Banjir bandang terjang Flores Timur, NTT, korban jiwa beranjak menjadi 80 orang, Jokowi ungkapkan duka cita

banjir-bandang-terjang-flores-timur-ntt-korban-jiwa-bertambah-menjadi-80-orang-jokowi-ungkapkan-duka-cita-11

Sumber gambar, EPA

Pihak berwenang dan tim penyelamat hingga Senin (05/04) terus berupaya mengevakuasi korban dan memberi bantuan darurat kepada para awak yang terdampak banjir bandang di beberapa wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah korban jiwa pula bertambah.

Petunjuk sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan pada Senin (05/04) hingga memukul 13. 00 Wita, jumlah korban meninggal dunia pada Kabupaten Flores Timur merayap menjadi 69 orang & 19 lainnya masih pada pencarian.

Sumber tulisan, BNPB

Secara rinci, di Kecamatan Ille Boleng 57 orang meninggal dan 17 masih dicari, begitu pula di Kecamatan Adonara sebanyak 9 orang meninggal serta dua orang dalam pencarian, sedangkan di Kecamatan Wotan Ulumado tiga korban mati telah dievakuasi. Di Kabupaten Flores Timur pula sedikitnya 256 jiwa warga mengungsi di Balai Desa Nelemawangi dan sejumlah warga yang lain mengungsi di Balai Kampung Nelelamadike.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau jika di mesin pencari lain

Sedangkan di Kabupaten Lembata, hingga Senin (05/04) pukul 14. 00 WIB belum ada data terbaru. Sejauh ini banjir bandang di sana menewaskan 11 warga dan 16 lainnya hilang.

Dengan demikian, hingga Senin (05/04) siang total jumlah korban yang meninggal negeri tercatat mencapai sedikitnya 80 orang.

Kepala Induk Data, Informasi dan Koneksi Kebencanaan BNPB, Raditya Asli, mengatakan angka-angka itu masih akan terus berkembang.

Tengah itu, Presiden Joko Widodo Senin siang menyatakan telah memerintahkan Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Gajah Kesehatan, Menteri PUPR, Pemimpin TNI dan Kapolri untuk segera melakukan evakuasi serta menangani korban bencana di lapangan.

“Selain tersebut, segera melaksanakan penanganan konsekuensi bencana yang diperlukan, ” kata Jokowi yang disiarkan dalam akunnya di Twitter, seraya menyatakan dukacita yang mendalam atas korban wafat dunia dalam musibah tersebut atas nama pribadi & rakyat Indonesia.

Jalan pengiriman bantuan untuk mengaduk-aduk dan mengevakuasi korban akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih pelik dilakukan lantaran akses ke lokasi bencana terganggu hujan deras dan gelombang mulia, menurut BNPB. Di bagian lain, evakuasi korban dengan tertimbun lumpur masih terkendala alat berat.

Banjir bandang dan tanah longsor pada Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (04/04) dini hari, disebut seorang masyarakat merupakan yang terparah di dalam beberapa tahun terakhir.

BNPB mencatat lokasi terdampak tersedia di empat kecamatan serta delapan desa.

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan upaya antisipasi pada warga “sudah dilakukan dengan menyampaikan informasi cuaca ekstrem” dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Tapi titik-titik yang terjadi [bencana banjir bandang] itu selama ini tidak sudah terkena banjir, ” prawacana Anton, hari Minggu (04/04).

‘Cuaca ekstrem, pengiriman penyediaan ke Pulau Adodara terkendala’

Kepala Pusat Bahan, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengesahkan pengiriman bantuan logistik pada korban yang terdampak banjir dan longsor, terkendala kedudukan geografis.

“Untuk mendapatkan aksestabilitas, terutama pulau-pulau kecil, menjelma tantangan kita di sana, ” katanya.

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Karena cuaca ekstrem, bantuan pemasokan belum bisa dikirim menggunakan angkutan laut ke Pulau Adonara.

“Apakah nanti hendak menggunakan pesawat atau heli, nanti akan kami sampaikan selanjutnya, ” ungkapnya.

Apakah alat-alat berat dapat dikirim ke lokasi?

Dia menambahkan, tantangan terberat lainnya adalah mengevakuasi dengan memanfaatkan alat-alat berat.

Ditanya apakah pemerintah sudah menetapkan status bencana di Flores Timur, Raditya mengatakan sekitar ini belum ada fakta tentang hal itu.

“Mungkin besok akan ditetapkan [statusnya], tapi kita lihat dulu perkembangannya, ” katanya.

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Cerita warga pada Kecamatan Adonara: ‘Kami semua sangat panik’

Wenchy Tokan, seorang warga di Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, mengatakan banjir bandang dengan terjadi pada Minggu (04/04) dini hari membuat panik pokok warga tak sempat menyelamatkan diri.

Ia bercerita, hujan deras mulai turun pukul 23. 00 WITA dan tak berselang lama banjir dari wilayah perbukitan sekitar Kecamatan Adonara Timur menghantam rumah-rumah yang berada di pesisir sungai.

Era itu, katanya, mayoritas warga sedang tidur.

“Kami semua sangat-sangat panik. Bahkan kami temukan ada mayat ditemukan di luat masih di atas kasur, karena biasa warga sedang tidur, ” imbuh Wenchy Tokan pada Quin Pasaribu yang mengadukan untuk BBC News Nusantara, Minggu (04/04).

“Bangunan seluruh selesai (hancur) semua. Vila permanen dan semi permanen, hanyut ke laut, ” sambungnya. Perkiraan Wenchy setidaknya 50 rumah hancur.

‘Kami dalam kondisi terisolir’

Selain itu banjir bandang juga membuat besar jembatan dari beton dengan menghubungan antar-desa juga terhenti, ungkapnya. “Satu pembangkit listrik juga padam, ” tambahnya.

Karena itulah, warga di Kelurahan Waiwerang maupun Kampung Waiburak “kini dalam status terisolir”, kata Wenchy.

Dalam wilayah ini, tim Basarnas mencatat tiga orang meninggal, empat orang luka-luka, dan lima dinyatakan hilang.

Pencarian korban meninggal maupun yang hilang, ujar Wenchy, dilakukan secara manual dengan sungkur.

Adapun puluhan warga yang terdampak, lanjut Wenchy, kini diungsikan ke utama bangunan sekolah dan sangat membutuhkan selimut serta susu untuk balita.

Sementara tumpuan makanan dari pemda, belum sampai. “Untuk sementara itu warga datangkan penanak nasi, masak untuk pengungsi. Besok baru diatur untuk mendirikan dapur umum. ”

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Berharap bantuan dari pemerintah pusat

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan bahan bencana banjir bandang pada empat kecamatan itu segar ia dapatkan sekitar memukul 08. 00 WITA sebab jaringan komunikasi yang terputus.

Sejak pagi hingga burit hari, katanya, pemda belum bisa mengirim alat berat untuk membantu proses pencarian dan pengiriman makanan pada warga yang mengungsi di pulau tersebut.

Dalam lokasi terparah yakni pada Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, setidaknya ada satu. 200 orang yang mengungsi di tiga lokasi yaitu gedung gereja dan madrasah.

Namun karena putusnya jembatan penghubung dan kanal jalan yang tertutup longsor, pendirian dapur umum masih terhambat.

Karena itulah, ia berharap ada “dukungan pemerintah pusat untuk pengerjaan para korban”.

Ia berniat Senin (05/04) pengiriman jalan berat maupun bahan makanan sudah bisa dikirim.

Berdasarkan perkiraan BMKG pada 5 April – 6 April, status Nusa Tenggara Timur dalam kondisi waspada potensi hujan sedang & lebat yang disertai petir dan angin kencang dalam gai hingga siang keadaan.