Covid-19: ‘Kami membayangkan pasien yang sudah parah, kasihan menunggu lama’, sejarah dua peneliti yang uji ratusan sampel pasien

Covid-19: 'Kami membayangkan pasien yang sudah parah, kasihan menunggu lama', sejarah dua peneliti yang uji ratusan sampel pasien

Dua orang petugas laboratorium menceritakan tantangan yang mereka hadapi dalam bertugas menguji ratusan sampel Covid-19.

Selain kacau terinfeksi, mereka terpaksa mengesampingkan studi masing-masing karena sebagian besar waktu mereka dicurahkan untuk penanganan virus corona baru itu.

Apalagi, saat ini Presiden Joko Widodo tengah menetapkan agar Indonesia bisa melakukan 30. 000 tes per hari.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ditunjuk negeri sebagai salah satu laboratorium mula-mula yang menguji sampel Covid-19 sejak Maret, beberapa saat setelah kasus pertama terkonfirmasi di Jakarta.

Diantara puluhan anggota yang terlibat di penanganan Covid-19 di lembaga tersebut adalah dua asisten peneliti, Edison Johar and Yora Permata Buah hati. Inilah kisah mereka:

‘Awa l nya kewalahan, tapi pelan-pelan bisa’ – Edison Johar, peneliti bujang

Edison Johar adalah seorang ilmuwan muda yang memulai kariernya sebagai peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta sejak perut tahun silam.

Sebelum virus corona mutakhir mewabah di Indonesia, sejak asal Maret lalu, pria berusia 28 tahun itu mengatakan ia mengabulkan penelitian di bidang arbovirus, atau virus yang menular lewat nyamuk.

Namun, Edison harus mengesampingkan penelitiannya ketika lembaganya diberi mandat oleh pemerintah Nusantara sebagai pusat untuk mengetes sampel dari pasien Covid-19.

Ia mengaku pendidikan yang ia tempuh tak mempersiapkannya untuk menghadapi pandemi laksana ini. Walaupun materi yang dia dapat berfokus pada teori, Edison mengaku tetap merasakan manfaatnya saat ini, setidaknya keterampilan untuk mengolah dan menganalisis sampel. “Jadi kan, nature kita kan riset, jadi terima spesimen itu nggak sebanyak yang biasanya ini, tiba-tiba banyak banget yah, nggak serupa yang biasa kita riset. Oleh karena itu dari manajemen sampel sampai data itu kita perlu upgrade . Nggak bisa pake jalan biasa kita buat riset, ” kata Edison.

“Kita testing membentuk ng gak cuma ulangan doang, ada data juga, tercampak ng gak salah, sampel A yang punya pasien A, biar nggak ke mana-mana. Pertama-tama nyana kewalahan sih bagian itu. Dari petunjuk, kemudian bagian lab, kita lab juga nggak biasa ngerjain segitu banyak, kita harus pelan-pelan improve juga, ” tambahnyaKini, Edison lebih banyak bertugas di bagian sequencing , atau pemetaan genom virus Sars-Cov-2. Hal itu, ia sebut, membantu dalam aspek merancang vaksin untuk Covid-19.

Proses yang kompleks ini dilakukan untuk memahami virus corona, tahu sampel mulai dari saat prima Covid-19 terdeteksi di Indonesia beserta menganalisis jika virus itu bertukar.

Satu diantara tujuannya, jelas Edison, adalah untuk memastikan vaksin yang disiapkan tepat sasaran. “Kalau dengan sequencing cuma untuk lihat berubah tidak yang di Indonesia, karena kan tak ada gunanya kita cek sesuatu [vaksin] yang nggak tersedia hubungannya atau kurang reaktif karena ada perubahan sedikit. Kan virus ini virus RNA, virus yang bisa dengan cepatnya berubah. Maka hubungannya disitu, lebih ke pedoman design vaksinnya, ” tutur Edison. Alumni Ilmu Biomedik dari Australian National University (ANU) ini mengatakan apapun perannya di dalam laboratorium, ia merasa termotivasi bisa ikut beserta dalam proses pengetesan dan sekaligus menambah pengetahuan.

Begitu pula dengan dialami Yora Permata Dewi, seorang peneliti yang bertugas menguji reaksi rantai polimerase, atau yang lumrah sebagai PCR, di laboratorium yang sama.

‘Pikiran saya membantu orang lain – Yora Permata Dewi, peneliti

Awalnya, Yora sempat khawatir terinfeksi Covid-19. Makin ia juga baru pertama kali masuk level keselamatan laboratorium tiga (BSL-3), yakni satu tingkat dalam bawah level teratas dari bidang bahaya. “Sejak ada pandemi ini, jadi baru ikut BSL-3. Kan ini patogennya Covid, jadi kita di BSL-3. Biasanya nggak semua karakter Eijkman bisa masuk situ, karena emang ada trainingnya segala macam itu. Jadi belajar hal baru juga pas pandemi ini, ” ujar Yora.

Asisten peneliti yang juga berusia 28 tahun itu, mengungkap sampel dengan diterima laboratorium lembaganya  terus beranjak seiring waktu.

Saat awal wabah merebak, lembaga itu menerima sekitar 30 hingga 250 sampel per keadaan. Angka itu terus meningkat, hingga pada bulan Juli, jumlah sempurna yang diterima dalam sehari menyentuh sekitar 800 sampel per keadaan.

Jelas ia harus menghabiskan masa lebih lama meneliti sampel-sampel tersebut, tetapi faktor itu tidak menurunkan semangatnya. “Pikirannya sih membantu karakter. Juga kepikiran , misalnya seorang individu menunggu hasil apakah dia positif atau minus, itu kan kadang-kadang mereka kayak anxious , risau, kira-kira positif atau negatif.

“Terus juga pasien yang udah di- ventilator (alat bantu napas) atau yang pula gawat, mesti dapat hasil dengan cepat. Jadi kita juga bekerja, kasihan juga pasiennya nunggu periode, misalnya, dia kan butuh pengobatan yang tepat dan cepat, ” kata Yora.

Lulusan Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mengaku tidak menyangka bakal bertandang dengan penanganan wabah begitu segera di jenjang kariernya, dimana ia baru dua tahun bertugas jadi peneliti.

Namun, ia merasa bermaslahat bisa bekerja sama dengan para-para senior yang sudah memiliki kemahiran sebelumnya, termasuk diantaranya dalam penanganan flu burung.

“Yang pastinya kita harus belajar dari sekarang ini untuk prepare untuk yah pasti ada pandemi lagi yang akan muncul. Jadi kita harus punya sepadan prosedur atau regulasi yang benar-benar bisa menangani pandemi, termasuk mencegah juga, ” ujar Yora.

Tolong dong patuhi protokol

Kepala bagian Hubungan Masyarakat, Kolaborasi dan Protokol Eijkman, Wuryantari Setiadi, mengatakan seluruh peneliti dari bermacam-macam laboratorium lembaga itu sejak depan memang sudah disatukan untuk berjalan dalam penanganan pandemi sebagai prioritas.

Wuryantari kini mengkoordinasi sekitar 90 orang lebih yang terlibat dalam kawasan lingkup yang berbeda-beda, mulai dari pengetesan sampel hingga riset vaksin Covid-19.

Sebagai koordinator, ia kendati berusaha menangani agar alur kerja terus terjaga.

“Jadi, ya makanya kita kemudian membuat roster, jadi dalam seminggu, satu kali WFH (bekerja dari rumah). Bagaimanapun kita kudu menjaga kesehatan sendiri juga membentuk, karena tenaga kita dibutuhkan buat pemeriksaan ini yang kita tidak tahu sampai kapan, ” prawacana Wuryantari via telepon.

Sejauh ini, ia mengaku belum tahu kapan pemeriksaan itu akan berakhir. Bagaimanapun juga, Wuryantari sebut hal itu terkadang menggerus semangat tim di zaman lelah.

“Kita ada waktu-waktu lelah juga dengan kondisi ini, makanya selalu suka kadang [berpikir] ‘wow, masyarakat yang ada dalam luar, tolong dong untuk mematuhi protokol kesehatan, soalnya kan datang kapan? ‘ Kita kan juga nggak akan mungkin terus menerus untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 ini, gitu kan?, ” ujarnya.