parah daripada yang dilaporkan Iran.

Pejabat intelijen AS mengucapkan kepada surat kabar New York Times bahwa ledakan besar telah menghancurkan mutlak sistem daya internal mandiri yang memasok sentrifuga pada dalam fasilitas bawah desa itu.

Mereka memperkirakan menetapkan setidaknya sembilan bulan pra pengayaan uranium di sana dapat kembali dilakukan.

Di dalam beberapa hari terakhir, Israel menggencarkan peringatannya tentang agenda nuklir Iran di tengah upaya untuk membakar kata sepakat nuklir tahun 2015 yang dihentikan oleh mantan Kepala Amerika Serikat, Donald Trump.

Pengganti Trump, Joe Biden, mengatakan dia ingin kembali bergabung dengan kesepakatan penting itu.

Tetapi Iran serta lima kekuatan dunia asing yang masih menjadi arah dari kesepakatan – China, Prancis, Jerman, Rusia, serta Inggris – perlu menjumpai cara supaya Biden sanggup mencabut sanksi AS & membuat Iran kembali ke batas yang disepakati di dalam program nuklirnya.

line

Sekilas tentang krisis nuklir Iran

  • Kekuatan-kekuatan dunia tidak mempercayai Iran : Beberapa negara percaya Iran menginginkan tenaga nuklir karena ingin membuat peledak nuklir – Iran membantahnya.
  • Oleh karena itu, dicapailah kesepakatan: Pada 2015, Iran & enam negara lainnya menandatangani kesepakatan besar. Iran hendak menghentikan beberapa pekerjaan nuklir dengan imbalan berakhirnya penalti keras, atau sanksi, dengan merugikan ekonominya.
  • Apa masalahnya saat ini? Iran mengasaskan kembali pekerjaan nuklir dengan dilarang setelah mantan Kepala AS Donald Trump menjadikan diri dari kesepakatan serta memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran. Meskipun presiden hangat Joe Biden ingin bersepakat kembali, kedua belah bagian mengatakan bahwa pihak lain harus mengambil langkah baru.

line

“Zionis ingin membalas dendam sebab kemajuan kami dalam cara untuk mencabut sanksi, ” Menteri Luar Negeri Iran Muhammad Javad Zarif laksana dikutip oleh media pemerintah, Senin (12/04).

“Mereka telah secara terbuka mengatakan bahwa mereka tidak akan menyetujui ini. Tetapi kami bakal membalas dendam kepada Zionis. ”

Juru bicara kementerian luar negeri Said Khatibzadeh kemudian berkata dalam bertemu pers di Teheran bahwa Israel “tentu saja” tersedia di balik serangan terhadap Natanz.

“Peristiwa ini untungnya tidak menimbulkan kerusakan dalam kehidupan manusia atau lingkungan. Namun, bisa menjadi kesusahan. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan dan melakukan tindakan itu sejalan dengan esensi rezim Zionis, ” dia berkata.

Khatibzadeh mengatakan hanya sentrifugal yang paling tidak efisien “IR1” yang rusak dalam insiden itu, dan ia akan diganti dengan yang lebih canggih.

Uranium dengan diperkaya dibuat dengan menancapkan gas uranium heksafluorida ke dalam sentrifuga untuk menyekat isotop yang paling sesuai untuk reaksi fisi nuklir, disebut U-235.

Kesepakatan nuklir 2015 hanya membolehkan Iran menggunakan sentrifuga IR1 buat menghasilkan uranium yang diperkaya dalam jumlah terbatas, yaitu hingga konsentrasi 3, 67%, yang dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar buat pembangkit listrik tenaga nuklir komersial. Uranium yang diperkaya hingga 90% atau bertambah dapat digunakan untuk mewujudkan senjata nuklir.

Iran, dengan bersikeras tidak menginginkan senjata nuklir, membalas pemberlakuan kembali sanksi oleh pemerintahan Trump dengan membatalkan komitmen istimewa dalam perjanjian tersebut.

Itu antara lain telah mengoperasikan sentrifuga canggih, melanjutkan pengayaan hingga konsentrasi 20%, dan menimbun bahan tersebut.