Covid-19: Anggaran kesehatan Rp75 triliun terakhir keluar 1, 53%, Presiden Jokowi: ‘Tunggu apa lagi? ‘

Covid-19: Anggaran kesehatan Rp75 triliun terakhir keluar 1, 53%, Presiden Jokowi: 'Tunggu apa lagi? '

Pemimpin Joko Widodo meminta pencairan taksiran kesehatan pada masa pandemi Covid-19 dipercepat dan, jika perlu, memangkas prosedur di Kementerian kesehatan.

“Saya minta pembayaran buat pelayanan kesehatan yang berkaitan secara Covid-19 ini dipercepat pencairannya. Jangan sampai ada keluhan, ” prawacana Presiden Jokowi sebagaimana dikutip jawatan berita Antara , Senin (29/06).

Dalam Rapat Terbatas Percepatan Pengerjaan Dampak Pandemi Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta, presiden meminta prosedur di Kementerian Kesehatan tidak bertele-tele sehingga pembayaran klaim rumah kecil serta insentif bagi para gaya medis dan petugas laboratorium bisa segera dicairkan.

“Kalau aturan di Permen terlalu berbelit-belit ya disederhanakan, ” ujar Presiden Jokowi merujuk Peraturan Menteri (Permen).

“Kita nanti apa lagi kalau anggarannya telah ada? ” tanyanya.

Setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo Maret silam, pemberian motivasi dan santunan bagi tenaga medis yang menangani corona telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan.

Dilansir dari laman formal Kementerian Kesehatan, sasaran pemberian insentif adalah tenaga medis, baik aparatur sipil negara (ASN), non-ASN, maupun relawan yang menangani Covid-19 di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, mengucapkan insentif tersebut telah disalurkan semenjak 22 Mei silam.

Namun, sejumlah tenaga medis melaporkan belum mendapat insentif yang dijanjikan pemerintah – sebagian dari mereka malah dirumahkan. Sejauh ini pemerintah beralasan keterlambatan pencairan insentif karena proses verifikasi.

Anggaran kesehatan baru ca ir 1, 53%

Sebelumnya, dalam Sidang Kabinet Paripurna di 18 Juni 2020, Presiden Jokowi mengingatkan kepada para menteri untuk mempercepat belanja kementerian.

Video arahan Presiden Jokowi tersebut baru dikeluarkan oleh Biro Pers, Media dan Informasi Tata usaha Presiden pada kanal Youtube Tata usaha Presiden pada Minggu (28/06).

Nada suara Kepala Jokowi dalam video itu merebak meninggi. Salah satu yang disinggung adalah soal belanja kesehatan.

“Untuk pemulihan ekonomi nasional, misalnya saya berikan contoh, bagian kesehatan itu dianggarkan Rp75 triliun, baru keluar 1, 53% coba! ” cetus Jokowi.

Dalam video tersebut, Jokowi juga menyinggung pembagian bantuan sosial ataupun bansos yang belum mencapai 100%

“Bansos yang ditunggu masyarakat segera keluarkan. Kalau ada masalah lakukan tindakan-tindakan lapangan, meskipun sudah lumayan tapi baru agak, ini extra ordinary harusnya 100 persen, ” tegasnya.

‘Apa nggak punya perasaan? ‘

Presiden Jokowi mengamati bahwa kinerja para kabinet & jajarannya layaknya dalam situasi umum.

“Lah kalau hamba lihat bapak ibu dan saudara-saudara masih melihat ini sebagai sedang normal, berbahaya sekali. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extraordinary, ” kata Jokowi kepada Kabinet Indonesia Maju dalam rapat terpatok 18 Juni 2020 lalu, bagaikan yang ditayangkan kanal YouTube Setpres pada Minggu (28/06).

Dengan suara meninggi, Jokowi mengutarakan kejengkelannya atas kinerja tersebut.

“Saya lihat, masih penuh kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di danau. Ini apa nggak punya perasaan? Situasi ini krisis! ” tegas Jokowi.

Presiden juga mengancam akan membubarkan lembaga dan penguraian kabinet jika diperlukan.

“Langkah apapun yang extraordinary akan kami lakukan. Untuk 267 juta kaum kita. Untuk negara. Bisa selalu, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle . Udah kepikiran ke mana-mana saya. Entah bagi Perppu yang lebih penting teristimewa. Kalau memang diperlukan. Karena sungguh suasana ini harus ada, situasi ini tidak, bapak ibu tidak merasakan itu sudah, ” kata pendahuluan Jokowi sambil mengangkat kedua tangannya.