Donald Trump atau Joe Biden, siapa yang lebih disukai warga Arab di Timur Tengah?

Donald Trump atau Joe Biden, siapa yang lebih disukai warga Arab di Timur Tengah?
  • Frank Gardner
  • Koresponden ketenteraman BBC

Tak satu pun daripada dua kandidat presiden AS dengan akan berdampak baik untuk Timur Tengah dan Afrika Utara kacau demikian hasil survei baru-baru itu dengan responden orang-orang Arab di wilayah tersebut.

Itulah kesimpulan lantaran sekitar setengah dari total responden yang ditanyai dalam jajak dasar yang dilakukan bersama oleh gerombolan penelitian YouGov dan surat kabar Arab News milik Saudi.

Sebanyak 40% responden berpikir Joe Biden mau lebih baik untuk wilayah tersebut, sementara hanya 12% yang menuruti Presiden Trump.

Lebih dari 3. 000 orang ambil bagian. Baik Donald Trump yang sedang menjabat maupun penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden tidak dianggap sebagai kandidat yang populer.

Namun, dukungan pada Biden sedikit lebih baik. Ini dipengaruhi oleh keputusan Trump yang tidak populer untuk memindahkan kedutaan AS di Israel ke Yerusalem, segalanya yang ditentang oleh 89% lantaran mereka yang disurvei.

Namun, kandidat petahana bernasib lebih baik di Irak dan Yaman, di mana mayoritas menyetujui sikap keras Trump terhadap Iran, termasuk dalam hal mas sanksi.

Sekitar 57% responden Irak mengutarakan mereka menyetujui keputusan AS buat membunuh pemimpin Pengawal Revolusi Iran Jenderal Qasem Soleimani awal tahun ini. Sementara persentase yang sepadan di Suriah menentangnya.

Pendekatan baru

Mengingat delapan tahun sebelumnya Biden menjabat pada Gedung Putih sebagai wapres Kepala Obama dari 2009-2017, responden ditanya apa pendapat mereka tentang tadbir itu.

Sekali lagi, mereka kurang antusias, dengan mayoritas dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka yakin Presiden Obama telah membuat daerah itu lebih buruk dan meminta Joe Biden, jika terpilih, mau menjauhkan diri dari kebijakan bekas presidennya.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba dalam mesin pencari lain

Namun, perlu dicatat bahwa meski tidak ada tanda campur tangan dalam jajak kesimpulan, mitra survei ini adalah Arab News yang berbasis di Riyadh di Arab Saudi. Media ini beroperasi dengan pedoman editorial negeri.

Arab Saudi adalah saingan regional Iran dan kepemimpinan Saudi tidak pernah memaafkan Presiden Obama karena mencapai kesepakatan nuklir 2015 dengan Teheran.

Kesepakatan itu, yang kemudian ditarik oleh Presiden Trump, mengeluarkan miliaran dolar dalam rekening bank yang dibekukan dengan imbalan inspeksi nuklir yang ketat.

Kritikus kesepakatan tersebut, termasuk kepemimpinan Saudi, menyatakan bahwa bukannya menggunakan uang itu untuk meningkatkan standar hidup, lembaga keamanan Iran yang kuat menggunakan banyak uang itu untuk mendanai program rudal balistik, menjalankan operasi khusus rahasia di Teluk, dan menjalankan kebijaksanaan yang agresif dan ekspansif pada seluruh wilayah Timur Tengah.

Anehnya, menetapi sejarah ketidakpercayaan warga Palestina terhadap kebijakan AS terhadap Israel, buatan jajak pendapat menunjukkan keinginan masyarakat Palestina yang disurvei untuk tahu keterlibatan AS yang lebih mulia dalam mengamankan kesepakatan damai.

Buat memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Jajak pendapat tersebut dilakukan tak lama setelah UEA mengejutkan penuh orang dengan menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel.

Prioritas

Kebijakan imigrasi GANDAR disinggung dalam jajak pendapat itu. Sekitar 75% responden berharap tadbir Gedung Putih berikutnya akan memudahkan orang Arab mengunjungi AS.

Laporan terbaru menunjukkan banyak kaum muda Arab yang ingin pindah ke sungguh wilayah tersebut, terutama dari Lebanon, yang praktik korupsinya dan kerusakan ekonominya telah menyebabkan banyak awak putus asa.

Terkait perlunya AS menghadapi ekstremisme radikal Islam, cuma 24% yang mengatakan hal itu harus menjadi prioritas, dibandingkan secara 44% yang menyebut penyelesaian pertentangan Arab-Israel dan 37% yang menyebutkan terntang virus corona.

Masalah lama terpaut pemerintahan yang buruk dan lengah urus ekonomi – yang positif memicu protes Musim Semi Arab tahun 2011 – juga menjadi hal yang diperhatikan responden.