Covid-19 di Indonesia: Mengapa epidemiolog khawatir ada lonjakan peristiwa, walau rasio positif catat ‘rekor terendah’

covid-19-di-indonesia-mengapa-epidemiolog-khawatir-ada-lonjakan-kasus-walau-rasio-positif-catat-rekor-terendah-20

Sumber gambar, Moch Farabi Wardana/Getty

Pemerintah Indonesia mengeklaim angka positivity rate atau rasio positif Covid-19 di Indonesia mencatat rekor terendah, yaitu 3, 05%, namun hal ini diragukan seorang ahli penyakit menular lantaran pelacakan kontak ( tracing ) dan pengetesan (testing) yang dianggap masih rendah.

Apabila klaim angka positivity rate sebesar 3, 05% per tanggal 12 September itu sesuai kenyataan, oleh karena itu Indonesia sudah di lembah ambang batas minimal Sistem Kesehatan Dunia (WHO) yakni 5%.

Positivity rate merupakan persentase jumlah kasus positif terinfeksi virus corona dibagi dengan jumlah orang dengan menjalani tes atau pemeriksaan.

Seperti diketahui, apabila positivity rate suatu wilayah semakin tinggi, maka kondisi pandemi di daerah tersebut memburuk.

Tetapi jika rendah, akan terjadi sebaliknya.

Baca selalu:

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam kerap kerja dengan Komisi IX DPR, Senin (13/09), mengungkapkan rekor terendah angka positivity rate itu, seiring menurunnya kasus penularan Covid-19 pada Indonesia belakangan ini.

“Dari enam indikator WHO, buat kasus konfirmasi sudah menghunjam ke level satu, yaitu level yang paling cantik di bawah 20 peristiwa konfirmasi per 100. 000 penduduk per minggu… positivity rate-nya sudah turun ke batas normalnya WHO dalam bawah 5%, ” ungkap Budi Gunadi.

Sumber gambar, AKBAR TADO/ANTARA FOTO

Budi Gunadi juga mengeklaim bahwa upaya pelacakan kontak Covid-19 yang dilakukan pemerintah “sudah jauh membaik” sesuai kaki WHO.

Namun, epidemiolog daripada Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, standarisasi pelacakan kontak dan testing Covid-19 yang sudah digariskan pemerintah, tidak berjalan sepantasnya di lapangan.

“Kota-kota ataupun kabupaten tidak ada dengan melakukan tes secara ideal, kecuali Jakarta, tapi jika tracing-nya semuanya ‘hancur’, ” kata Tri Yunis Miko Wahyono kepada BBC News Indonesia, Senin (13/09).

Sumber gambar, GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO

Untuk itulah, Tri Yunis meminta pemerintah Indonesia biar memastikan agar data-datanya terkait penurunan kasus Covid-19 itu “dikonfirmasi dengan baik”.

“Makanya saya ingatkan kepada pemerintah, kalau datanya tidak mampu dipastikan, saya khawatir bakal terjadi lonjakan [kasus], ” ujarnya.

Baca juga:

“Kalau tidak standar tesnya, kemudian juga kontak tracing-nya tidak penumpu, maka kemudian angka dengan dibacakan bahwa ada penurunan level itu, ya, bermanfaat angkanya semu, ” tambahnya.

Temuan tiga kasus terpaut pelacakan covid-19 di praja Makassar (Sulsel), dan praja Kendari (Sulawesi Tenggara), dengan dilaporkan wartawan setempat pada BBC News Indonesia, juga menguatkan kekhawatiran pakar keburukan menular tersebut.

Tengah, pakar permodelan matematika dibanding Institut Teknologi Bogor (ITB) Nuning Nuraini mengatakan, kemerosotan positivity rate di Indonesia tidak terlepas dari kemerosotan kasus Covid-19 di Nusantara sejak Agustus lalu.

Sumber gambar, Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

“Memang tampak menurun, kapasitas tes juga tinggi di sekitar Juli karena benar banyak kasus ditemukan, akan tetapi seiring dengan penurunan peristiwa maka jumlah orang dengan di tes juga menyusut, dan hal ini berpengaruh pada positivity rate yang turun, ” kata Nuning dalam pesan tertulis pada BBC News Indonesia, Senin (13/09),

“Natural sebenarnya, tetapi jika kita ingin tahu dengan ‘baik’ situasinya, saat ini sebenarnya waktu buat melakukan sampling test untuk memastikan bahwa kondisinya sungguh ‘aman’, ” tambahnya.

Sebelumnya, WHO menyoroti angka positivity rate Covid-19 di Nusantara yang sudah di lembah batas aman 5%.

“Sejak catatan mingguan 30 Agustus hingga 5 September, angka positivity rate meluncur menjadi 6, 6%, dari pekan sebelumnya 12, 1%, ” ungkap WHO di laporan mingguan yang dirilis Rabu (08/09) lalu.

Baca juga:

Pada Indonesia, peningkatan tajam positivity rate terjadi pada Juli 2021, yaitu melampaui 30% dan 40%, ketika berlaku lonjakan kasus COVID-19 dalam atas 40. 000 tenggat 50. 000 setiap keadaan.

Angka ini lebih agung dari puncak kasus sebelumnya per Desember 2020 mematok Januari dengan positivity rate mencapai 28, 8%.

Urusan di Sulawesi Tenggara, apakah pelacakan berjalan ideal?

Shally Maulana, 46 tahun, menceritakan apa yang dialami keluarganya meminta layanan kesehatan puskesmas di kampung halamannya di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Di pertengahan Juli 2021, tanah air Kendari berstatus zona merah dengan tingkat persebaran Covid-19 tertinggi dari kabupaten ataupun kota lainnya di daerah itu.

Sumber gambar, Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO

Shally, yang tinggal di Banda Aceh, menghubungi ibunya berantakan 72 tahun – dengan mengurung diri di kamar terpisah untuk menghindari kontak erat dengan orang-orang serumah. Saat itu ibunya sudah menunjukkan gejala Covid-19.

Dia kemudian menghubungi puskesmas setempat untuk meminta bantuan serta dijanjikan untuk membantunya. Namun kenyataannya itu tak sudah terjadi.

Alasanya, mereka tak bisa menemui ibunya karena sibuk dalam proses pemakaman para pasien Covid-19 yang meninggal.

“Akhirnya awak mendapat bantuan ambulance sejak tempat lain, bukan tempat tinggal kami, ” ungkap Shally kepada wartawan di Kendari, Riza Salman, yang mengadukan untuk BBC News Indonesia, Senin (13/09).

Sumber tulisan, Asuh Suhartono/ANTARA FOTO

Berdasarkan hasil tes swab antigen dari rumah sakit terdekat, ibu Shally dinyatakan terpapar Covid-19 dan mengalami isyarat ringan dan dipersilahkan kembali untuk menjalani isolasi mendiri.

Sehari setelah itu, kurang petugas Puskesmas baru datang melakukan pengecekan kesehatan karakter serumah.

“Setelah itu tidak ada sama sekadar (pengecekan) hingga beliau segar. Tidak ada! ” ungkapnya. “Apakah selanjutnya di follow up dengan tracking? Tidak ada juga. Berhenti pada situ saja. ”

Kok puskesmas terkendala dalam cara pelacakan – kasus di Sulawesi Selatan

Ernianti, staf kesehatan di Puskesmas Barang Lompo, kota Makassar, yang terlibat dalam metode pelacakan kasus Covid-19, mengaku pernah mendapati beberapa puak pasien yang menolak buat ditemui.

Rata-rata pasien atau pihak keluarga yang menyimpan kontak erat ini menumpukan karena mereka takut isolasi, katanya kepada wartawan dalam Makassar, Darul Amri yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin (13/09) malam.

“Kita arahkan swab antigen tapi mereka itu tak mau, itu kendalanya tidak mungkin juga dipaksa, ” kata Ernianti.

“Bahkan yang kontak eratnya yang sudah positif terus dilakukan tracing ke rumahnya siapa-siapa kontak eratnya dan mereka menolak, ” tambahnya

Menurutnya, sebelum petugas puskemas melaksanakan pelacakan, mereka melakukan pengarahan lebih dulu, tapi itu pun ditolak.

Sumber tulisan, Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

“Mereka itu tidak mau, ada sih sebagian yang sedia dan ada sebagian tak mau. Kalau pemaksaan kami tidak bisa paksa, cuma kita hanya bisa pantau, apakah selama lima keadaan dia bergejala kita pertama koordinasi kita pantau semua, ” ujarnya.

Temuan dalam lapangan menunjukkan kendala terbesar yang sering ditemui awak tracer adalah keluarga anak obat menolak dipantau oleh bagian puskesmas, bahkan ada dengan mengganti nomor kontak (telpon) yang didaftarkan.

Seorang warga Makassar, Lia, yang berumur 34 tahun, dan sudah terpapar Covid-19, mengaku dirinya tak melaporkan kasusnya ke puskesmas terdekat, karena khawatir mendapat stigma.

“Kenapa saya tidak melapor ke puskesmas karena waktu itu pendirian orang terhadap orang covid ‘kan perlakuannya lebih buruk dari pada perampok, ” ungkapnya kepada wartawan pada Makassar, Darul Amri, Senin (13/09).

Lalu dia memilah melakukan isolasi mandiri di rumahnya, sembari setiap 10 hari melakukan swab, ternyata pada hari ke 10, hasilnya negatif.

Kementerian Kesehatan akui ada sandungan

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Nusantara menyebut sudah ada 16 provinsi yang melaporkan angka positivity rate di lembah 5%, namun hal itu tidak terlepas dari kelemahan di lapangan, kata salah-seorang pejabatnya.

Sumber gambar, Kuncoro Widyo Rumpoko/Getty

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, tidak kurang provinsi yang belum memperbaharui status kasus Covid-19 dalam wilayahnya, utamanya angka maut akibat Corona.

Dia mengungkapkan hal itu disebabkan sebanyak faktor, seperti prosedur tata laksana berjenjang, mulai level RT, RW, Kecamatan, Kelurahan, hingga Disdukcapil untuk menyatakan penderita meninggal akibat COVID-19.

“Meskipun kasus covid-19 menurun sedang banyak provinsi yang belum memperbarui status kasusnya dengan telah berusia lebih daripada 21 hari, hal itu terjadi karena adanya keterlambatan dalam melakukan input masukan kematian ke dalam pola, ” katanya dalam pancaran pers PPKM, Rabu (08/09).

“Belum lagi ada keterbatasan para nakes untuk tidak bisa langsung menginput petunjuk data kematian karena tingginya beban kerja dalam menjalankan tingginya kasus aktif di dalam saat itu, ” sambung dia.

Ahli penyakit menular dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengiakan ada penurunan kasus Covid-19 di Indonesia, namun tempat meragukan upaya pelacakan & pengetesan sudah berjalan ideal.

Itulah sebabnya, Tri Yunis meragukan pula klaim negeri Indonesia bahwa angka positivity rate atau rasio tentu Covid-19 di Indonesia mengecap rekor terendah, yaitu 3, 05%.

“Angka positivity rate harus terukur dari nilai tesnya harusnya standar serta kontak tracingnya harus pengampu pula, ” kata Tri Yunis kepada BBC News Indonesia, Senin (13/09).

Sumber gambar, Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO

Dari hasil inspeksi, dua proses itu tak berjalan sesuai standar yang sudah digariskan WHO, walaupun pemerintah Indonesia sudah menyusun aturan teknisnya.

“Jadi, nilai terendah [positivity rate] itu menjadi tidak terstandarisasi, karena di Indonesia tesnya satu per 1. 000 populasi per hari ataupun per minggu.

“Kemudian, semua kabupaten dari 514 kabupaten, cuma provinsi DKI Jakarta atau 5 kota yang standar. Yang lainnya enggak standar, ” jelasnya.

Serupa itu pula kontak tracing-nya. Menurutnya, harus ada pemeriksaan PCR pada semua kontak secara orang yang terpapar Covid-19.

“Kontak tracing itu mulia kasus akan dikontak sedikitnya 20 atau 30 karakter, menurut WHO, tapi di Indonesia kontak tracing-nya perut sampai delapan, bahkan sama enam orang, ” perkataan Tri Yunis.

“Itu berarti rata-rata yang di-tracing hanya keluarga, ” katanya.

Sumber gambar, ARDIANSYAH/ANTARA FOTO

“Kalau itu tidak standar tesnya, kemudian juga kontak tracing-nya tidak standar, maka kemudian angka yang dibacakan kalau ada turun level itu, ya, berarti angkanya imajiner, ” tandas Tri Yunis.

“Kalau cara mengukurnya lupa, ya, akan tidak terlihat ada yang hilang ataupun ada yang tidak terlaporkan.

“Jadi kalau angka tersebut tidak terlaporkan, saya curiga Indonesia [kasus covid-19] tiba-tiba akan tinggi teristimewa, ” tandasnya.

Dalam kerap kerja dengan Komisi IX DPR pada Senin (13/09), Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengeklaim bahwa upaya penyelidikan kontak Covid-19 yang dilakukan pemerintah “sudah jauh membaik” sesuai standar WHO.

Wartawan di kota Makassar, Sulawesi Selatan, Darul Amri dan wartawan di tanah air Kendari, Sulawesi Tenggara, Riza Salman, ikut berkontribusi di dalam laporan ini.