Dapatkah Donald Trump membalikkan hasil Pemilu Amerika Serikat?

Dapatkah Donald Trump membalikkan hasil Pemilu Amerika Serikat?
  • Anthony Zurcher
  • Reporter BBC News di Amerika Utara

Donald Trump kembali mengalami kemunduran di ikhtiar membalikkan kekalahannya di Pilpres AS, setelah para anggota kongres di Michigan memberi sinyal bahwa mereka tidak akan berusaha membiarkan proyeksi kemenangan Joe Biden pada negara bagian tersebut.

Dua legislator dari partai Republik berjanji buat mengikuti “proses normal” dalam memvalidasi suara setelah pertemuan di Gedung Putih.

Pada hari Jumat, Georgia memberi pukulan lain kepada Trump secara mensertifikasi kemenangan tipis Biden dalam negara bagian itu.

Biden, kandidat sejak partai Demokrat, hampir pasti mau dilantik pada 20 Januari sebagai presiden AS ke-46.

Kemenangan Biden pada sistem Electoral College, yang menunjukkan siapa yang menjadi presiden, diproyeksikan 306 versus 232 – jauh di atas 270 suara yang ia butuhkan untuk menang. Keunggulannya dalam suara publik secara keseluruhan mencapai lebih dari 5, 9 juta suara.

Trump, yang tidak banyak tampil di depan publik semenjak hari pemilihan tanggal 3 November, pada hari Jumat kembali meminta kemenangan tanpa dasar. “Saya menang, ngomong-ngomong, ” ujarnya, sambil membina pengumuman tentang harga obat.

Sekretaris pers Trump, Kayleigh McEnany, menuduh jalan dan partai Demokrat sebagai hipokrit.

“Ketika pada 2016 Presiden Trump menjelma presiden-terpilih secara sah, banyak dengan berusaha meremehkannya, mendiskreditkannya, mendelegitimasikannya, & menyangkal kemenangannya. Tidak ada teriakan untuk bersatu, tidak ada seruan untuk pulih, ” ujarnya.

“Jadi tengah setiap suara legal dihitung yuk jangan lupakan proses transisi yang Presiden Trump harus lalui dalam 2016 dan selama bertahun-tahun ia menjabat. ”

Apa langkah Trump selanjutnya?

Menyusul serangkaian kekalahan di pengadilan dalam ikhtiarnya menggugat hasil pemilu, tim halal Trump berharap dapat meyakinkan institusi legislatif yang dikuasai partai Republik di negara-negara bagian kunci buat mengabaikan hasil pemilihan dan mendeklarasikan Trump sebagai pemenang, menurut bermacam-macam media di AS.

Trump juga sudah menunjukkan niat untuk mengundang para-para legislator dari Pennsylvania, negara arah kunci lainnya yang dimenangkan Biden, ke Gedung Putih, demikian konfirmasi seorang pejabat senior kepada pacar BBC di AS, CBS News.

Tetapi pertemuan itu tidak ada pada jadwal publiknya akhir pekan tersebut, dan kota-kota di negara-negara arah yang disebut ‘Rust Belt’, dan Michigan, dijadwalkan mensertifikasi total suara mereka pada hari Senin.

Bahkan jika mereka benar-benar melakukannya, Trump masih perlu membalikkan hasil di kepala negara bagian lagi untuk melewati Biden di Electoral College.

Pengacara pati Trump, Rudy Giuliani, berkata dalam hari Kamis bahwa tim aksi Trump mencabut gugatan hukumnya di Michigan , wadah Biden memenangkan lebih dari 160. 000 suara.

Di Georgia , negara bagian telah mensertifikasi hasil penghitungan suara, yang memberi Biden keunggulan sebesar lebih lantaran 12. 000 suara setelah mereka melakukan penghitungan manual pada hampir lima juta surat suara.

Dapatkah Trump membalikkan buatan Pilpres?

Analisis Anthony Zurcher, reporter BBC News di Amerika Memajukan

Setelah jalan untuk mempertahankan jabatannya tertutup rapat, Presiden Trump boleh mengganti strategi untuk membalikkan buatan pemilu, dari strategi legal yang peluang suksesnya rendah ke strategi politik yang peluang suksesnya bertambah rendah lagi.

S trategi Trump, langkah demi langkah

Inilah yang mungkin akan dia lakukan:

  • Memblokir proses sertifikasi suara di sebanyak mungkin negeri bagian, baik melalui gugatan dasar maupun dengan mendorong pejabat lantaran partai Republik untuk mengajukan keberatan
  • Meyakinkan badan legislatif yang dikuasai partai Republik pada negara-negara bagian yang dimenangkan Biden dengan selisih suara tipis, untuk menolak hasil pemungutan suara karena telah ternoda oleh praktik kecurangan yang meluas
  • Meminta badan legislatif untuk kemudian menyampaikan suara Electoral College negara periode mereka, yang diberikan oleh para-para “elektor” pada 14 Desember, pada Trump alih-alih untuk Biden
  • Melakukan langkah-langkah tersebut dalam cukup banyak negara bagian – Wisconsin, Michigan, Pennsylvania, misalnya semrawut untuk mendorong Trump dari penerimaan suara totalnya saat ini yaitu 232 suara elektoral hingga melewati ambang batas kemenangan 269 bahana
  • Menarik Biden dari 306 suara elektoral yang telah ia dapatkan bahkan bisa efektif, karena kemudian hasil pemilu hendak ditentukan di DPR, yang meski dikuasai partai Demokrat, Trump mampu tetap diuntungkan di sana karena suatu aturan yang barangkali tidak diketahui banyak orang

Apa yang dilakukan Trump buat mewujudkan ini?

Ia memberi tekanan pada orang-orang yang dapat mengubah pilihan negara bagian.

Ketika warga Amerika memberikan suara dalam pemilihan pemimpin, mereka sebenarnya memilih dalam kontes negara bagian, bukan kontes nasional. Mereka memilih sejumlah elektor negeri bagian yang kemudian masing-masing mau memberikan satu suara untuk lengah satu calon presiden.

Para elektor ini biasanya mengikuti keinginan elektorat – di Michigan, misalnya, mereka semua harus memilih Joe Biden karena ia memenangkan negara bagian itu.

Pada hari Senin, dewan pem suara yang terdiri dari perut anggota partai Republik dan besar anggota Demokrat dijadwalkan bertemu buat menghitung suara dan secara formal mengonfirmasi bahwa suara 16 elektor diberikan kepada Biden.

Petunjuk pertama mengenai tekanan Trump terhadap negara-negara periode untuk mengabaikan total suara era ini muncul menyusul laporan bahwa ia memanggil pejabat partai Republik yang awalnya menolak mensertifikasi buatan pemilihan Detroit, kota terbesar di Michigan.

Peristiwa di mana dua karakter pejabat partai level rendah, pada antara ribuan penghitung suara negeri bagian di seluruh AS, mampu berbicara secara langsung kepada kepala AS sangatlah tidak biasa. Mereka pada akhirnya membalik keputusan buat memblokir proses tersebut – & kemudian, setelah panggilan Trump, mengungkapkan penyesalan karena telah membalik keputusan mereka.

Petunjuk tersebut menjadi bukti niat yang jelas ketika para atasan partai Republik di badan legislatif Michigan menerima undangan presiden ke Gedung Putih pada hari Jumat.

Kabar ini disertai laporan bahwa Presiden Trump berniat mencari jalan lain buat menekan badan legislatif di negara2 bagian kunci supaya meninjau kembali, dan mungkin membalikkan, hasil pemilihan di tempat mereka.

Hal yang lazimnya sekadar formalitas dalam pemilihan dengan normal – sertifikasi total pandangan di negara bagian oleh agen kedua partai – telah menjelma medan pertempuran terbaru dalam jalan Presiden Trump untuk mempertahankan tanduk dalam empat tahun ke pendahuluan.

Dapatkah Trump sukses?

Ini tak mustahil, tapi peluangnya sangat, benar tipis. Pertama-tama, Trump harus menegasikan hasil di banyak negara bagian, tempat Biden unggul sebesar puluhan ribu hingga lebih dari 100 ribu suara. Ini bukan tahun 2000, ketika hasilnya hanya bergantung pada Florida.

Lebih dari itu, penuh negara bagian yang disasar tim legal Trump – Michigan, Wisconsin, Pennsylvania, dan Nevada – mempunyai gubernur yang berasal dari Kelompok Demokrat yang tidak akan susunan diam selama semua ini berlaku.

Di Michigan, misalnya, Gubernur Gretchen Whitmer dapat memecat dewan pemilu dalam negara bagiannya dan mengganti itu dengan orang-orang yang bersedia mensertifikasi kemenangan Biden.

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Para gubernur dari Partai Demokrat juga dapat merespons dengan mengangkat jajaran elektornya sendiri yang pro-Biden, untuk beriring-iring dengan mereka yang dipilih oleh badan legislatif Republik, kemudian melupakan Kongres memutuskan grup mana yang akan diakui.

Bagaimanapun, ini tidak bermanfaat para pendukung Biden tidak khawatir. Meskipun peluang semua ini terjadi kira-kira sama dengan peluang Bumi dihantam meteor raksasa atau seseorang disambar petir saat memenangkan lotere, kemenangan yang dicuri pada bercak ini akan menjadi bencana kebijakan yang begitu dahsyat sehingga membayangkan skenario ini saja sudah cukup membuat Demokrat berkeringat dingin.

Legalkah strategi ini?

Trump telah menghabiskan banyak waktunya di Gedung Putih dengan meruntuhkan berbagai norma serta tradisi kepresidenan. Tampaknya, hari-hari terakhir masa jabatannya pun tidak mau jauh dari itu.

Tekanan yang diberikan Trump kepada pejabat pemilu dan badan legislatif di negara periode baru pertama kali ini berlaku atau kontroversial, tapi bukan bermakna tindakan itu ilegal.

Pada masa pangkal berdirinya negara AS, negara arah memiliki kekuasaan yang luas di dalam mengalokasikan suara elektoral, dan masih belum ada ketentuan dalam konstitusi bahwa mereka harus mengikuti pandangan terbanyak. Sejak itu mereka telah membatasi kekuasaan tersebut dengan menetapkan pilihan berdasarkan suara terbanyak, namun sistem asli yang mendasarinya masih berlaku.

Jika Presiden Trump sukses meyakinkan badan legislatif, misalnya di Michigan, untuk bertindak, Partai Demokrat diperkirakan akan mengajukan keberatan secara asas. Namun hukum itu sendiri tidak jelas, baik di tingkat nasional maupun di tingkat negara periode, mengingat hal seperti ini jarang dipersoalkan secara hukum.

Dapatkah negara-negara periode secara retroaktif mengubah hukum dengan mengatur cara mereka menjalankan pemilu? Mungkin saja. Namun keputusan kesimpulannya tetap di tangan hakim.

Adakah yang pernah melakukan hal sesuai ini sebelumnya?

Terakhir kali pemilihan yang hasilnya ketat melibatkan perebutan elektor terjadi pada tahun 2000 antara Al Gore dan George W. Bush. Pertarungan itu terjadi di satu negara bagian, Florida, tempat perbedaan suara antara kandidat hanya beberapa ratus suara. Keputusannya, Mahkamah Agung turun tangan & mencegah peninjauan kembali lebih lanjut – dan Bush menjadi presiden.

Untuk sengketa pemilu yang melibatkan penuh negara bagian, Anda harus balik hingga tahun 1876, persaingan jarang kandidat Republik Rutherford B. Hayes dan kandidat Demokrat Samuel Tildon.

Di episode itu, hasil yang dipersengketakan di Louisiana, Carolina Selatan, & Florida, berarti tidak ada kandidat yang dapat memenangkan mayoritas dalam Electoral College. Kebuntuan itu melempar pemilihan ke tangan DPR, yang akhirnya memihak Hayes, yang kaya Bush pada 2000 dan Trump pada 2016, memenangkan lebih sedikit suara secara nasional daripada lawannya.

Apa yang terjadi jika Donald Trump menolak meninggalkan Gedung Suci?

Jika upaya sang presiden menelungkupkan hasil pemilu gagal, pada 12: 01 siang tanggal 20 Januari, Joe Biden akan dilantik sebagai presiden AS ke-46 baik Trump mengaku kalah atau tidak.

Pada bintik itu, Dinas Rahasia dan militer AS boleh memperlakukan mantan presiden seperti siapapun yang berada dalam properti pemerintah tanpa izin.

“Sungguh keterlaluan yang ia lakukan, ” logat Biden dalam konferensi pers di hari Kamis. “Pesan yang benar merusak terkirim ke seluruh dunia tentang bagaimana demokrasi berfungsi. ”

Bahkan jika Trump tidak sukses, muslihat tak pandang bulunya dalam menggugat hasil pemilu menjadi preseden untuk pemilu di masa depan &, menurut jajak pendapat, mencederai keyakinan banyak warga Amerika pada bentuk dan institusi demokrasi AS.