Haji di tengah wabah SARS, MERS dan Covid-19: ‘Mukjizat milik Tuhan, saya berserah diri, tapi sambil berdoa agar bisa berangkat’

Ibadah haji terancam batal tahun tersebut karena pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di dunia dan belum ditemukan vaksinnya. Tapi mengapa masa wabah SARS dan MERS, ibadah haji tetap dijalankan?

Menurut pengelola travel umrah dan haji yang sudah berkecimpung dalam usaha ini selama puluhan tahun, ibadah haji dalam masa modern belum pernah dihadapkan di dalam pandemi global seperti ini, yang lebih parah ketimbang wabah SARS dan MERS atau Sindrom Asimilasi Timur Tengah.

Baluki Ahmad, Ketua Umum Kelompok Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh), yang telah menjalani bisnis travel umrah dan haji sejak tarikh 1977, wabah SARS yang menimpa dunia pada 2002-2004 “tidak melorot pada musim haji, ” sejenis pula dengan MERS, sehingga tak ada protokol kesehatan khusus untuk jemaah haji asal Indonesia masa itu.

“SARS itu tidak jatuh pada musim haji. Saat MERS juga tak menyentuh di musim peak haji. Tak ada pembatasan-pembatasan semacam itu, [atau] kondisi seperti wabah sekarang, pada musim haji tidak dirasakan itu, ” kata Baluki.

“Tidak tersedia pembatalan haji saat [wabah] MERS, dan [penyakitnya] sudah tertanggulangi waktu keberangkatan haji, tidak seheboh sekarang, sekarang kan sudah jelas, jangan-jangan kita negara yang akan dilarang bisa mengakar ke negara orang karena kedudukan [pandemi di negeri] kita, ” tambahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Syam Refiadi, direktur utama PT Patuna Mekar Jaya, yang sudah mengurus travel umrah dan haji sejak tahun 1988.

“Imbauan [saat wabah MERS] cuma satu, karena [sumber penyakit] diduga dari unta, oleh sebab itu jemaah haji dijauhkan dari unta.

“Haji saat itu sama saja, karena bukan dari virus yang diduga disebarkan oleh manusia, sehingga pemerintah Arab Saudi sendiri, meski banyak unta [di sana], merasa tidak ada isu itu, jadi haji tetap jalan, ” kata Syam.

“Haji waktu [wabah] SARS juga sesuai saja, waktu itu media baik tidak banyak, tidak ada yang menyebarkan berita-berita yang menakutkan.

“Yang [direkomendasikan saat itu] hanya suntikan flu serta meningitis saja. [Ketika] SARS tidak ada himbauan [untuk jemaah haji] pakai masker. Petunjuk [kesehatan seperti] Covid-19 tidak ada sama sekali [dulu], ” tambahnya.

Bagaimana haji saat MERS lalu?

Menurut Profesor Tjandra Yoga Aditama, Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Asia Tenggara, ketika wabah MERS merebak pada awal tahun 2010an lalu memang ada kekhawatiran rombongan jemaah haji Indonesia akan tertular, namun ibadah sendiri tetap “berjalan”.

“Pada masa MERS 2015 lalu saya kira memang waktu itu ada kekhawatiran kemungkinan terjadi penularan MERS [terhadap jemaah haji Indonesia] di Arab Saudi tapi waktu itu proses haji tetap berjalan dan jemaah langgeng berangkat, ” kata Tjandra, yang lima tahun lalu menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

“Tapi saya tidak memikirkan pasti program waktu itu oleh pemerintah tapi saya percaya bermacam-macam penyuluhan telah dilakukan, baik kepada jemaah haji atau petugas kesehatan tubuh haji. ”

Di 2012 dan 2013, pemerintah Arab Saudi menganjurkan jemaah yang sudah tua dan memiliki penyakit untuk tidak berhaji karena rentan tertular MERS.

Peserta haji saat itu juga dianjurkan untuk tidak mengunjungi peternakan unta dan meminum susu unta, karena hewan khas Timur Tengah tersebut ditengarai sebagai sumber penularan aib.

“MERS saat tersebut berhubungan berat dengan unta & biasanya beberapa kelompok [haji] itu memang mengunjungi peternakan unta untuk jalan-jalan. Nah, dalam tahun MERS itu dianjurkan untuk tidak mengunjungi peternakan unta sedang karena waktu itu bisa tersedia kemungkinan tertular dari unta, ” tambah Tjandra, yang sekarang berdomisili di New Delhi, India, tersebut.

Dalam wawancaranya dengan BBC Indonesia tahun 2015 silam, Tjandra mengatakan bahwa calon jemaah saat itu diberi masker ekstra agar tidak tertular MERS.

“Teorinya, kudu meminimalisir kontak dengan kerumunan karakter. Tapi ini kan tidak jadi dilakukan, maka pada saat di kerumunan, masker diberikan untuk menyimpan diri, ” kata Tjandra saat itu.

Selain itu, ia juga menganjurkan supaya jamaah dan calon jemaah haji melakukan cuci tangan dengan bubuk untuk mengurangi risiko penularan bervariasi penyakit, serta bagi jemaah yang sudah mengalami penyakit jantung parah, diabetes, gagal ginjal, atau paru kronis untuk melakukan kontrol kesehatan tubuh secara rutin.

“Saya kira sudah disebutkan waktu tersebut tentang jemaah agar berhubungan lekas dengan petugas kalau ada keluhan-keluhan yang ada hubungan dengan MERS, hanya memang tidak mudah, sebab keluhan MERS ini kan nisbi umum, seperti batuk, demam, dengan mungkin bisa sering terjadi masa haji, ” kata Tjandra masa dihubungi pada Jumat (29/05).

“Saya tidak peduli apakah ada jamaah yang tertular tapi sepanjang kita tahu kita bisa menanggulangi MERS cukup jalan saat itu, sehingga masalahnya tak terlalu besar. ”

Tidak ada jamaah asal Indonesia yang tertular meningitis di dalam musim haji 2015 saat itu, kata Kementerian Kesehatan kala tersebut.

Haji gawat batal, calon peserta haji berharap agar ‘dipanjangkan umurnya’

Meskipun ibadah haji pernah dikerjakan di tengah wabah, termasuk meningitis, SARS, dan MERS, tetapi baru tahun ini tercatat pelaksanaannya gawat batal lantaran pandemi global dalam sejarah modern manusia.

Salah satu calon peserta haji yang rencananya berangkat tahun ini adalah Muhamad Amir. Purnawirawan berusia 62 tahun tersebut mengaku ikhlas jika memang gagal haji tahun ini, meskipun ia sudah menunggu selama sembilan tahun.

“Kecewa gerangan tidak tapi tersedia perasaan sedih. Kita sudah semenjak tahun 2011 menunggu, karena sudah ada kepastian berangkat tahun 2020, pas tiba saatnya begini terus ada kejadian pandemi Covid-19, serta belum ada ketentuan [soal pelaksanaan haji].

“Ya gimana ya, perasaan sedih lah, ” kata ayah dari dua anak tersebut.

“Untuk tahun depan, ya namanya sempurna, kita kan juga belum tahu ya, ya mudah-mudahan saja dipanjangkan umurnya, ” ujar Muhamad.

Muhamad, yang dulunya bekerja sebagai pegawai negeri biasa, akan menunaikan haji bersama istrinya yang berusia 56 tahun.

Menurutnya, ia sudah menabung untuk bisa berhaji semenjak 1989, tahun pertamanya menjadi aparat. Namun, ia tidak menentukan tumpuan berapa yang harus ditabung pada satu bulan.

“Kalau ada keperluan ya dipergunakan semua [gaji], namanya aparat. Saya waktu itu tidak tentukan [berapa yang disisihkan setiap bulan], tidak ada target menabung harus sekian-sekian, ” katanya.

Jika jadi menuju haji tahun ini, Muhamad mengatakan ia khawatir bagaimana menjaga muncul agar tidak tertular virus corona, karena ada beberapa proses ibadah yang mengharuskannya berada di sedang kerumunan.

“Ritual yang mengkhawatirkan itu tawaf , itu kan berkumpulnya orang di sana mengelilingi Ka’bah, lalu saat wukuf , lalu saat melempar [batu], di saat ada kerumunan-kerumunan yang jumlahnya besar saya kacau, ” katanya.

Ia mulai meragukan kepastian ibadah hajinya jadi terlaksana tahun itu ketika pengumuman dari pemerintah Nusantara soal haji terus diundur.

“Waktu Maret belum terlalu khawatir, masih ada keyakinan kita berangkat tapi akhir-akhir tersebut setelah Arab Saudi lockdown sudah ada perasaan khawatir. Apalagi kita disuruh menunggu sampai tanggal 20 Mei kemarin, lalu diundur lagi datang tanggal 1 Juni, tambah kacau lagi.

“Ada berita gelombang pertama berangkat tanggal 26 Juni, kalau pengumuman agenda 1 Juni itu kan benar riskan, mepet sekali waktu, sehingga khawatir, ” katanya.

Salah satu calon pengikut haji dalam gelombang satu itu adalah Dwi Purwati, 56, awak Bandung, Jawa Barat.

Pengusaha pakaian dan konsultan pernikahan itu telah menunggu putaran untuk beribadah haji sejak 2012, dan ia mengaku siap ada batin apapun keputusan pemerintah nanti.

Dwi sudah umrah dua kali, namun ia menilai ibadahnya belum sempurna jika ia belum berhaji.

“Tahun 2010 saya umrah, pada tahun 2018 karena lama menunggui haji, dan saya mendapat nafkah lagi, jadi umrah lagi. Tapi keinginan dalam hati itu kalau saya belum haji walaupun sudah dua kali umroh tetap sekadar belum haji, ” kata nenek dari empat cucu tersebut.

Dwi mendapat informasi yang didamba-dambakannya, bahwa ia mampu berangkat haji di tahun 2020, pada November.

“[Perasaan saya] luar biasa benar, perjuangan saya setiap tahun kita mesti ke Departemen Agama buat melihat atau melihat internet sedang jauh nomornya, lalu belakangan itu saya ada di urutan nyana depan sedikit, A lhamdulillah , semenjak itu saya sangat bersyukur bisa haji, perasaan saya tertantang, beta harus berubah, harus lebih banyak ibadahnya, tausiah nya, ” kata Dwi.

Sama seperti Muhamad, Dwi juga mengaku pasrah jika ia gagal haji tahun ini,

“Mukjizat itu Tuhan yang punya, kita [berserah diri] saja sama Allah, tapi sambil berdoa juga, supaya aku bisa berangkat, berdoa terus, ‘ya Allah saya ingin [naik] haji, saya ingin haji, sudah lama menunggu, ‘” pungkasnya.

Sejarah pembatalan ibadah haji

Menurut petunjuk The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives yang dirilis pada Maret, ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan di sejarah peradaban manusia, dengan dalih beragam, mulai dari perang datang wabah penyakit menular.

Pada 1814, Kerajaan Arab Saudi dilanda wabah thaun , yang juga melanggar Mekah dan Madinah sehingga Ka’bah harus ditutup sementara.

Lalu tahun 1831, ada wabah dari India, yang dicurigai adalah kolera, dan bertepatan secara pelaksanaan ibadah haji. Periset mencatat setidaknya 75% jemaah haji wafat dunia dan pelaksanaannya dihentikan pada tengah jalan.

Kolera kembali ditemukan di Arab Saudi pada 1846-1892, dan haji pula batal dilaksanakan pada 1850, 1865, dan 1883.

Ibadah haji sempat dilaksanakan di dalam 1864, namun menelan 1. 000 korban jiwa per harinya sebab terjangkit kolera.

Pada 1987, wabah meningitis mendatangi ibadah haji dan penyebaran aib ini menginfeksi setidaknya 10. 000 peserta haji.