Berbaur Tangkap: Kisah perempuan diculik untuk dinikahi di Sumba, ‘menangis sampai tenggorokan kering’

Berbaur Tangkap: Kisah perempuan diculik untuk dinikahi di Sumba, 'menangis sampai tenggorokan kering'

Para pejabat pemerintah daerah Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menandatangani kesepakatan menolak praktik ‘kawin tangkap’ demi meningkatkan perlindungan perempuan dan anak.

Kesepakatan itu dibuat sesudah muncul video viral pada akhir Juni lalu yang memperlihatkan seorang perempuan di Sumba dibawa dengan paksa oleh sekelompok pria di sebuah praktik yang dikenal bangsa setempat dengan sebutan ‘kawin tangkap’, atau penculikan untuk perkawinan.

Menanggapi video itu, negeri melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan serta Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menyatakan prihatin.

Dia kemudian berkunjung ke Sumba pada pekan lalu untuk mempercakapkan permasalahan praktik itu, yang dia sebut sebagai bentuk kekerasan kepada perempuan dan anak dengan mengatasnamakan budaya.

Sejumlah motor perempuan mendorong pemerintah daerah buat tegas menanggapi praktik ‘kawin tangkap’.

Alasannya, hal tersebut dianggap sebagai bentuk ketidakadilan yang berlapis bagi perempuan dan pula menimbulkan stigma bagi korban dengan berhasil keluar dari penculikan.

Adapun pengamat budaya mengucapkan hingga kini perdebatan terus berlanjut terkait asal usul praktik itu.

Ketidaktegasan untuk menghentikannya juga dianggap sebagai kausa kejadian terus berulang.

‘Saya tidak punya kekuatan’

Citra, bukan nama sebenarnya, mendongengkan praktik ‘kawin tangkap’ dia alamiah saat tinggal di Kabupaten Sumba Tengah pada 2017 lalu.

Ia mengaku dirinya ditangkap dan ditahan selama berhari-hari oleh pihak keluarga yang menginginkannya sebagai menantu.

Pada Januari tahun itu, Citra berfungsi di sebuah lembaga swadaya bangsa setempat dan diminta ikut kerap oleh pihak yang ia sebut janggal dari keseharian tugasnya.

Meski demikian, ia memenuhi tanggung jawabnya dan menghadiri pertemuan itu.

Kira-kira satu jam setelah pertemuan itu berjalan, Citra mengatakan bahwa mereka meminta untuk berpindah tempat.

Citra mengiyakan dan hendak menghidupkan motornya masa sejumlah orang tiba-tiba mengangkat dan membawanya ke dalam sebuah mobil.

Wanita dengan saat itu berusia 28 tahun itu menjerit dan meronta-ronta mencoba melepaskan diri.

“Tapi saat itu ada dua orang yang memegang saya di perempuan (mobil). Saya tidak punya kekuatan, ” tuturnya sambil mengingat kejadian itu kepada BBC News Nusantara melalui telepon, Senin (06/07).

Dalam perjalanan, ia mengirimkan SMS kepada keluarga dan pacarnya saat itu untuk mengatakan bahwa ia dibawa lari.

“Sampai di rumah pelaku, sudah banyak orang, sudah pukul gong, pokoknya [menjalankan] ritual yang sering terjadi ketika orang Sumba bawa lari perempuan, ” jelas Citra.

Ritual dan rayuan

Dia mengatakan ia terus melakukan pertentangan dan berusaha untuk mengelak sebab ritual-ritual yang dianggap dapat membantu menenangkan perempuan yang ditangkap, bagaikan penyiraman air pada dahi.

“Saya naik ke pintu rumah adat mereka, normal ada ritual siram air. Jika istilah orang Sumba, ketika disiram air, kita tidak bisa balik, tidak bisa turun lagi dibanding rumah tersebut. Tapi karena aku masih dalam keadaan sadar era itu, air tidak kena pada dahi tapi kena di besar. ”

“Terus hamba tetap dibawa masuk ke sendi. Di situ saya protes, hamba menangis, saya banting diri, pokok (motor) yang saya pegang saya tikam di perut saya sampai memar. Saya hantam kepala hamba di tiang-tiang besar rumah, maksudnya supaya mereka kasihan dan mereka tahu saya tidak mau, ” kata Citra.

Ia menambahkan bahwa pihak karakter mengatakan mereka melakukan hal itu karena sayang padanya. Hal tersebut dibantah oleh Citra yang menganggap perlakuan itu salah.

Segala upaya dan rayuan dilakukan demi mendapatkan persetujuan Citra dan keluarganya.

“Saya menangis sampai tenggorokan saya kering. Mereka berusaha memberi air. Akan tetapi saya tidak mau, ” tutur wanita yang kini berusia 31 tahun itu.

“Kalau orang Sumba, karena saya biasa dengar, kalau orang dibawa lari begitu, karena masih banyak yang percaya istilah magic – siap kalau kita minum air, ataupun makan nasi pada saat itu, kita bisa, walaupun kita mau nangis setengah mati bilang tidak suka – saat kita kena magic kita bisa bilang iya. ”

Lanjut beberapa hari, Citra masih menolak untuk dahar dan minum.

“Karena terus menangis sepanjang suangi, tidak tidur, saya rasa sungguh-sungguh sudah mau mati, ” katanya.

Adik Cermin kemudian datang membawakan makan & minum sambil proses negosiasi bersandarkan adat berjalan. Akhirnya pada hari keenam, keluarga Citra, didampingi bagian pemerintah desa dan LSM, lulus membawa dia pulang.

‘Merendahkan martabat perempuan’

Taat data yang dikumpulkan Aprissa Taranau, ketua Badan Pengurus Nasional Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Nusantara (PERUATI) Sumba, setidaknya ada tujuh kasus kawin tangkap sepanjang 2016 hingga Juni 2020, termasuk peristiwa yang menimpa Citra.

Beberapa perempuan berhasil melepaskan muncul, sementara tiga di antara mereka meneruskan perkawinan, kata Aprissa. Dua kasus yang paling terkini terjadi pada 16 dan 23 Juni lalu, di Sumba Tengah. Salah kepala perempuan akhirnya menikah.

Pulau Sumba, yang berkecukupan di provinsi Nusa Tenggara Timur, terdiri dari empat kabupaten, yaitu Sumba Barat, Sumba Barat Gaya, sumba Tengah dan Sumba Timur. Kasus-kasus tersebut, kata Aprissa, bertambah banyak terjadi di Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah.

Pegiat perempuan itu memerosokkan penghentian praktik yang ia sebut merendahkan martabat perempuan.

“Kawin tangkap ini hanya memanifestasikan kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan, secara fisik, seksual, psikis, belum lagi stigma kalau ia muncul dari perkawinan yang dia tak inginkan.

“Begitu berlapis ‘pemerkosaan’, dalam tanda kutip, dengan dialami oleh perempuan, sehingga peristiwa ini harus dihentikan karena sangat mencederai kemanusiaan, harkat dan nilai perempuan, ” kata Aprissa melalaikan telepon, Selasa (07/07).

‘Kawin tangkap’ baru-baru ini penuh dibicarakan warganet setelah sebuah video yang viral pada akhir Juni memperlihatkan seorang perempuan dibawa dengan paksa oleh sekelompok pria dalam Sumba.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menanggapi video itu dengan mengatakan bahwa kasus penculikan merupakan salah satu bentuk kekejaman dan pelecehan terhadap adat pernikahan yang sakral dan mulia.

Bintang juga memutuskan untuk mengunjungi Kota Waingapu di Sumba Timur untuk menghadapi perkara tersebut, termasuk mengadakan diskusi bergabung masyarakat setempat dalam upaya buat mengakhiri praktik ‘kawin tangkap’.

Dalam kunjungan dalam pekan lalu itu, Bintang menghadiri penandatanganan kesepakatan pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan provinsi yang menolak ‘kawin tangkap’ adalah kebiasaan Sumba. Kesepakatan itu juga mencakup peningkatan upaya perlindungan perempuan dan anak.

“Kita sudah mendengar dari tokoh kebiasaan, tokoh agama, bahwa kawin tangkap yang viral itu, bahwa pada sini, bukan budaya Sumba. Tersebut menjadi kata kunci, ” sebutan Bintang, seperti yang dilaporkan Heinrich Dengi, wartawan di kota Waingapu, kepada BBC News Indonesia, Kamis (02/07).

“Terkait secara kesepakatan bersama, yang sudah ditandatangani, itu tidak hanya berakhir dalam sini, ” tambahnya.

Namun, ia tidak merinci upaya konkret yang akan dikerjakan.

‘Bukan budaya turun-temurun’

Pengamat budaya Sumba, Frans Wora Hebi, menjelaskan bahwa berbaur tangkap bukan budaya murni Sumba yang diwariskan secara turun-temurun.

“Yang budaya itu yaitu kawin yang melalui prosedur. Siap mula-mula, kalau anak laki-laki kita mau ambil istri, harus datangi orang tua [perempuan] lalu menanyakan. Itu pun tidak menanyakan secara langsung, tapi masih pakai bahasa simbolisme – ‘Apakah di sini ada pisang dengan sudah ranum? Tebu yang sudah berbunga? ‘ – begitu di Sumba Timur.

“Kalau di Sumba Barat – ‘Apakah di sini ada bibit pari? Bibit jagung? ‘ – itulah maksudnya, tidak langsung, ” prawacana Frans kepada BBC News Indonesia via telepon (05/07).

Setelah pertanyaan itu dijawab, sendat Frans, baru prosedur peminangan sah dimulai, termasuk pembasahan tanggal pernikahan dan penyerahan belis.

Tradisi belis merupakan konvensi penyerahan mas kawin oleh bagian keluarga pria kepada pihak rumpun wanita sebelum melangsungkan pernikahan.

Penyerahan belis tersebut dapat berupa hewan ternak seolah-olah kerbau, kuda maupun mamuli (perhiasan), dan sarung kain tradisional.

Menurut Frans, ‘kawin tangkap’ merupakan sebuah praktik yang berkembang secara berlindung di balik klaim adat demi menghindari tindakan hukum.

Ia berpandangan bahwa para tokoh adat maupun pihak berwenang tidak tegas dalam menanggapi praktek itu, sehingga terus berulang.

“Sampai sekarang tidak ada hukumnya. Hanya hukum baik, dalam artian bahwa orang dengan kawin seperti itu akan diomongin , hanya itu saja. Untuk memberatkan supaya tanpa berlaku, itu tidak ada. Makanya saya sarankan, kalau perlu, itu ini diberi denda misalnya 10 ekor kerbau untuk memberatkan dia sehingga ada rasa ketakukan kecil, ” kata pengamat budaya yang berdomisili di Waingapu itu.

Meski demikian, sebagian karakter memandang ‘kawin tangkap’ memang adat tradisional setempat, seperti pengalaman Citra.

Kejadian yang dialami Citra meninggalkan luka trauma yang tidak mudah dilepas. Apalagi, Citra mengungkap ia justru menghadapi ciri karena dianggap tidak menghormati kebiasaan setelah ia berhasil melepaskan muncul dari penangkapannya.

Wanita yang kini sudah menikah dengan pria pilihannya sendiri itu berharap hal itu tidak berlaku lagi pada perempuan di Sumba.

“Ini benar budaya dari nenek moyang. Akan tetapi budaya yang sudah tidak bertemu dengan zaman. Jadi budaya ini harus dihentikan karena sangat merugikan kami sebagai kaum perempuan, ” ujarnya.