Covid-19 di India: Warga gelagapan tabung oksigen dan obat-obatan di pasar gelap, harganya meroket

covid-19-di-india-warga-memburu-tabung-oksigen-dan-obat-obatan-di-pasar-gelap-harganya-meroket-10

Warga hendak membeli oksigen, India, Covid-19

Sumber gambar, Getty Images

Ketika rumah sakit-rumah rendah di Delhi dan banyak kota lainnya kehabisan ranjang, warga India terpaksa mencari cara-cara lain untuk merawat pasien Covid-19 di vila, lapor wartawan BBC News di Delhi, Vikas Pandey.

Banyak diantara mereka mencari di pasar gelap meskpun harga buyung oksigen, oksigen kosentrator dan obat-obatan yang diperlukan telah meroket. Selain itu, obat-obatan yang diragukan keasliannya selalu menjamur.

Langkah itu antara lain dilakukan oleh Anshu Priya. Ia kandas mendapatkan tempat tidur di rumah sakit di semesta kota Delhi atau pada kawasan pinggiran Noida buat ayah mertuanya padahal status kesehatannya memburuk.

Anshu menghabiskan waktu sehari penuh mencari tabung oksigen namun tidak juga berhasil.

Ia akhirnya memeriksa tabung oksigen di rekan gelap. Ia terpaksa merogoh koceh 50. 000 rupee (atau sekitar Rp9, 6 juta) padahal harga normalnya 6. 000 rupee (sekitar Rp1, 1 juta) per tabung.

Karena ibu mertuanya juga kesulitan bernapas, Anshu tahu ia mungkin tak akan bisa mendapatkan tabung oksigen lagi di pasar gelap atau bisa membayarnya.

A public notice hangs outside Shanti Mukund Hospital notifying shortage of oxygen beds, on April 22, 2021 in New Delhi, India.

Sumber gambar, Getty Images

Kejadian ini tidak hanya dialami warga di Delhi tetapi juga di Noida, Lucknow, Allahabad, Indore dan begitu banyak kota lainnya. Warga berusaha mati-matian untuk memberikan perawatan di sendi.

Namun sebagian luhur penduduk India tidak berpunya melakukannya. Sejauh ini telah muncul laporan bahwa sebanyak warga sekarat di pintu rumah sakit karena mereka tidak mampu membeli obat-obatan yang diperlukan dan oksigen di pasar gelap.

BBC menghubungi penyalur tabung oksigen dan rata-rata mematok harga 10 kali lipat dari harga normal.

Kondisi berbahaya khususnya berlaku di Delhi dengan segenap tempat tidur ruang ICU sudah habis. Keluarga yang dapat membayar akhirnya mempekerjakan pembela secara mandiri dan mengabulkan konsultasi daring dengan dokter untuk menyelamatkan anggota puak.

Tetapi warga harus berjuang keras untuk mendapatkan servis tes darah hingga penggambaran CT atau sinar x.

Laboratorium penuh serta diperlukan waktu hingga tiga hari untuk menunggu hasil tes. Kondisi ini menyulitkan para dokter untuk pendidikan perkembangan penyakit pasien.

Penjagaan CT juga digunakan sebab dokter untuk memeriksa status pasien tetapi untuk mendapatkan pelayanan itu, orang kudu menunggu sampai berhari-hari.

Tes PCR juga memerlukan berhari-hari sampai hasilnya keluar.

Membeli obat di pasar gelap

Seorang warga, Anuj Tiwari, menyewa perawat buat membantu merawat saudaranya dalam rumah setelah begitu penuh rumah sakit menolaknya.

Sebagian rumah sakit beralasan tak mempunyai ranjang dengan tersisa dan sebagian lainnya mengatakan tidak menerima pasien baru karena adanya ketidakpastian tentang kelanjutan suplai oksigen. Sejumlah pasien meninggal negeri di Delhi karena kehabisan oksigen.

Seorang perempuan menangis di krematorium

Sumber gambar, Sumit Kumar

Rumah sakit-rumah sakit di ibu kota India itu mengeluarkan peringatan harian bahwa oksigen yang mereka miliki hanya cukup untuk beberapa jam saja. Negeri menanggapinya dengan mengirimkan tangki oksigen yang mencukupi tujuan sehari.

Seorang sinse di Delhi menceritakan bagaimana rumah sakit beroperasi & “sekarang muncul ketakutan kalau tragedi besar mungkin terjadi”.

Dengan kondisi rumah sakit semacam itu, Tiwari mengeluarkan uang banyak untuk mengambil konsentrator – yang bisa mengekstrak oksigen dari suasana – agar saudaranya lestari bisa bernapas.

Dokter meminta Tiwari membeli obat antiviral remdesivir. Di India, remdesivir telah diberi lampu hijau penggunaan darurat dan lazim diresepkan dokter.

Tiwari tak bisa menjumpai obat itu di seluruh apotek dan akhirnya ia berpaling ke pasar kelam. Kondisi saudara laki-lakinya tetap memburuk dan dokter yang merawatnya mengatakan ia kira-kira akan segera memerlukan pembelaan di rumah sakit. Dalam sana ia kemungkinan hendak diberi obat remdesvir.

“Tak ada tempat rebah. Apa yang seharusnya beta lakukan? Bahkan saya tidak bisa membawanya ke mana pun karena saya telah menghabiskan uang banyak & saya kehabisan uang saat ini, ” ungkapnya.

Harga remdesivir 100 mg biasanya US$12-51 (sekitar Rp174. 000-768. 000) tetapi di pasar gelap, obat itu dijual secara harga US$330-1. 000 (sekitar Rp4, 8 juta-14, 5 juta).

Warga India, Covid-19, oksigen

Sumber gambar, Getty Images

BBC menghubungi sebanyak penjual obat-obatan di pasar gelap yang mengatakan persediaan terbatas sehingga mereka menetapkan harga begitu tinggi.

Pemerintah India mengeluarkan kerelaan kepada tujuh perusahaan buat memproduksi remdesivir di negara itu dan mereka diperintahkan untuk menggenjot produksi.

Menurut epidemiolog dr Lalit Kant, keputusan meningkatkan penerapan itu telah terlambat & seharusnya sudah disiapkan buat mengantisipasi gelombang kedua.

“Tetapi entah bagaimana caranya obat itu tersedia dalam pasar gelap, jadi tersedia kebocoran dalam sistem suplai yang tak terkendalikan sebab pihak redulator, ” sebutan dr Lalit.

“Kami tidak memetik pelajaran dari gelombang pertama. ”

Obat palsu

Obat remdesivir tiruan juga muncul di rekan gelap. Kepada seorang distributor, BBC mempertanyakan keaslian obat karena nama produsennya tidak tertera dalam daftar perusahaan yang memegang izin produksi di India. Namun jiwa penyalur hanya menjawab “100% asli”.

Tulisan dalam lapis obat penuh dengan kelengahan ejaan. Tetapi si penjual itu hanya mengangkat bahu dan menyarankan BBC untuk melakukan pengetesan di laboratorium. Nama perusahaan yang terekam dalam bungkus obat itu juga tidak muncul dalam internet.

Warga menunggu untuk mengambil jenazah anggota keluarga di Rumah Sakit Maulana Azad Medical College ew Delhi, India.

Sumber gambar, Getty Images

Tetapi warga begitu putus asa sehingga itu tetap saja membeli obat-obatan yang keasliannya diragukan. Sebesar warga juga ditipu. Mereka terus menerus saling berbagi nomer suplier yang menyimpan segala keperluan, mulai sejak oksigen hingga obat-obatan. Tetapi tak satu pun nomer telepon itu diverifikasi.

“Begitu saya mengirimkan uangnya, pemilik nomer langsung memblokir nomer saya, ” cerita seorang pekerja di bidang teknologi informasi yang tidak suka namanya ditulis.

Ia memperoleh nomer itu dari Twitter ketika perlu segera mengambil tabung gas dan remdesivir. Pemilik nomer memintanya menutup uang muka 10. 000 rupee.

Keputusasaan mendorong karakter mempercayai apa saja pada saat-saat genting dan tampaknya menyuburkan pasar gelap. Beberapa negara bagian berjanji membinasakan pasar gelap obat remdesivir dan telah pula melakukan penangkapan. Tetapi pasar kelam tampaknya tidak terpengaruh.

Patuh Anuj Tiwari, orang-orang serupa dirinya tidak mempunyai opsi lain kecuali membayar lebih.

“Tampaknya kami tidak bisa mendapatkan peratawan dalam rumah sakit, dan saat ini kami tidak bisa menyelamatkan nyawa anggota keluarga tercinta bahkan di rumah sendiri, ” pungkasnya sebagaimana dilaporkan oleh wartawan BBC News, Vikas Pandey.