Covid-19 di Indonesia: Puluhan gaya kesehatan yang telah divaksin meninggal dunia, pemerintah setujui pemberian dosis ketiga

covid-19-di-indonesia-puluhan-tenaga-kesehatan-yang-telah-divaksin-meninggal-dunia-pemerintah-setujui-pemberian-dosis-ketiga-18

Tenaga kesehatan

Sumber gambar, Antara

Menteri Kesehatan Sifat Gunadi Sadikin mengatakan penyuntikan vaksin Covid-19 dosis ke-3 akan menggunakan vaksin Moderna, yang memiliki efikasi 94, 1%.

Keputusan ini diumumkan oleh Gajah Kesehatan Budi Gunadi Sakidin dalam konferensi pers secara virtual pada Jumat (09/07).

Sebelumnya, beberapa epidemiolog mengusulkan pemberian vaksin dosis ketiga bagi para gaya kesehatan di tengah meningkatnya jumlah kematian kolega itu akibat Covid-19 dan tingginya peningkatan kasus positif.

“Vaksinasi kita masih belum mencakupi seluruh target vaksinasi, oleh karena itu penting untuk kita pahami vaksinasi ketiga ini hanya diberikan kepada nakes, ” kata Budi.

Budi melanjutkan, vaksin dengan dipakai untuk dosis ke-3 ini adalah Moderna, buat memberi “kekebalan yang suntuk terhadap variasi-variasi mutasi virus yang ada” dan supaya para nakes “bisa konsentrasi bekerja”.

Baca juga :

“Mereka [nakes] harus kita lindungi mati-matian, ” sebut Watak.

Vaksin Moderna rencananya akan datang pada Minggu (11/07), dan pelaksanaan penyuntikan “diharapkan minggu depan mampu dimulai”, menurut Budi.

Dia tak menyebut alasan pemakaian Moderna untuk penyuntikan ukuran ketiga, namun sebelumnya, kira-kira epidemiolog menyebut efikasi Sinovac yang rendah dibanding vaksin lain sebagai alasan membakar perlunya booster .

nakes covid-19

Sumber gambar, Getty Images

“Efikasi Sinovac tersebut kecil 65, 3% dibanding vaksin lain yang di atas 70%. Efikasi tersebut terus akan menurun serta melemah seiring waktu, apalagi ini sekarang sudah enam bulan [sejak pemberian vaksin pertama bagi nakes pada Januari], ” kata Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, Senin (28/06).

Menurut data yang diberikan oleh pembuatnya, vaksin Moderna atau mRNA-1273 memiliki efikasi 94, 1%.

Indonesia mendapat derma empat juta dosis vaksin Moderna dari Amerika Konsorsium.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) MENODAI telah menyetujui penggunaan persetujuan darurat (EUA) beberapa keadaan yang lalu, seperti dikutip dari Detik.

Tuntutan dosis ketiga

Tenaga kesehatan

Sumber gambar, Antara

Pemberian dosis ketiga ini disebut sebagai penggerak untuk meningkatkan atau menjaga efikasi vaksin Sinovac dan juga melindungi tenaga kesehatan tubuh dari serangan varian virus baru, seperti Delta yang dilaporkan lebih menular.

Kejadian tersebut diungkapkan epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko dan Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman.

Tenaga kesehatan telah menerima vaksin Sinovac yang memiliki efikasi 65, 3% berdasarkan data BPOM yang dimulai sejak Januari mula tahun ini.

Baca juga:

Akan tetapi, epidemiologi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Windhu Purnomo, menghargai perlu dilakukan penelitian bertambah dahulu untuk melihat sumber virus yang menyerang nakes.

Jika berasal sebab varian baru, seperti Delta, maka tidak akan tersedia gunanya jika dilakukan vaksinasi dosis ketiga.

Berdasarkan data yang dihimpun sebab Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) diketahui 949 tenaga kesehatan meninggal karena Covid-19.

Dari jumlah tersebut, terdapat 20 dokter serta 10 perawat yang wafat walaupun telah menerima vaksin Sinovac – berdasarkan petunjuk Tim Mitigasi IDI serta Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Vaksin Sinovac yang digunakan oleh tenaga kesehatan di Indonesia.

Sumber tulisan, EPA

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, mengatakan pemberian vaksin ketiga perlu dilakukan, salah satunya, adalah karena efikasi vaksin Sinovac yang rendah.

“Efikasi Sinovac itu kecil 65, 3% dibanding vaksin lain yang di atas 70%. Efikasi itu terus hendak menurun dan melemah berbarengan waktu, apalagi ini saat ini sudah enam bulan [sejak pemberian vaksin pertama bagi nakes pada Januari], ” kata Yunis saat dihubungi, Senin (28/06).

Untuk itu, tambah Yunis, tenaga kesehatan perlu memperoleh imunisasi kembali, yaitu mas dosis ketiga.

Jadi, mendorong antibodi dalam tubuh mereka tetap kuat ataupun bahkan meningkat.

“Tidak ada masalah [bagi kesehatan jika divaksin ketiga], malah antibodinya akan meningkat dan lebih melindungi gaya kesehatan, ” kata Yunis.

Senada dengan itu, pemberian dosis ketiga diperlukan, menurut epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, karena munculnya varian virus corona yaitu Delta bahkan Delta Plus, yang lebih menular dan berbahaya.

“Pemberian vaksin ketiga, booster itu penting sekali untuk tenaga kesehatan, kalau memungkinkan lansia juga komorbid karena urusan varian baru ini, untuk meningkatkan proteksi, ” introduksi Dicky.

Dicky mengucapkan, usulan ini muncul, pula karena belum adanya bukti yang memadai atas efektivitas vaksin yang ada dalam melawan varian baru.

Booster ini sangat diperlukan untuk memperkuat respons antibodi terhadap varian baru, terutama Delta dan mungkin Delta plus. Selain meningkatkan imunitas, juga meningkatkan efikasinya dibanding ancaman varian baru, ” kata Dicky.

Vaksin Covid-19 yang diizinkan masuk ke Indonesia.

Epidemiologi dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, mendukung pemberian vaksin dosis ketiga, namun terdapat dua hal yang perlu diperhatikan.

“Pertama, persoalan stok vaksin yang terbatas, karena targetnya adalah menciptakan kekebalan kelompok, jadi apakah efektif memvaksin mereka dengan sudah dapat atau menyerahkan ke mereka yang belum divaksin? ” kata Windhu.

Kedua, apakah vaksin Sinovac efektif dalam menegah varian baru, sehingga perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu.

“Seperti contoh pada Bangkalan, Madura, ada lima nakes yang meninggal, mereka sudah dapat dua dosis vaksin. Saya curiga itu karena varian baru, tamsil mungkin varian Delta dari India yang memiliki daya tular tinggi dan kemampuan menghindari antibodi, ” introduksi Windhu.

“Nah kalau divaksin dosis ketiga, keempat, tak ada gunanya jika variannya berbeda dengan vaksin itu [Sinovac] dengan varian Wuhan. Sehingga menetapkan diriset dulu dengan pengurutan keseluruhan genom (w hole genome sequencing ), varian apa memang, ” tambah Windhu.

Tiga kemungkinan meninggal sesudah divaksin

(Foto ilustrasi) Sejumlah staf medis memakai baju pelindung dalam menangani para pasien Covid-19.

Sumber gambar, EPA

Dokter spesialis paru-paru dibanding Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Faisal Yunus, mengatakan ada tiga kemungkinan mengapa gaya kesehatan yang telah mendapatkan vaksin namun tetap wafat akibat Covid-19.

Kemungkinan mula-mula, nakes tersebut terkena virus sebelum atau saat cara vaksinasi sehingga vaksin belum membentuk antibodi.

“Vaksin pertama itu belum memiliki daya tahan antibodi. Tersebut baru mengkondisikan atau mempersiapkan antibodi. Vaksin kedua mutakhir mulai memproduksi antibodi serta hasil maksimal itu setelah satu bulan, ” prawacana Faisal.

Kedua, ialah pengaruh varian baru di mana vaksin dibuat untuk melawan varian lama sehingga ada kemungkinan vaksin tak berfungsi dengan baik.

Faktor ketiga adalah karena vaksin yang digunakan tidak efektif dalam melawan virus corona, terutama varian baru.

Belum ada rekomendasi WHO

Saat dikonfirmasi, Spesialis Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan soal saran vaksinasi dosis ketiga itu belum ada publikasi ilmiah & rekomendasi dari Organisasi Kesehatan tubuh Dunia (WHO).

“Dan, era ini tim peneliti dari Unpad [Universitas Padjajaran] yang melakukan uji klinis tahap tiga sedang mengabulkan pemantauan titer antibodi pascapenyuntikan dua dosis lengkah vaksin Sinovac. Nanti ini tentunya memberikan masukan bagi kami apakah perlu penambahan balik booster suntikan ketiga atau perlu memang pengulangan daripada awal, ” kata Nadia.

Nadia menambahkan, terkait dengan meningkatnya penularan Covid pada tenaga kesehatan dikarenakan beberapa faktor.

Antara lain, kasus Covid yang meningkat signifikan sehingga membuat para-para nakes bekerja keras serta menimbulkan kelelahan sehingga mereka rentan tertular.

“Faktor perolehan, faktor keterpaparan yang gembung ini menjadi faktor penularan tetapi 90% yang tertular tidak ada gejala dan gejalanya ringan. Sangat kecil yang gejala berat serta umumnya disebabkan karena adanya komorbid, ” ujar Nadia.

“Kita sudah melihat banyak nakes yang terkena, tapi dengan adanya vaksin maka memberikan perlindungan jadi dampak berat atau kematian bisa ditekan seminimal barangkali, ” katanya.

Efektivitas Sinovac dipertanyakan setelah bertambah dari 300 tenaga kesehatan tubuh di Kudus, Jawa Pusat terinfeksi virus corona.

Dari jumlah tersebut, bukti hingga 12 Juni 2021, 277 tenaga kesehatan dalam perawatan isolasi mandiri, & 193 lainnya sudah dinyatakan sembuh.

‘Antibodi saya tak meningkat’

Petugas berjalan di samping karangan bunga dukungan untuk tenaga medis dan staf Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta, (21/3).

Sumber gambar, Antara Foto

Seorang dokter ahli paru-paru di Jakarta, dengan tidak bersedia disebutkan namanya, menceritakan bahwa vaksin Sinovac yang diterimanya bulan berantakan tidak berdampak pada pengembangan antibodi dalam tubuhnya.

“Saya sudah divaksin Sinovac dua kali bulan semrawut. Antibodi saya reaktif dengan hasil 1. 61 u/ml. Tidak berdampak apa-apa. Vaksin ini tidak membentuk antibodi dalam tubuh saya, ” katanya kepada BBC News Indonesia.

Ia mengutarakan, hasil reaktif kemungkinan disebabkan dua hal, satu sebab dibentuk oleh antibodi masa ia terpapar Covid kira-kira waktu lalu atau hasil kecil dari vaksin.

“Tapi antibodi itu sesuai tidak ada karena kecil sekali. Teman saya hasilnya ada yang 200 dan saya hanya 1. 61, ” katanya.

Hasil tersebut ia dapat sesudah melakukan uji imuno serologi anti SARS-CoV-2 Kuantitatif di laboratorium beberapa waktu lalu. Menurutnya, nilai batas konsenterasi untuk plasma konvalesen merupakan 132u/ml.

Hingga kini, dia masih terus berpraktik & bekerja melayani pasien Covid-19 dan penyakit paru-paru lainnya.

Bertambahnya tenaga kesehatan dengan meninggal

Petugas medis berpose usai melaksanakan tes swab COVID-19 di Stasiun Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2020).

Sumber gambar, Antara Foto

Berdasarkan data Tim Mitigasi IDI — masukan dari organisasi profesi kedokteran — terdapat 949 gaya kesehatan yang wafat kelanjutan Covid-19 selama pandemi.

Rinciannya, sejak Maret 2020 hingga 26 Juni 2021, yaitu 401 dokter umum dan spesialis, 43 tabib gigi, 315 perawat, 150 bidan, 15 apoteker, dan 25 tenaga laboratorium medik.

Kemudian, terdapat dekat seribu tenaga kesehatan dengan sedang menjalani isolasi sendiri hingga perawatan intensif.

Untuk dokter sendiri, sesudah program vaksinasi dilakukan, ada 88 dokter yang meninggal.

Detailnya, 20 sinse telah menerima vaksin (10 orang dari Februari 2021-Mei 2021, dan 10 orang pada Juni 2021), 35 dokter belum divaksin, dan 33 dokter mash di konfirmasi.

Sementara itu, menurut data PPNI, terdapat 28 perawat meninggal akibat Covid pascaliburan Lebaran Mei tahun ini hingga 26 Juni lalu. Dari jumlah tersebut, 10 perawat telah menerima vaksin, 17 belum divaksin karena komorbid, & satu masih dalam pengesahan.

Ketua Umum DPP PPNI, Harif Fadhillah, mengutarakan faktor yang menyebabkan banyaknya perawat meninggal terinfeksi Covid adalah karena mereka berfungsi pada tempat yang mempunyai risiko tinggi terpapar, aib itu sendiri, dan keburukan penyerta.

Sementara itu mengenai usulan mengenai vaksin dosis ketiga bagi tenaga kesehatan, Harif belum mendengarnya.

“Tapi kalau rekomendasi dari para ahli & pakar, kami sangat membakar itu dilakukan. Intinya barang apa pun itu yang istimewa bisa memberikan tingkat kesejahteraan tinggi bagi para aparat, ” ujar Harif.

Berdasarkan data hingga (Senin 28/06), terjadi penambahan peristiwa lebih dari 20 seperseribu sehingga total hingga saat ini terdapat lebih dari dua, 1 juta konfirmasi pasti di Indonesia dengan bertambah 1, 85 juta sembuh.

Sementara itu, total meninggal meningkat 423 sehingga total 57, 561 orang.

Apa itu vaksin Sinovac?

Vaksin Sinovac yang digunakan tenaga medis di Indonesia.

Sumber gambar, NURPHOTO PER GETTY IMAGES

Vaksin Sinovac atau dikenal CoronaVac adalah virus Covid-19 dengan telak dinonaktifkan yang berniat untuk memicu sistem kekebalan tubuh dan memproduksi antibodi dalam melawan virus corona sehingga tidak terjadi infeksi.

Vaksin ini sudah mendapat izin penggunaan kritis dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) MENODAI.

Vaksin ini dikembangkan sebab Sinovac Biotech Ltd, dari China dan telah melewati uji klinis fase ketiga yang dilakukan di Brazil, Turki, dan Indonesia dengan efek perlindungan atau efikasi sebesar 65, 3%.