Angka reproduksi Covid di Nusantara di bawah satu, apakah pandemi memang telah terkendali dan kapan kita bisa lepas masker?

angka-reproduksi-covid-di-indonesia-di-bawah-satu-apakah-pandemi-memang-telah-terkendali-dan-kapan-kita-bisa-lepas-masker-16
  • Raja Eben Lumbanrau
  • Wartawan BBC News Indonesia

Sumber gambar, Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Pemerintah Indonesia menyebut status pandemi Covid-19 telah terkendali, dilihat dari angka reproduksi efektif (R-rate atau Rt) untuk pertama kalinya selama pandemi, berada di kolong satu, yakni sebesar 0, 98.

Tetapi epidemiolog tidak sependapat secara hal tersebut karena R-rate adalah angka untuk membuktikan kecepatan penularan, bukan tolak ukur terkendali atau tidaknya wabah Covid.

Penurunan Rt, menurutnya, juga tak serta-merta menjadi salah kepala faktor untuk melakukan pelonggaran yang dapat membuat umum berkerumun.

Terdapat kira-kira syarat untuk menyatakan pandemi telah terkendali, mulai dibanding tingkat vaksinasi, angka reproduksi, pengawasan, hingga pelaksanaan adat kesehatan yang ketat.

Membaca juga:

Setelah dihantam varian Delta yang bersusah-susah Juli hingga Agustus morat-marit, pemerintah kini menyebut situasi pandemi, khususnya Jawa serta Bali, telah terkendali.

Kini tidak ada wilayah di Jawa dan Bali yang berada di PPKM level 4.

Bahkan buat pertama kali selama pandemi, R-rate di bawah mulia, yakni 0, 98 awut-awutan mengutip hasil estimasi awak Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia -, kata Gajah Koordinator Bidang Kemaritiman serta Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Pemerintah selalu melakukan uji coba pembukaan pusat perbelanjaan bagi anak-anak di bawah usia 12 tahun, pembukaan bioskop dengan kapasitas maksimum 50% & lainnya pada wilayah dengan status Pemberlakukan Pembatasan Kesibukan Masyarakat (PPKM) berada level 2 dan 3.

Jadi contohnya adalah pelonggaran di Kota Semarang yang turun dari level 4 ke 2 di bulan September.

Kota Semarang: Jalan segar bagi masyarakat

Sumber gambar, ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

Status PPKM level 2 di Kota Semarang, Jawa Tengah membawa angin bugar bagi masyarakat, dan pelaku pariwisata.

Kepala Biro Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari menyebut, wadah wisata dan hiburan pada wilayahnya sudah kembali dibuka dengan pembatasan-pembatasan tertentu.

Pembatasan itu meliputi jam operasional, jumlah pengunjung maksimal 50% dan menunjukkan bukti telah divaksin melalui aplikasi Ingat Lindungi.

“Strategi dengan kita lakukan adalah dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat, menunjukkan persepsi Kota Semarang yang aman, nyaman, kasus Covid-nya juga terus mengalami penurunan sehingga bisa bernafas tenteram dan memungkinkan orang buat datang dengan protokol kesehatan yang ketat, ” kata pendahuluan Indriyasari kepada Margi Ernawati yang melaporkan untuk BBC News Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (21/09).

Perubahan itu salah satunya dirasakan oleh Hanna Ristanti, pemilik kafe di zona Tembalang.

Sumber tulisan, Kurun Foto

“Kalau zaman hanya melayani take away , sekarang bisa makan di tempat walaupun hanya sampai pukul 21. 00 WIB, tentunya memperhatikan protokol kesehatan, ” kata Hanna, sapaan akrabnya.

Walaupun sudah ada konsesi, Hanna menyebut usahanya belum menggembirakan.

“Omzet belum naik, harapan saya bakal pemerintah agar lebih ingat lagi kepada para pelaku usaha, jangan buat susunan yang ribet supaya perekonomian segera pulih, ” tinggi Hanna.

Berbeda, pelatih renang, Siti Nurhayati, merasakan khasiat langsung dari kelonggaran kemudahan publik di Semarang.

“Sekarang, dalam sehari mampu melatih selama empat tanda, jadi pendapatan juga terbang. Kalau dulu paling hanya melatih satu jam bohlam hari, ” kata Siti.

Apakah pandemi tersebut sudah terkendali?

Sumber gambar, Antara Foto

Jawabannya adalah belum, kata epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko.

Terarah atau tidaknya suatu pandemi, katanya, dilihat dari kurva harian kasus Covid-19, positivity rate , yang mengalami penurunan dengan stabil dalam satu kali masa inkubasi virus.

Bukan dilihat dari R-rate yang adalah angka jumlah orang yang tertular sebab satu kasus dalam era infeksiusnya. Artinya, jika Rt-nya satu maka satu karakter bisa menularkan virus corona ke satu orang lainnya.

“Rt kurang sebab satu berarti ada pelambatan penularan, saya setuju. Tapi itu bukan berarti wabah menjadi terkendali, ” sirih Yunis.

Senada, epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan, penurunan Rt tidak lantas membuat situasi pandemi menjadi terkendali.

“Contoh banyak negara, Singapura di utara, Australia dalam selatan. Mereka berhasil menurunkan Rt, tapi tiba-tiba terbang lagi kan, ” katanya.

Windhu menambahkan, kalau R-rate berada di lembah satu dalam waktu dengan konsisten, 28 hari berturut-turut, maka kasus positif anyar bisa disebut “relatif terkendali”.

Sumber gambar, Antara Foto

“Di awal pandemi, Rt kita tiga, sekarang satu, membaik. Tapi Rt itu naik turun. ”

“Dipengaruhi tiga faktor, yaitu istimewa virus, seperti Delta, berserakan masa infeksius yang semakin lama maka penularan semakin besar, dan pelaksanaan prokes yang ketat, ” katanya.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan walaupun Rt di bawah mulia, pandemi belum terkendali.

“Saat ini adalah laju penularan yang turun, tapi ancaman peningkatan kasus & gelombang ketiga masih tersedia. Karena vaksinasi belum di dalam semua sasaran. Angka reproduksi adalah ukuran untuk kedudukan yang terkendali tetapi ini harus dilihat dalam jangka waktu tertentu, ” sebutan Nadia.

Nadia juga membaca Rt tidak digunakan jadi salah satu faktor di dalam mengambil kebijakan, melainkan untuk evaluasi akhir.

Luhut: Situasi pandemi terkendali

Sumber gambar, Antara Foto

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut situasi pandemi di Indonesia telah terkendali.

Indikatornya adalah dengan melihat angka reproduksi efektif (Rt) yang untuk pertama kali berada di bawah satu, yaitu sebesar 0, 98 berantakan mengutip hasil estimasi daripada tim Fakultas Kesehatan Bangsa Universitas Indonesia.

Selain tersebut, Luhut menambahkan, kasus harian, juga menunjukan tren positif – kasus konfirmasi nasional di bawah 2. 000 dan kasus aktif invalid dari 60. 000.

“Untuk Jawa dan Bali, kasus harian turun had 98% dari titik puncaknya pada 15 Juli berarakan. Dengan berbagai perbaikan tersebut, saya sampaikan tidak tersedia lagi kabupaten kota dengan berada di level 4 di Jawa dan Bali, ” katanya.

Pemerintah, perkataan Luhut, juga akan melayani pelonggaran, di antaranya, uji coba pembukaan pusat perbelanjaan bagi anak-anak di kolong usia 12 tahun, prakata bioskop dengan kapasitas penuh 50% pada wilayah level 2 dan 3, & lainnya.

Berdasarkan perkembangan situasi Covid 19 maka kemarin, Selasa (21/09), terjadi penambahan lebih dari 3. 200 kasus dalam mulia hari. Jumlah ini jauh mengecil dari beberapa bulan sebelumnya yang mencapai mematok belasan ribu orang.

Kapan kita bisa luput masker?

Sumber gambar, Getty Images

Siti, warga Semarang mengungkapkan satu perkara yang menjadi kegelisahan sebagian masyarakat,

“Kapan kita bisa melepas masker era berkumpul di ruang jemaah, tanpa adanya batasan jeda, bisa hidup seperti sediakala seperti dulu? ” tanya Siti.

Terkait itu, epidemiolog Tri Yunis memperhitungkan, mungkin dalam waktu beberapa tahun ke depan, sesudah melewati fase pandemi, pengasingan, dan eradikasi.

“Mungkin dua hingga tiga tarikh lagi. Sekarang saja kita masih wabah, belum menyelundup ke eliminasi, ” katanya.

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan terdapat kira-kira syarat agar kita bisa melepas masker dan tumbuh berdampingan dengan Covid-19.

Tahap pertama adalah R-rate mendekati nol dalam zaman lama, minimal 28 hari berturut-turut tanpa pernah menyentuh angka satu.

Akan tetapi belum bisa melepas kedok dulu. Setelah itu ada tahap selanjutnya, yaitu kita semua harus telah terlindungi dengan vaksinasi 100% awut-awutan yang bertujuan jika tertular tidak dalam kondisi kronis.

“Selanjutnya, adalah penguatan pengawasan dengan testing dan tracing . Siap jika ada yang membangun bisa segera ditemukan, diisolasi, dan yang di asing itu yang sehat-sehat. ”

“Jika bisa dilakukan, saya kira kita kira-kira bisa membuka masker kaya di negara lain. Jika sekarang? Belum bisa dong, ” katanya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS

Namun, harapan tersebut menurut Windhu akan sulit terwujud.

Di pusat penurunan Rt dan kasus positif, pemerintah malah menyingkirkan kebijakan pelonggaran yang berpotensi kembali meningkatkan jumlah peristiwa.

“Hari ini mobilitas sudah sama dengan base line Maret lalu, tersebut kan berbahaya. Pelonggaran menjadikan mobilitas naik, diikuti ketidakpatuhan prokes, muncul kerumunan, dan kasus meningkat, ” katanya.

“Jadi jangan terlalu los dol (tanpa hambatan) meskipun adan pelonggaran, jadi mirip-mirip kondisi tanpa pandemi, ” ujarnya.

Terkait dengan kapan dapat kembali umum, juru bicara Satgas Pengerjaan Covid-19, Wiku Adisasmito mengucapkan, setiap orang bahkan terampil sekalipun tidak mengetahui secara pasti.

“Untuk tersebut upaya terbaik yang dilakukan saat ini ialah menekan angka penularan dengan molek sebagai bentuk kebiasaan anyar yang tidak terpisahkan memikirkan kita akan hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam masa yang tidak dapat ditentukan kemudian, ” katanya.