Covid 19: Turki klaim vaksin Sinovac 91% efektif, pesanan pertama tiga juta dosis segera dikirim

Covid 19: Turki klaim vaksin Sinovac 91% efektif, pesanan pertama tiga juta dosis segera dikirim

vaksin sinovac

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan vaksin China, Sinovac Biotech, diklaim 91, 25% efektif, menurut hasil awal uji klinis III di Turki.

Menteri Kesehatan Fahrettin Koca mengatakan pemerintah China sepakat untuk mengirimkan pemesanan prima ke Turki pada Minggu (27/12).

Pengiriman pertama berjumlah tiga juta ukuran vaksin Sinovac dengan opsi 50 juta dosis lagi begitu vaksinasi dimulai bulan depan, dimulai secara petugas kesehatan dan kalangan dengan paling rentan.

Pemerintah Turki juga mengucapkan dalam beberapa hari ke pendahuluan akan menandatangani kesepakatan dengan Pfizer/BioNTech untuk 4, 5 juta ukuran, dengan opsi membeli 30 juta lagi dari perusahaan Amerika Serikat dan mitranya dari Jerman itu, kata Koca.

Hasil asal melalui penelitian 7, 371 sukarelawan di Turki itu jauh lebih baik ketimbang yang dilaporkan dalam uji coba vaksin yang cocok yang dilakukan secara terpisah di Brasil.

Peneliti di Brasil mengklaim vaksin itu “mencapai ambang batas efikasi” yang ditetapkan WHO, ataupun lebih dari 50%, berdasarkan petunjuk uji coba yang dirilis Rabu (23/12).

Namun sekali lagi, para pengkaji Institut Butantan di Brasil menangguhkan pengumuman hasil pasti tingkat efikasi vaksin atas permintaan perusahaan, dengan menimbulkan pertanyaan tentang transparansi pengembangan vaksin tersebut.

Sehari sesudahnya, peneliti di Turki mengatakan tidak ada efek samping yang parah selama tes coba yang mereka lakukan, melainkan seorang relawan yang mengalami anggapan alergi.

Efek samping yang ijmal disebabkan oleh vaksin tersebut merupakan demam, nyeri ringan dan sedikit kelelahan, kata mereka.

Sebanyak 26 dari 29 orang yang dinyatakan positif virus corona diberi vaksin suntikan hampa (placebo) .

Menteri Kesehatan Fahrettin Koca, mengatakan pemerintah akan menggunakan data itu untuk memberi lisensi di dalam vaksin tersebut.

“Kami sekarang tetap bahwa vaksin itu efektif dan aman [untuk digunakan] untuk warga Turki, ” kata Koca, seperti dikuti dari kantor informasi Reuters.

Seorang pria bekerja di laboratorium produsen vaksin China Sinovac Biotech di Beijing.

Ia juga mengucapkan bahwa para peneliti awalnya berencana untuk mengumumkan hasil setelah 40 orang terinfeksi, tetapi temuan tersebut menunjukkan bahwa para relawan mempunyai efek samping yang minimal setelah suntikan vaksin dan karena tersebut dianggap aman.

“Meski berisiko, kami tahu gambaran yang sangat ringan pada mana tiga [hasil tes] PCR [dinyatakan] nyata, tanpa demam atau masalah asimilasi… ”

“Kami dapat dengan mudah mengutarakan bahwa meskipun berisiko, ketiga orang itu mengalaminya dengan [gejala]sangat ringan, ” jelas Koca.

Sebelumnya, Sinovac Biotech menunda pengumuman hasil dari uji coba tahap akhir vaksin Covid-19 hingga Januari perlu mengkonsolidasikan data yang didapat dari Brasil dengan hasil uji sejak Indonesia dan Turki.

Hasil uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac pada Indonesia hingga kini belum diumumkan.

Ada lebih dari 1. 600 relawan yang telah disuntik dengan vaksin Sinovac.

Vaksin Sinovac yang dipesan Indonesia sebanyak 1,2 juta dosis tiba di Jakarta awal Desember lalu.

Selain itu ada 1, dua juta dosis vaksin Covid-19 keluaran Sinovac yang telah diimpor dan kini disimpan di ruangan penyimpanan Bio Farma, Bandung.

Hasil tes klinis di Brasil

Direktur Institut Butantan di Brasil, Dimas Covas, meminta vaksin itu “mencapai ambang pemisah efikasi” yang ditetapkan WHO, atau lebih dari 50%.

“Kami mencapai ambang kemanjuran yang memungkinkan kami buat mencari persetujuan penggunaan darurat” otorisasi dari badan pengawas [kesehatan] Brasil Anvisa, kata direktur Institut Butantan, Dimas Covas, laksana dikutip dari kantor berita AFP.

Sinovac Biotech, vaksin, Covid 19, virus corona, vaksin asal China

Institut Butantan menumpukan untuk mengungkap angka pasti sebab efikasi vaksin yang mereka tes coba pada 13. 000 relawan, dengan alasan terikat kontrak secara Sinovac.

“Tidak mungkin ada tiga hasil efikasi untuk vaksin dengan sama, ” kata Covas.

Ia mengatakan penundaan itu tidak ada hubungannya dengan efikasi vaksin, yang diharapkan menjadi salah satu dengan pertama disetujui untuk digunakan di Brasil.

Sama dengan WHO, badan pengelola kesehatan Argentina, Anvisa, menetapkan periode batas efikasi setidaknya 50% untuk vaksin selama pandemi.

Pejabat kesehatan mengatakan hasil uji klinis di Negeri brazil itu menjadi “momen untuk dirayakan”.

“Tujuan kami adalah mencapai lebih dari 50%. Jika jumlahnya 51%, itu akan menjadi penting untuk kami, terutama karena kami hidup di saat krisis kesehatan, ” kata pejabat kesehatan Sao Paulo, Jean Gorinchteyn, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.

Sinovac Biotech, vaksin, Covid 19, virus corona, vaksin asal China

Direktur Butantan Dimas Covas mengatakan tidak ada relawan yang divaksinasi dalam uji coba di Negeri brazil yang mengalami gejala Covid-19 yang parah.

Menurutnya, hal ini berkontribusi pada optimisme tentang kemanjuran vaksin tersebut.

Pakar imunologi Cristina Bonorino, dengan juga anggota komite ilmiah Bangsa Imunologi Brasil menganggap minimnya kejadian yang parah dalam uji klinis “akan sangat berguna untuk menyerbu pandemi”.

Namun, penundaan pengumuman buatan uji klinis tahap akhir tersebut ia sebut “merusak citra vaksin”.

Sinovac Biotech, vaksin, Covid 19, virus corona, vaksin asal China

“Mereka seharusnya tidak menunjukkan sesuatu yang di dalam akhirnya tidak mereka laporkan. Tersebut masalah yang lebih besar, ”

Brasil adalah negara pertama dengan menyelesaikan uji coba tahap simpulan vaksin Sinovac yang disebut CoronaVac, tetapi pengumuman hasilnya, yang mulanya dijadwalkan pada awal Desember, sudah ditunda tiga kali.

Penundaan terbaru merupakan pukulan bagi Beijing, yang langsung berlomba untuk mengejar ketertinggalan daripada produsen vaksin rivalnya dan hendak menambah kecaman bahwa pembuat vaksin dari China kurang transparan.

Covid-19

Hal ini juga prospek akan meningkatkan skeptisisme terhadap vaksin China di Brasil.

Presiden Jair Bolsonaro, seseorang yang skeptis akan virus corona yang mengatakan dia tak akan menerima vaksin Covid-19, telah berulang kali mempertanyakan vaksin China berdasarkan “asal-usulnya”.

Sebuah jajak kesimpulan awal bulan ini menunjukkan kalau setengah dari warga Brasil menolaknya.

Hasil positif para rival

Sinovac menjelma produsen vaksin China kedua yang mengumumkan hasil dari uji klinis tahap akhir.

Sebelumnya, Uni Emirat Arab mengumumkan vaksin dari kongsi vaksin China, National Pharmaceutical Group (Sinopharm) yang berbasis di Beijing, memiliki kemanjuran 86%.

Vaksin saingan dengan dikembangkan oleh AstraZeneca, Pfizer & Moderna juga telah membuahkan hasil yang positif.

Vaksin Covid-19

Vaksin Pfizer, yang dikembangkan dengan pacar dari Jerman, BioNTech, adalah vaksin Covid-19 pertama yang sepenuhnya terjamin, dengan vaksinasi yang sudah dimulai di Inggris, Amerika Serikat, & Kanada.

China telah memberikan vaksin virus corona eksperimental, termasuk suntikan yang dikembangkan oleh Sinovac, kepada kawanan berisiko tinggi di negara tersebut sejak Juli di bawah agenda penggunaan darurat.

Sinovac telah mendapatkan suara pasokan untuk vaksinnya dengan beberapa negara termasuk Indonesia, Turki, Brasil, Chili dan Singapura, dan pantas mengadakan pembicaraan dengan Filipina & Malaysia untuk potensi penjualan.