‘Dukun Covid’ di India: Tolak obat dan vaksin, klaim obati virus corona lewat diet kontroversial

dukun-covid-di-india-tolak-obat-dan-vaksin-klaim-obati-virus-corona-lewat-diet-kontroversial-16

Sumber gambar, Getty Images

Seorang juru kampanye anti-vaksinasi karismatik telah mendulang popularitas di India, oleh mengeklaim bahwa pendekatan ilmu kedokteran terhadap pandemi sepenuhnya salah.

Tetapi pra kritikus mengatakan Biswaroop Roy Chowdhury membahayakan nyawa, sebab ia secara keliru mengeklaim bahwa dia dapat menyembuhkan Covid-19 melalui makanan saja, lapor Ed Main serta Reha Kansara.

Biswaroop Roy Chowdhury bukanlah orang yang bisa menahan diri.

“Menurut saya, kebanyakan kematian bukan karena virus corona tersebut sendiri, tapi karena perawatannya, ” ujarnya dalam salah satu video yang dipublikasikan melalui situsnya.

Bintang media sosial India – atau dapat dibilang mantan bintang media sosial karena ia telah dilarang di sejumlah system – tersebut menegaskan bahwa pengobatan konvensional adalah konspirasi yang dirancang untuk memenuhi kantong dokter dan bisnis besar.

Baca juga:

Sumber gambar, EPA

“Obat-obatan tak akan membantu dalam menyembuhkan penyakit apapun, ” ujarnya kepada BBC.

“Saya benar-benar yakin bahwa manusia tak memerlukan vaksinasi sama sekali. ”

Dalam videonya, ia mengeklaim pola makanannya yang kaya akan buah-buahan dan sayuran, akan menyembuhkan tak sebatas Covid-19, tapi juga diabetes dan AIDS.

Ilmu kedokteran mengatakan semua ini tidak masuk akal.

Tapi Chowdhury telah memanfaatkan pandemi untuk menyebarkan pesannya.

Dia mengajari para pengikutnya bahwa rumah sakit meningkatkan kemungkinan kematian mereka lalu mengatakan bahwa pasien Covid yang sulit bernapas akan alangkah baiknya duduk di depan kipas angin ketimbang menerima oksigen.

Bagi pra pengkritiknya, dia adalah penipu berbahaya yang nasihat buruknya hanya dapat memicu gelombang kedua virus corona yg mengerikan di India.

Sumber gambar, Reuters

“Biswaroop Roy Chowdhury adalah seorang gadungan, ” kata Dr Sumaiya Shaikh, editor sains dri situs pengecekan fakta India Alt News.

“Dia memiliki banyak pengikut serta itu membuatnya lebih berbahaya. ”

Mereka adalah pengikut yang telah dia kumpulkan melalui banyak buku, video dan kursus online serta siaran langsung ceramahnya.

YouTube, Twitter, dan Facebook melarang Chowdhury tahun lalu, setelah dia berhasil mengumpulkan melimpah pengikut – hampir satu juta di YouTube tertentu – sebelum akunnya dihapus.

Ia masih memiliki akun resmi di WhatsApp serta Telegram.

Pendukungnya juga mengunggah dan menyebarkan isi ceramahnya melalui akun proxy server.

WhatsApp berkata yakni mereka bekerja keras untuk membatasi penyebaran informasi bohong soal virus corona di platform mereka.

Sedangkan Telegram tidak memberi respons ketika dimintai tanggapan.

Hadiah untuk publisitas

Chowdhury memunculkan dirinya sebagai sosok underdog yang berani melawan lembaga medis yang bermaksud menipu publik.

Dia menegaskan bahwa covid-19 “sama seperti flu biasa”, meskipun faktanya malware itu jauh lebih mematikan.

Kendati ada banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya, ia mengeklaim bahwa masker tak membantu menghentikan penyebaran virus dan justru akan membuat para pemakainya sakit.

Dia telah mengooptasi kata dalam bahasa Urdu azaadi , yang berarti “kebebasan” : seruan yang menggema pada banyak komunitas tertindas di India, untuk slogannya inch masks se azaadi ” (“kebebasan dri masker”).

Sumber gambar, YouTube

Dalam salah satu buku elektronik tentang virus corona buatannya, Chowdhury menawarkan 100. 000 rupee, atau sekitar Rp18 juta, bagi siapa pun yang “bisa membuktikan bahwa vaksin telah membantu dengan cara apa pun”.

Tentu saja, ada literatur penelitian medis yang sangat banyak selama beberapa dekade yang mendokumentasikan bagaimana vaksin telah membantu mengendalikan dan bahkan memberantas penyakit di seluruh dunia.

Tapi Chowdhury mengabaikannya sepenuhnya.

Klaim bahwa diet bisa menyembuhkan

Chowdhury mulai mengembangkan “obat” diet kontroversialnya sekitar satu dekade lalu.

Itu hanya salah satu dari untaian karier yang penuh warna dan beragam.

Sesudah belajar sebagai seorang insinyur, ia mencoba-coba pembuatan film Bollywood dan bahkan menjadikan dirinya sebagai pemain di dalam satu film.

Dia juga pemimpin redaksi dan pendiri India dan Asia Book of Information yang meniru, tetapi tidak berafiliasi dengan Guinness Guide of Records.

Nilesh Christopher, seorang jurnalis dri situs teknologi Associated with World , berkata Chowdhury menjadi tertarik dengan nutrisi ketika istrinya tak bisa sembuh dari penyakit seperti flu.

“Apa yang dia katakan kepada saya adalah, dia mengunjungi beberapa dokter, dan mencoba mencari obat untuk itu, namun tak ada yang bisa menyembuhkan, ” katanya.

“Saat itulah dia memasuki mode belajar mandiri ini dan dia mengeklaim sudah membaca makalah penelitian dan menemukan formula ajaib terkait, yaitu air kelapa, buah jeruk, dan sayuran. ”

India memang memiliki sejarah tradisi pengobatan Ayurveda yg panjang, dengan menggunakan makanan dan pengobatan herbal untuk mengobati penyakit.

Sumber gambar, Reuters

Namun, Chowdhury telah membuat serangkaian klaim yg keterlaluan dan fantastis arah efek ajaib yang meraih dicapai oleh pasien yang mengikuti nasihatnya.

“Dia terang salah satu dukun paling terkemuka di India, ” kata Christopher.

Ketika Covid-19 muncul, Chowdhury segera mengumumkannya sebagai “penyakit seperti influenza” yang bisa disembuhkan oleh pola makan tiga tahap yang telah ia terapkan.

Ia membuka layanan konsultasi dengan memasang harga 500 rupee, atau hampir Rp100 ribu kepada para pasien, jika mereka ingin mendapatkan rencana diet.

“Dia membangun kerajaan electronic besar-besaran melalui kursus nutrisi online, program sertifikasi, lalu layanan konsultasi, dan itulah model bisnisnya, ” kata Christopher.

“Itu bukan berubah, tidak peduli penyakit apa yang Anda katakan padanya. ”

Chowdhury mengatakan dia telah menyembuhkan lebih dari 50. 000 pasien Covid-19 tanpa korban jiwa.

Tetapi Dr Arun Gupta, Presiden Dewan Medis Delhi mengatakan bahwa kebanyakan orang akan sembuh dari pathogen terlepas dari apa yang mereka makan.

“Jika ada 100 pasien dan ya mengklaim bahwa saya menyembuhkan Anda semua, Anda melihat 97 persen akan sembuh, bahkan tanpa intervensi apa pun, ” katanya.

Dr Gupta mengatakan lebih banyak yang harus dilakukan untuk menghentikan penyebaran informasi yang salah tersebut.

“Ini adalah tanggung jawab pemerintah untuk mencatatnya dan memastikan orang-orang ini terkendali, ” katanya.

Betapapun, Chowdhury mendukung metodenya dan menolak tuduhan bahwa ajarannya membahayakan orang.

“Apa mereka memberikan bukti apa pun? Saya kira tidak, ” katanya kepada BBC.

Penyelidikan kriminal

Namun, ahli gizi itu kini sedang diselidiki terkait satu klaim spesifik yakni metodenya telah menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Jaideep Bihani, seorang insinyur dri Delhi, telah mengajukan tuntutan pidana terhadap Chowdhury arah kematian ibunya, Shanti Bihani, pada Agustus 2017.

Bihani mengatakan kepada BBC yakni dia “100%” menyalahkan Chowdhury atas kematian ibunya.

Sumber gambar, Jaideep Bihani

Ibu Bihani, yang kala itu berusia 56 tahun, menderita diabetes, penyakit jantung dan tiroid.

Setelah menemukan metode pengobatan Chowdhury di internet, Bihani membayar ratusan dolar untuk membawa ibunya ke acara yang digelar oleh Chowdhury selama tiga hari guna mempelajari penyembuhan diabetesnya.

Acara tersebut diadakan di tempat pengobatan holistik di pinggiran Delhi.

Sebuah video pada malam pertama menunjukkan Chowdhury mendesak para hadirin untuk berhenti minum obat-obatan mereka.

“Saya punya satu kotak, itu disebut kotak obat oranye… Semua obat, akan kita taruh di sini dan kita kunci. Jadi saya harap Anda tidak maka akan membutuhkan obat-obatan itu lagi, ” dia kata.

Chowdhury mengatakan kepada hadirin yakni pasien dengan kondisi kesehatan yang sangat buruk, misalnya Shanti Bihani, akan dipantau dan diberi beberapa obat jika diperlukan.

Namun makanan dari metode dietnya akan berfungsi sebagai obat utama mereka di masa mendatang.

Sumber gambar, Jaideep Bihani

Ibu Bihani sudah meminum berbagai macam obat, tetapi obat itu kini berada di dalam kotak berwarna oranye.

Keesokan harinya dia mengeluh merasa mengantuk dan kemudian pingsan.

Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit di mana dia meninggal sesudah menderita serangan jantung.

Di dalam pengaduan pidana, Bihani menuduh Chowdhury mengaku sebagai praktisi medis, menawarkan perawatan palsu dan gagal memberikan perawatan darurat dalam kursus.

Namun Chowdhury menyangkal semua terkait.

Sumber gambar, Jaideep Bihani

Di situsnya, Chowdhury mengeklaim mendapat gelar kehormatan PHD untuk diabetes, dari Alliance International University, Zambia.

Tersebut adalah lembaga yang berdasarkan situsnya bukan bermarkas di Afrika tetapi di Karibia.

Gelar ini tampaknya menjadi alasan mengapa Chowdhury menyebut dirinya seorang dokter, meskipun dia tidak menjawab pertanyaan kami tentang masalah ini.

Menanggapi tuduhan Bihani, juru bicara Chowdhury memberi tahu kami bahwa ibu Bihani adalah perempuan yg sangat sakit yang telah menyantap paan masala , stimulan ringan namun membuat ketagihan yg dibuat dari pinang dan zat lainnya. Putranya menyangkal ini.

Juru bicara Chowdhury juga mengatakan Bihani mempunyai obat ibunya selama kursus berlangsung. Namun Bihani juga membantahnya.

Bihani mengatakan dia berharap pengalamannya harus menjadi peringatan bagi siapa pun yang berpikir untuk mengikuti nasihat Chowdhury.

“Melihat ayah saya setiap hari sendirian di usia ini, lalu melihat anak-anak saya bukan bersama nenek mereka : Anda tahu, saya bahkan tidak bisa memberi mengenal Anda apa yang saya rasakan. ”