‘Indonesia jadi episentrum penularan Covid di dunia’, apa bagian pemerintah?

indonesia-jadi-episentrum-penularan-covid-di-dunia-apa-langkah-pemerintah-10

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Pemerintah membuktikan sudah menyiapkan skenario kejadian terburuk ( worst scase scenario ) lonjakan kasus dan mengantisipasi apabila kasus penularan harian Covid di Indonesia terangkat sampai 100. 000.

Namun kalangan epidemiolog yakin kasus Covid kini sudah lebih banyak. Seorang epidemiolog bahkan menyebut Nusantara kini jadi episentrum penularan Covid, tidak hanya pada Asia namun di negeri.

Mereka menyarankan apabila transmisi sudah sebanyak itu oleh karena itu perlu pengendalian yang bertambah ketat, seperti lockdown dengan disertai pengetesan ( testing ) dengan masif.

Penularan Covid di Indonesia pun terus mencetak rekor. Pada Kamis (15/07) terdapat 56. 757 kasus baru, sehingga total penularan sebesar 2. 726. 803, ungkap data Satgas Penanganan Covid-19.

Di sisi lain, masyarakat yang menderita Covid biar hingga kini masih pengganggu mendapat perawatan yang mulia. Seperti dialami satu anak yang semua anggotanya mengidap Covid selama dua pekan namun tidak bisa dirawat di rumah sakit & terpaksa isolasi mandiri dalam rumah.

Padahal seorang dari mereka sudah bergejala sedang dengan saturasi oksigen di bawah normal.

Lebih dari 100. 000 kasus

Sumber gambar, Anadolu Agency via Getty Images

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk jika kejadian penularan terus naik.

“Kalau kita bicara worst case scenario , untuk 60. 000 [kasus] atau bertambah sedikit kita masih pas oke. Ya kita tak berharap mungkin sampai ke 100. 000, tapi tersebut pun kami sudah merancang sekarang kalau pun datang terjadi di sana, ” ujar Luhut dalam bertemu pers online, Kamis (15/7).

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengaku tidak kaget bila kenaikan kasus penularan covid di Indonesia bisa menyentuh 100. 000. Menurut dia, angka penularannya bisa lebih besar.

“Jadi angka dengan dilaporkan sekarang ini total kasusnya kan 2 juta-an. Saya sudah tahu angkanya itu lebih, saya sebutkan saja ya, bahkan 10 kali lipat saja lebih. Jadi angka di Nusantara itu 10 kali lipat dari yang dilaporkan, ” ujar Miko kepada BBC Indonesia Kamis 15 Juli 2021.

Dia menyebutkan kalau prevalensi antibodi positif SARS CoV-2 di DKI Jakarta saja sebanyak 45%. “Survei saya sebelumnya tidak menyentuh angka itu. Angka dalam Jakarta itu dipercepat sebab varian baru, Alpha dan Delta. ”

Dia mengaku sudah punya buatan survei untuk angka kelaziman di Indonesia, namun belum dapat diungkap alias off the record . “Tapi saya cakap persis angkanya di Nusantara. Artinya kalau kita bicara angka di Indonesia the worst case -nya kayak pada Jakarta, ” ujar Miko.

Sedangkan epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, tetap bahwa angka penularan harian kini sudah menembus 100. 000 kasus.

“Bahkan tiga minggu lalu sudah 300. 000 lebih, ” ungkap Dicky kepada BBC Indonesia, pada Kamis (15/7).

Menurut Dicky, perhitungannya bersandarkan data angka kematian harian yang sudah menembus satu. 000 jiwa pada Selasa hingga Rabu pekan lalu (7/7).

Dengan menggunakan rumus bisa dihitung kalau tiga minggu sebelumnya ada sekitar 120. 000 peristiwa infeksi yang berkontribusi pada kematian sekitar 1. 000 jiwa. Padahal, ketika tersebut jumlah kasus yang dilaporkan pemerintah sebanyak 5. 000-an kasus.

Perhitungan seperti itu, menurutnya masih tergolong hina karena memakai angka dengan minimal.

“Laporan kasus 54. 000-an ini [per Rabu 14/7] dalam realita pada lapangan lebih dari 100. 000 ya, ” ujar Dicky.

“Ini selalu kita harus tahu pemerintahan testing kita ini pasif, lebih beberapa orang itu ke faskes baru dites. Namun di masyarakat kan tes sendiri, bayar sendiri. Oleh karena itu sekarang jauh lebih penuh. Makanya kita jadi episenter bukan hanya Asia sebetulnya, tapi dunia, ” tambahan Dicky.

Apakah perlu lockdown?

Sumber gambar, LightRocket via Getty Images

Indonesia tengah menerapkan Pemberlakuan Penyekatan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Kritis di Jawa dan Bali selama 3-20 Juli beserta di beberapa kabupaten dalam luar kedua pulau itu.

Luhut Pandjaitan mengatakan pemerintah telah menyiapkan skenario jika terjadi peningkatan urusan yang signifikan selama zaman PPKM Darurat ini kepala mulai dari mengamankan stok vaksin 480, 7 juta dosis, percepatan vaksinasi 1 juta per hari, menambah fasilitas medis dan panti sakit darurat, hingga penggandaan tenaga kesehatan.

Namun, epidemiolog Tri Yunis Miko Wahyono mengingatkan upaya pemerintah itu juga harus diimbangi partisipasi masyarakat yang tinggi semasa PPKM darurat.

“Kalau partisipasi masyarakat kurang indah, maka PPKM ini menjadi lama dan kalau lama kemudian masyarakatnya saya tidak tahu apakah [kasusnya] akan turun ataupun tidak. ”

Menghadapi skenario kasus terburuk itu, Miko menyarankan pemerintah dan masyarakat harus menyiapkan kemungkinan dengan lebih ketat lagi lantaran PPKM Darurat yang kini tengah diterapkan.

L ockdown , kata dia, bisa menjadi pilihan.

“Saya menyarankan lockdown , artinya 100% tidak ada aktivitas apapun buat menurunkan prevalensinya. Kalau tidak lockdow n, akan landai, tapi tidak sebaik kalau lockdown , ” kata Miko.

Namun, bagi Miko, lockdown harus dipertimbangkan secara hati-hati karena sangat berdampak besar di zona lain seperti ekonomi.

“Kalau melakukan lockdown , yang saya usulkan adalah peta parameter output kematian dan kesakitan dan berapa yang hendak dicapai untuk tingkat maut dan kesakitan, ” katanya.

Lalu harus ada denah yang memakai protokol kesehatan tubuh dan yang mematuhinya. Juga perlu ada indikator di dalam program penanggulangan covid dibanding test sampai treatment .

Tak kalah penting lagi merupakan negara harus bersepakat secara ilmuwan dan pebisnis di menentukan indikator melakukan lockdown agar tidak sampai menerbitkan pukulan hebat di daerah ekonomi di tengah telah banyaknya PHK.

Tatkala Dicky Budiman merekomendasikan penerapan lockdow n selama seminggu secara disertai peningkatan testing dengan siginifikan.

Sumber gambar, LightRocket via Getty Images

Menurut dia, lockdown saja pun tidak signifikan menyandarkan lonjakan kasus yang sudah sedemikian besar karena menetapkan disertai dengan pengetesan dengan masif.

Lockdown itu tidak strategi utama, namun sampai penambah atau penguat untuk memberi kelonggaran waktu supaya fasilitas kesehatan tidak bahkan terbebani saat beberapa orang dipaksa diam di rumah. Oleh sebab itu perlu ditambah pengetesan dengan gencar untuk menurunkan separuh dari kebutuhan penyiapan pada faskes, baik itu wadah tidur, ICU, hingga ventilator, ” ujar Dicky.

Dikatakannya, sudah ada contoh sukses di India sejak menaikkan pengetesan dari 1, 5 juta menjadi 9 juta per hari bersamaan dengan pemberlakuan lockdown.

“Yang tadinya menyiapkan 13 kala tempat tidur, kini cuma menyiapkan lima kali. ICU dari 70 kali, menjelma 31 kali. Ventilator dengan tadinya 37 kali, menjelma 16 kali. Itu karena peningkatan signifikan kapasitas testing yan ditingkatkan menjadi 9 juta sehari.

Pelik dirawat di Rumah Lara

Di tengah persiapan negeri menerapkan skenario kasus terburuk, warga penderita Covid sedang belum mendapat perawatan yang ideal karena fasilitas kesehatan tubuh yang sudah kewalahan.

Seperti yang dialami Sintya (48) dan keluarganya, awak Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Dia bersama suami serta dua anaknya tidak bisa mendapat layanan di vila sakit rujukan sejak menderita Covid selama dua pasar karena banyak yang sudah penuh. Padahal suaminya, Ridwan Anwari, sudah menderita lara berkategori sedang dengan saturasi oksigen di bawah wajar.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

“Suami saya saturasi oksigennya telah 92 persen. Sudah mengarah beberapa rumah sakit elok lewat aplikasi Siranap maupun rujukan dari Puskesmas, tetapi setiba di sana IGD sudah penuh, bahkan sejenis ketika terpaksa mengalah ke pasien lain yang saturasinya lebih rendah. Akhirnya saya terpaksa isolasi mandiri dalam rumah, ” ujar Sintya kepada BBC Indonesia.

Namun beberapa tipe obat dengan diberikan Puskesmas untuk suaminya berupa antivirus dan antibiotik sudah lama habis serta kini mereka hanya menyambut obat-obatan umum seperti paracetamol dan vitamin.

“Kami akhirnya menggunakan layanan medis berbayar, perawatnya datang perut hari sekali dan tabib juga gambar call . Tapi bayar sendiri, termasuk obatnya, tak di-cover BPJS. Dokternya serupa menyarankan rontgen dan melihat laboratorium. Itu kan kos sendiri dan harganya untuk saya mahal sekali, ” ujarnya.

Maka, Sintya berharap pemerintah menyediakan obat-obatan secara gratis kepada klub yang menderita Covid, tidak saja yang untuk OTG (tanpa gejala) dan bagian ringan, namun juga berkategori sedang bagi suaminya.