Hasil penelitian ilmuwan yang percaya bahwa tanaman bisa kata, ‘mengeluarkan bunyi klik sejak akar’

hasil-penelitian-ilmuwan-yang-percaya-bahwa-tanaman-bisa-bicara-mengeluarkan-bunyi-klik-dari-akar-8
  • Chris Baraniuk
  • BBC Future

Sumber gambar, Getty Images

Banyak karakter percaya bahwa berbicara dengan tanaman bisa mendorong pertumbuhan. Di dunia ilmiah, tersedia perdebatan mengenai apakah flora memang mendengarkan, atau makin bisa menjawab.

Tanaman milik peneliti Laura Beloff tampaknya mengeluarkan pengucapan ‘klik’. Dia memasang mikrofon kontak pada akarnya untuk mendeteksi bunyi klik samar dan bernada tinggi di tanah.

Dengan bantuan perangkat lunak yang tempat buat untuk komputernya, saluran klik telah diturunkan, sehingga terdengar oleh manusia.

Masa bekerja di mejanya, tumbuhan yang terhubung dengan media di sebelahnya itu mengoceh dengan gembira. Lalu berlaku sesuatu. “Ini adalah situasi yang paling aneh, ” kata Beloff, seorang seniman dan profesor di Universitas Aalto di Finlandia.

Ada karakter masuk ke ruangannya, & bilamana itu pula nada klik tanaman berhenti. Masa orang itu pergi, suara klik berlanjut. Kemudian, bertambah banyak orang datang dan, sekadar lagi, klik berhenti.

Baca juga:

Suara itu baru tampak kembali ketika orang-orang lari. “Saya masih tidak tahu harus berpikir apa tentang itu, ” kata Beloff.

Seolah-olah tanaman itu menginginkan audiensi pribadi dengan Beloff, seperti sedang berbicara dengannya.

Upaya Beloff untuk menjumpai klik yang berasal sebab tanaman berlangsung total bertambah dari dua tahun. Dia tetap tidak yakin, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Peralatannya berbiaya aib, hanya mikrofon sederhana. Dia mengakui, mikrofon itu mampu menangkap suara dari mikroorganisme dalam tanah atau sumber lain, belum tentu daripada tanaman.

Dan kalau tanaman itu berkomunikasi, ataupun bereaksi terhadap orang dengan memasuki ruangan, masih menjadi spekulasi.

Tapi adanya prospek, peluang sekecil apapun, memproduksi Beloff penasaran. “Apakah sungguh-sungguh terjadi? Itulah pertanyaannya, ” kata dia.

Ada penuh hal tentang tumbuhan, dan kehidupan tumbuhan, yang tak kita ketahui.

Era ini, ada perdebatan di antara orang-orang yang mempertimbangkan tumbuhan mengenai sejauh mana bunga dan semak dapat berkomunikasi satu sama lain, atau komunikasi dengan khalayak hidup lainnya.

Dan jika mereka bisa, apakah artinya mereka cerdas?

‘Tanaman mampu berkomunikasi, belajar, & mengingat’

Sumber gambar, Getty Images

Penelitian ilmiah selalu menghasilkan penemuan-penemuan baru tentang kerumitan tanaman dan kemampuannya yang luar biasa.

Ada kemungkinan bahwa tanaman kira-kira lebih kompleks daripada yang diasumsikan beberapa orang. Namun gagasan bahwa mereka dapat “berbicara” dengan manusia, masih kontroversial.

Namun, itu tidak menghentikan beberapa orang yang mencoba bicara dengan tanaman. Itu adalah pembisik tanaman.

Beloff pertama kali memiliki konsep untuk mendengarkan akar tanamannya setelah membaca tentang penelitian dari Monica Gagliano & peneliti lainnya.

Sekitar sepuluh tahun terakhir, Gagliano dari University of Western Australia, telah menerbitkan serangkaian makalah yang menunjukkan bahwa tanaman memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, belajar, dan mengingat.

Dia telah lama berpendapat bahwa para ilmuwan harus lebih memperhatikan fakta bahwa tanaman dapat mengirimkan dan mengambil informasi secara akustik.

Dalam sebuah studi tahun 2017, Gagliano dan rekannya menunjukkan bahwa tanaman sepertinya bisa merasakan suara air yang bergetar melalui akarnya, sehingga mereka bisa menemukan air di bawah tanah.

Gagliano yakin bahwa tanaman dapat berkomunikasi. “Buktinya jelas, ” katanya.

Dalam makalahnya yang banyak dikutip, terbit 2012, dia dan rekan penulisnya melaporkan deteksi suara klik dari akar tanaman.

Para peneliti menggunakan vibrometer laser untuk mendeteksi suara-suara ini tepat di ujung akar.

Gagliano mengatakan bahwa laser diarahkan pada akar masa direndam dalam air dalam laboratorium, untuk membantu membenarkan bahwa suara yang terdeteksi memang berasal dari pokok itu sendiri.

Namun, untuk mengatakan bahwa suara klik itu punya fungsi komunikatif memerlukan bukti lebih sendat. Gagliano mengatakan bahwa dia telah mengamati akar tanaman merespon suara pada saluran yang sama, dengan cara mengubah arah pertumbuhannya.

Ketidakpastian tentang apa tepatnya berarti semua ini, tetap tersedia. Dan Gagliano juga tidak setuju dengan klaim bahwa, dalam lingkungan non-eksperimental tempat mendengar tanaman bicara padanya menggunakan kata-kata.

Dia mengutarakan bahwa pengalaman ini “di luar bidang ilmiah dengan ketat” dan bahwa pengamat pihak ketiga tidak mau dapat mengukur suara dengan dia dengar dengan perangkat laboratorium.

Tetapi tempat cukup yakin bahwa tempat merasakan tanaman berbicara dalam beberapa kesempatan.

“Saya berkecukupan dalam situasi di mana bukan hanya saya namun beberapa diantara kita lain di tempat yang serupa mendengar hal yang sama, ” kata dia.

Apa pun pendapat Anda tentang klaim ini, pengkajian terbaru oleh beberapa awak ilmiah mengungkapkan berbagai wawasan menarik tentang tanaman & suara.

Studi tarikh 2019 oleh sekelompok sarjana di Israel, misalnya, menemukan bahwa tanaman meningkatkan jumlah gula dalam nektar mereka ketika ada suara dengungan lebah.

Tanaman mungkin melayani ini untuk memberi penghargaan kepada lebah yang menyerbuki mereka saat mengambil nektar. Serangga tertentu lainnya hanya akan mengambil nektar minus mengumpulkan atau menyebarkan serbuk sari, yang tidak menguntungkan tanaman.

Hanya masa para peneliti mengekspos flora dalam penelitian mereka pada suara lebah, atau suara pada frekuensi yang cocok, kandungan gulanya meningkat.

Belajar lain menunjukkan berbagai macam cara di mana pandangan mungkin penting bagi flora. Misalnya, ketika ada suara ulat mengunyah, tanaman men lebih banyak bahan kimia untuk mencegah ulat makan.

Menuntut seperti ini telah menyusun orang bertanya-tanya apakah tanaman bisa dipengaruhi dengan suara yang dirancang khusus.

Sebuah organisasi China, Tengah Penelitian Teknik Pertanian Fisik Qingdao, telah merancang unit khusus untuk menyiarkan perkataan ke tanaman. Penciptanya meminta peningkatan produksi, dan kemerosotan kebutuhan pupuk.

Sumber tulisan, Getty Images

Suara pula menjembatani hubungan saling menguntungkan antara tanaman dan makhluk hidup lainnya.

Dalam Kalimantan, dinding belakang sak bagian dalam milik tumbuhan karnivora kantong semar (Nepenthes hemsleyana) berevolusi untuk mencerminkan gelombang suara kelelawar.

Suara ini mengundang kelelawar bertengger di kantong tumbuhan, dan kotoroannya menyuburkan tumbuhan.

Sebuah makalah tahun 2016 yang menyelidiki ikatan akustik antara tanaman dan kelelawar mencatat bahwa marga tanaman lain masih sekerabat, yang tidak bergantung di dalam kelelawar untuk pembuahan, tak memiliki permukaan reflektif dengan sama yang diketahui menarik mamalia terbang.

Semua tersebut membantu membuktikan bahwa perkataan itu penting bagi flora. Tetapi mekanisme bagaimana tumbuhan dapat merasakan suara tetap misterius.

Pandangan sangsi

Bahwa tanaman mungkin dengan genetis diprogram atau otomatis menerima stimulasi suara, itu satu hal. Tapi anggapan bahwa tanaman bisa mendengarkan dan merenungkan suara sebelum membuat keputusan untuk bereaksi, adalah hal lain sedang.

Kebanyakan orang akan berpendapat bahwa kecerdasan sewarna itu hanya dimiliki suku hewan.

Di antara yang skeptis adalah David Robinson dari Universitas Heidelberg di Jerman.

Dia sangat kritis terhadap klaim kalau tumbuhan itu cerdas, atau bahwa mereka dapat berkomunikasi seperti kita.

Respon tanaman terhadap rangsangan akustik, meskipun menarik, sudah ditentukan sebelumnya dan kaku, katanya: “Tidak ada hubungannya secara proses berpikir. ”

Pokok tidak memiliki neuron, sel yang mengirimkan informasi melalaikan sinyal listrik di budi hewan. Secara umum, flora tidak memiliki mesin buat berpikir, kata Robinson. Tetapi, informasi dapat dikatakan hidup dalam tanaman, melalui petunjuk kimia.

Gagasan bahwa pokok dapat belajar juga ditentang. Seorang peneliti mencoba mereplikasi hasil studi tentang pembelajaran pada tumbuhan oleh Gagliano dan rekan. Namun, itu tidak dapat mencapai hasil yang serupa.

Dalam simpulan yang dipublikasikan, Gagliano dan timnya mengatakan bahwa metodologi percobaan ulang terlalu bertentangan untuk menghasilkan evaluasi yang dapat diandalkan dari buatan mereka sebelumnya.

Robinson mengucapkan dia tidak mengabaikan prospek bahwa tanaman masih dapat mengejutkan kita. Tapi dia bersikeras bahwa kita tidak boleh mencoba membandingkan keahlian komunikatif mereka dengan kekuatan kita sendiri. Atau memeriksa untuk berbicara dengan mereka.

“Apa yang saya pikir beberapa orang coba lakukan adalah memanusiakan tanaman untuk membuatnya lebih seperti diri kita sendiri, ” katanya.

Tempat juga tidak mengecilkan perbedaan pendapat antara peneliti, dengan percaya tanaman diberkahi dengan kognitif dan mereka yang mengatakan tidak. “Ada dua kubu yang sedang bergumul, ” katanya, sebelum menambahkan, “maksud saya berperang secara lisan. ”

Ini bukan untuk menunjukkan bahwa tersedia perpecahan yang merata pada antara faksi-faksi ini.

Apa yang para pengkaji pikirkan tentang kemampuan tumbuhan berbeda-beda. Banyak ilmuwan selain Robinson tetap skeptis kalau tanaman itu cerdas, prasyarat untuk komunikasi seperti bani adam.

Semua kehidupan itu tangkas

Tapi Tony Trewavas, guru besar emeritus di University of Edinburgh, mengambil pandangan yang berbeda.

Dia mengutarakan bahwa, di bawah keterangan yang luas, tanaman dapat dianggap cerdas karena itu dengan jelas merespons rangsangan, dengan cara yang memajukan peluang mereka untuk menetap hidup.

Dia menyelaraskan ini dengan zebra dengan lari dari singa. Kami sulit menganggap itu sebagai respons cerdas, sedangkan tumbuhan yang membunuh sepetak daunnya sendiri untuk menghentikan penetasan telur ulat justru dipandang berbeda.

Trewavas juga menunjukkan fakta bahwa pohon berpegang pada jaringan mikroba pada dalam tanah yang menolong menemukan nutrisi, ini adalah bentuk komunikasi antar spesies.

“Semua kehidupan itu berpengetahuan karena jika tidak, itu tidak akan ada di sini, ” kata Trewavas. Ini tentu saja menggugah pikiran. Apakah bertahan tumbuh, menurut definisi, adalah fakta kecerdasan?

Apapun itu, perkara tentang bagaimana seseorang mampu berbicara dengan tanaman masih belum terjawab.

Sumber gambar, Getty Images

Tanaman sanggup dengan jelas merespons rangsangan akustik tertentu, dan kadang-kadang dapat berkomunikasi secara kimiawi dengan berbagai bentuk kesibukan, banyak yang berpendapat kalau itu tidak sama secara mengobrol.

Atau apalagi tidak mirip dengan vokalisasi sosial insidental yang berlaku pada banyak spesies hewan bukan manusia.

Laura Beloff mengatakan bahwa, kemungkinan tersebut memang mempesona, dia langgeng skeptis terhadap gagasan kalau tanaman dapat berbicara.

“Tentu saja ada orang dengan mengatakan bahwa mereka mampu berkomunikasi dengan tanaman, ” katanya. “Saya melihatnya agak-agak dari perspektif yang lebih rasional atau ilmiah, betapa sulitnya itu. ”

& ada pertanyaan tentang apa yang sebenarnya akan kita katakan jika kita mampu berbicara dengan tanaman?

“Mungkin tanaman juga ingin berkomunikasi dengan kita, ” sebutan Beloff. “Siapa tahu? ”