Afghanistan: Taliban larang perempuan keluar rumah, ‘pasukan kami belum dilatih menghadapi dan berbicara dengan mereka’

afghanistan-taliban-larang-perempuan-keluar-rumah-pasukan-kami-belum-dilatih-menghadapi-dan-berbicara-dengan-mereka-76

Sumber gambar, Reuters

Seorang juru bicara Taliban mengatakan saat ini perempuan yang bekerja harus tetap di rumah demi keamanan mereka sampai prosedur ditetapkan.

“Ini prosedur yang sangat sementara,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam jumpa pers Selasa (24/08).

“Pasukan keamanan kami belum dilatih untuk menghadapi perempuan – bagaimana bicara dengan sebagian dari mereka,” kata Mujahid dalam jumpa pers di Kabul.

“Sampai itu dilakukan dan kami memiliki prosedur keamanan … kami meminta perempuan tetap di rumah,” tambahnya.

Mujahid juga mengatakan mereka tidak memiliki daftar orang yang diburu untuk balas dendam dan menyebut bahwa mereka “telah melupakan semua hal di masa lalu”.

Pernyataan Mujahid itu muncul di tengah laporan bahwa kelompok itu melakukan eksekusi yang disebut oleh Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet berasal dari “laporan kredibel”.

Pelanggarakan HAM lain, termasuk pembatasan hak perempuan dan merekrut tentara anak, kata Bachelet kepada Dewan HAM PBB.

Taliban menerapkan syariah secara ketat saat menguasai Taliban sebelum 2001.

Sejak menguasasi kembali Afghanistan, sembilan hari lalu, kelompok militan itu mencoba menunjukkan citra yang lebih positif dengan janji menghargai hak perempuan serta kebebasan berbicara.

Namun sejumlah pihak menyatakan skeptis di tengah laporan banyaknya perempuan yang belum menikah di sejumlah daerah bersembunyi di rumah karena diancam akan dinikahi secara paksa oleh mereka.

Bachelet mengatakan hak perempuan adalah “landasan penting” dan ia menyerukan kepada negara anggota PBB untuk menciptakan badan khusus mengawasi hak asasi manusia di Afghanistan.

Pekan lalu, organisasi HAM, Amnesty Internasinal mengatakan Taliban baru-baru ini “membantai” dan secara brutal menyiksa kelompok minoritas Hazara.

Para saksi mata – yang memberikan kesaksian yang mengerikan – terkait pembunuhan awal Juli di Provinsi Ghazni.

Amnesty mengatakan insiden itu merupakan “indikator mengerikan” tentang kekuasaan Taliban.

Warga Afghanistan sebaiknya tidak keluar negeri

Sumber gambar, Getty Images

Dalam pernyataan lain, jubir Taliban, Muhajid mengatakan tak akan mengizinkan warga ke bandara karena kacaunya situasi.

Mujahid mendesak warga Afghanistan yang berupaya menuju Kabul untuk kembali ke rumah dan meminta Amerika Serikat untuk mendorong mereka keluar dari bandara.

Pasukan Amerika Serikat yang menguasai bandara Kabul mengatakan lebih dari 58.000 orang, sebagian besar orang Afghanistan, telah dievakuasi.

Muhajid juga mengatakan tidak akan memperpanjang batas waktu evakuasi tanggal 31 Agustus karena akan melanggar perjanjian dengan AS.

Negara-negara sekutu AS telah memperingatkan bahwa mereka tidak akan mampu mengevakuasi semua yang mencoba melarikan diri dari Taliban pada batas waktu itu.

Pada Minggu (22/08) lalu, setidaknya tujuh warga sipil Afghanistan meninggal dunia di luar Bandara Kabul, saat ribuan orang berdesak-desakan dalam situasi panik dan dipenuhi kekacauan, kata Kementerian Pertahanan Inggris.

“Kami melakukan segala upaya yang bisa kami lakukan untuk mengelola situasi keamanan,” kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris dalam sebuah pernyataan, Minggu (22/08).

Seorang saksi mata mengungkapkan dari tujuh orang yang meninggal, setidaknya empat orang diantaranya berjenis kelamin perempuan.

Sumber gambar, Getty Images

Kekacauan terjadi setelah beredar informasi yang menyebutkan bahwa sejumlah negara akan menghentikan proses evakuasi di bandara Kabul dalam beberapa hari ke depan, ungkap saksi mata tersebut kepada BBC.

Sumber gambar, Reuters

Sekitar 4.500 tentara AS menguasai dan mengendalikan Bandara Internasional Hamid Karzai, dan sekitar 900 tentara Inggris berpatroli di lokasi tersebut untuk mengamankan penerbangan upaya evakuasi.

Adapun para petempur Taliban sejauh ini terus berjaga di pos pemeriksaan di sekeliling bandara dan menghalangi warga Afghanistan yang tidak memiliki dokumen perjalanan.

Sepekan lalu kelompok Taliban menguasai seluruh negeri, dan ribuan orang terus berkerumun di sekitar bandara Kabul dalam situasi putus asa untuk dapat meninggalkan negeri itu.

Baca juga:

Laporan media-media lokal menyebutkan kantor pemerintah, termasuk kantor keimigrasian, dan bank-bank, tetap tutup di ibu kota Kabul.

Kim Sengupta, wartawan surat kabar The Independent yang berada di lokasi, mengungkapkan kekacauan timbul setelah ada lonjakan kerumunan di sekitar bandara.

Menurutnya, lonjakan massa yang berlangsung cepat itu terjadi setelah mereka mendengar informasi bahwa sejumlah negara akan menghentikan evakuasi dalam beberapa hari ke depan.

“Itu menambah rasa panik yang sudah ada,” kata Kim Sengupta kepada BBC tentang apa yang dia saksikan.

Sumber gambar, Reuters

Dia menyaksikan, setidaknya empat perempuan meninggal dunia dan tiga lainnya dalam kondisi sekarat, setelah dalam ribuan orang berdesak-desakan seperti “gelombang ombak” yang datang tiba-tiba.

“Tidak ada suara tembakan, hanya saling berdesakan, dan suhu panas yang menyengat, ditambah kepanikan,” tambahnya.

Sebelumnya, seorang pejabat pertahanan AS telah memperingatkan kemungkinan adanya serangan di bandara Kabul oleh kelompok militan yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS, yang menentang Taliban.

AS mengimbau kepada warganya agar tidak pergi ke bandara Kabul kecuali diperintahkan untuk melakukannya, demi keselamatan mereka sendiri.

Sementara itu, muncul kekhawatiran yang terus berkembang terkait batas waktu penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada 31 Agustus nanti, dalam upaya mengevakuasi warga AS di negara itu.

Walaupun Presiden AS Joe Biden mengatakan kemungkinan batas waktu itu bisa diperpanjang, namun pimpinan Uni Eropa memperingatkan bahwa “tidak mungkin” mengevakuasi semua orang warga Afghanistan yang berniat meninggalkan negara itu, pada akhir Agustus.

Sebelumnya, dokumen PBB menunjukkan Taliban menggencarkan upaya untuk memburu mereka yang pernah bekerja dengan pasukan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Dokumen rahasia itu diterbitkan oleh Norwegian Centre for Global Analyses, yang memberikan informasi intelijen kepada PBB.

Sumber gambar, EPA

“Taliban menangkap, atau mengancam membunuh, atau menangkap anggota keluarga atau individu yang menjadi sasaran kecuali mereka menyerahkan diri kepada Taliban,” tulis dokumen yang telah dilihat BBC.

Dokumen itu menyebutkan mereka yang menghadapi risiko adalah yang memiliki posisi di militer, kepolisian dan unit investigasi.

“Taliban telah mengidentifikasi individu-individu sebelum mengambil alih semua kota-kota besar,” tulis dokumen itu.

Dokumen itu juga menyebutkan para milisi Taliban menyaring individu-individu dan mengizinkan evakuasi sebagian personel asing dari bandara Kabul, namun situasi di bandara masih tetap “kacau.”

Dalam jumpa pers pertama sejak menguasai Kabul, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid menyatakan kelompoknya akan memberikan amnesti kepada semua warga Afghanistan.

Sumber gambar, Abasin Sarwan/EVN

Menurut laporan itu, Taliban merekrut jaringan informan baru untuk bekerja sama dengan rezim baru.

Sementara itu dalam dua hari terakhir, protes anti-Taliban terjadi di sejumlah kota, dengan warga membawa bendera Afghanistan.

Sumber gambar, PAjOK Afghan News/Reuters

Warga Afghanistan melakukan protes bertepatan dengan peringatan kemerdekaan 102 tahun Afghanistan pada Kamis (19/08), yang jatuh pada siatuasi yang sangat tidak pasti.

Salah satu video yang dibagikan di media sosial menunjukkan massa di Kabul meneriakkan “bendera kami, identitas kami”, sambil membawa bendera nasional berwarna hitam, merah dan hijau.

Kantor berita Reuters – mengutip sejumlah saksi – melaporkan beberapa orang kemungkinan meninggal dalam protes serupa di Asadabad, akibat tembakan atau karena terinjak-injak setelah terjadi tembakan ke udara.

Laproran tentang jatuhnya korban itu muncul setelah beberapa orang juga dilaporkan meninggal dalam protes serupa di kota Jalalabad.

Video di media sosial menunjukkan sejumlah pengunjuk rasa mengganti beberapa bendera Taliban di sejumlah tempat, tindakan penentangan terhadap kelompok yang kembali menguasai Afghanistan.

Setidaknya 12 orang meninggal di bandara Kabul sejak hari Minggu lalu, menurut seorang pejabat Taliban.

Negara-negara Barat masih terus melakukan evakuasi warga mereka serta warga Afghanistan yang selama ini bekerja dengan mereka.

Taliban sendiri mengatakan “mereka mematuhi” janji dengan mendukung pasukan asing melakukan evakuasi warga mereka dari Kabul, kata pejabat kelompok itu kepada kantor berita Reuters.

“Kami membantu jalan keluar aman, bukan hanya orang asing tetapi juga orang Afghanistan,” kata pejabat itu

“Kami mencegah bentuk kekerasan, termasuk dalam bentuk verbal di bandara di antara orang Afghanistan, orang asing dan anggota Taliban,” tambahnya.

Namun, sejumlah laporan menyebutkan Taliban tidak mengizinkan orang masuk ke bandara Kabul, walaupun mereka punya visa.

Pemimpin Taliban telah berada di Afghanistan

Sumber gambar, Reuters

Para pemimpin Taliban, termasuk Mullah Abdul Ghani Baradar, yang merupakan salah seorang pendiri telah kembali ke Afghanistan Rabu (18/08) dari pengasingan di Qatar—tempat dia menghabiskan waktu berbulan-bulan merundingkan penarikan mundur pasukan AS.

Baradar tiba di Kandahar bersama dengan sejumlah figur senior Taliban lainnya untuk membentuk pemerintahan baru di Afghanistan.

Kandahar adalah tempat berdirinya Taliban dan basis paling penting sebelum diusir operasi militer pimpinan Amerika Serikat 20 tahun lalu.

Sejumlah tayangan video memperlihatkan kerumunan massa bersorak-sorai menyambut kedatangan Baradar di Bandara Kandahar.

Sebelumnya, Juru bicara Taliban dalam jumpa pers pertama sejak menguasai ibu kota Afghanistan mengatakan langkah mereka merupakan “momen yang membanggakan bagi bangsa.”

Zabihullah Mujahid, tampil pertama kali di depan kamera pada Selasa (17/08) mengatakan, “setelah 20 tahun berjuang kami membebaskan (negara) dan mengusir orang asing.”

“Inilah adalah momen membanggakan untuk semua bangsa,” katanya.

Sumber gambar, Reuters

Ia juga mengatakan bahwa Taliban akan membentuk pemerintahan “Islamis yang kuat” dan bahwa akan ada amnesti kepada mereka yang pernah bekerja dengan pihak asing. “Tak akan ada pihak yang dirugikan,” katanya.

Perempuan, kata Mujahid, akan menikmati hak mereka sesuai dengan Syariah.

Banyak wartawan yang pernah mewawancarai Mujahid melalui telepon sebelumnya namun tak pernah melihat wajahnya.

Sebelumnya, Taliban mengatakan mereka memerintahkan para pejuang untuk tidak masuk ke rumah-rumah penduduk dan menghindari mencegat kendaraan kedutaan besar, khususnya di Kabul.

Perintah yang dikirim oleh wakil pemimpin Taliban, Molavi Yaqoub kepada anggotanya melalui rekaman suara muncul setelah para milisi terlibat dalam penjarahan Senin (16/08).

Taliban mulai menunjukkan kekuasaan di Afghanistan. Semua pegawai negeri diminta kembali bekerja dan mereka mengeluarkan peringatan kepada penjarah akan dihukum.

Toko roti dan apotik mulai di buka di sejumlah tempat di Kabul dan sejumlah kendaraan tampak lalu lalang Selasa (17/08).

Perkembangan lain menunjukkan, seorang pemimpin Taliban diwawancarai oleh pembawa acara perempuan di Kabul, kejadian yang hampir tak mungkin saat mereka berkuasa 20 tahun lalu.

Namun tak ada musik yang dimainkan di kafe-kafe dan juga mobil. Sementara poster-poster perempuan untuk iklan dijalan-jalan dihapus dengan cat.

Tak akan ada diskriminasi terhadap perempuan

Dalam jumpa pers di Kabul yang dihadiri para wartawan asing, Zabihullah Mujahid juga mengatakan, “Saya ingin menjamin komunitas internasional bahwa tak ada yang akan dirugikan.”

“Kami tak ingin ada masalah dengan komunitas internasional.”

“Kami punya hak bertindak untuk bertindak sesuai ajaran agama kami. Negara lain punya pendekatan, peraturan…rakyat Afghanistan punya hak sendiri sesuai dengan nilai kami.”

“[Kami] berkomitmen atas hak-hak perempuan berdasarkan sistem syariah,” tambah Mujahid.

“Perempuan akan diberikan hak-hak mereka baik itu di lapangan kerja maupun kegiatan-kegiatan lain karena perempuan adalah bagian penting dalam masyarakat dan kami memberikan jaminan atas hak-hak mereka dalam kerangka batas-batas yang diatur dalam Islam,” tambahnya.

“Mereka akan bekerja sama dengan kami. Kami ingin meyakinkan komunitas internasional bahwa tidak akan ada diskriminasi.”

Ia juga mengatakan tak akan membiarkan pejuang asing di negara itu.

“Kami tidak akan memberikan ruang di Afghanistan kepada petempur asing yang hendak mengganggu atau mengancam keamanan negara-negara lain dan kami telah memberikan jaminan.

Video dan foto yang mengguncang dunia

Sumber gambar, Defence One

Sejak menguasasi Kabul hari Minggu (15/08), ribuan warga membanjiri landasan pacu bandar udara, video dan foto-foto kejadian ini Kabul, mengguncang dunia.

BBC Senin lalu berbicara kepada seorang saksi mata berusia 40-an tahun, warga Afghanistan yang sedang bersusah payah meninggalkan negara itu.

Pria itu seorang pekerja proyek pembangunan yang didanai AS. Seorang koleganya, warga AS, mengajak dia ke Bandara dengan harapan bisa mendapat Visa Khusus Imigrasi (SIV) untuk evakuasi.

Sumber gambar, Getty Images

Tetapi, sesampai di bandara, yang dia lihat adalah “sebuah petaka”, seperti yang digambarkan dalam film.

Sumber gambar, AFP

“Ribuan – mungkin 10.000 orang – yang berada di sana, di luar gerbang Bandara. Banjir manusia bergelombang dari satu sisi ke sisi lainnya.,” ujar saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Dia lantas bertanya kepada 30 orang, kenapa mereka datang. “Mereka mengaku mendengar kabar bahwa pasukan AS mengevakuasi orang-orang tanpa syarat – yang kamu butuhkan hanya menunjukkan paspor dan KTP,” ujarnya.

Bersama banyak orang lainnya, dia tidak bisa diangkut ke pesawat dan hanya diberitahu bahwa di hari-hari selanjutnya ada kesempatan untuk dievakuasi.

“Pada saat itu kami takut. Kami tidak aman. Tapi ketika saya melihat keputusasaan orang-orang di bandara, saya lebih takut lagi. Itu adalah kekacauan,” ujarnya.

Korban jiwa di bandara

Kepanikan yang terjadi di bandar udara Kabul, Afghanistan, Senin (16/08) menyebabkan setidaknya lima orang meninggal setelah Taliban menguasai ibu kota.

Dua pria bersenjata ditembak mati tentara Amerika Serikat sementara tiga orang lainnya dilaporkan meninggal karena jatuh dari sisi pesawat, tempat mereka mencoba bertahan tak lama setelah pesawat lepas landas.

Ribuan orang berkumpul di bandara sejak Taliban mengambil alih Kabul.

Banyak negara Barat yang telah memulai evakuasi warga mereka.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan Indonesia tengah mematangkan evakuasi dan kantor KBRI tetap diperhahankan sambil memantau situasi keamanan dengan staf yang bertugas dikurangi.

Para saksi mata di Kabul mengatakan kepada BBC, setidaknya ada tiga jenazah, dan tidak jelas apakah mereka meninggal karena tertembak atau akibat terinjak-injak karena panik setelah pasukan Amerika Serikat yang menguasai bandara melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan massa.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Kantor berita Reuters menyebutkan jumlah yang meninggal lebih tinggi dengan mengutip satu saksi mata yang mengatakan melihat jenazah lima orang diangkut. Saksi mata lain mengatakan tidak jelas apakah korban karena tertembak atau meninggal karena terinjak-injak.

Sejumlah foto di bawah ini menunjukkan kondisi di bandara Kabul.

Sumber gambar, AFP

Ribuan orang menuju ke bandara dan banyak yang berupaya meninggalkan Afghanistan dan berebut masuk ke pesawat.

Sumber gambar, Unknown

Sumber gambar, AFP

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, Getty Images

Sumber gambar, AFP

Sumber gambar, AFP

Kelompok hak asasi, Amnesty International mengatakan apa yang terjadi Senin (16/08) di Afghanistan adalah tragedi yang seharusnya diantisipasi dan dapat “dicegah”.

“Masalah ini akan semakin parah bila tidak ada tindakan cepat dari komunitas internasional. Ribuan orang Afghanistan menghadapi risiko serius tekanan Taliban…,” kata Agnes Callamard. Sekretaris Jendral Amnesty.

Pesawat komersial telah dibatalkan. Sebelumnya, AS mengatakan semua staf kedutaan telah berada di bandara internasional dan siap diterbangkan.

Kementerian Luar Negeri AS mengatakan selain menerbangkan ribuan warga AS dan keluarga, mereka juga akan mempercepat evakuasi warga Afghanisan yang berhak mendapatkan visa khusus AS.

AS telah mengirimkan 6.000 pasukan untuk membantu evakuasi.

Sumber gambar, Reuters

Lebih dari 60 negara mengeluarkan pernyataan bersama dan menyerukan agar Taliban mengizinkan orang meninggalkan negara itu.

Sementara itu , Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan tetap mempertahankan kantor KBRI di Kabul dengan memperkecil jumlah staf yang bekerja sambil memantau situasi keamanan.

“Betul, KBRI masih menjalankan fungsinya,” kata Juru bicara Kemenlu Indonesia, Teuku Faizasyah kepada BBC News Indonesia, Senin (16/08) pagi.

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Faizasyah menambahkan dengan dinamika politik yang terjadi di sana, sejumlah staf yang bekerja rencananya akan dievakuasi. Tapi tetap mempertahankan staf inti.

“Ini masih kita terus pastikan, setidaknya tadi unsur diplomat, unsur keamanan dan administrasi tidak lebih dari sepuluh,” katanya

Sejauh ini KBRI Kabul tetap berpegang pada rencana kontijensi yang menjadi pegangan untuk penanggulangan situasi kritis dan darurat.

“Seperti perkembangan di Kabul ini pun sudah melalui konstultasi (pemerintah pusat) dan yang pokok adalah tugas itu tidak akan disfungsi, namun jumlahnya akan diperkecil sesuai kebutuhan,” lanjut Faizasyah.

Sumber gambar, AFP

Jumlah WNI yang berada di Afghanistan dilaporkan sebanyak enam orang. “Ada beberapa yang bekerja untuk misi PBB, sehingga mereka terikat kontrak dan bisa saja mereka ikut apabila pemulangan dilakukan,” kata Faizasyah.

Selain itu, Faizasyah juga mengatakan staf dan diplomat Indonesia yang masih bertugas di Kabul sudah mendapat jaminan keselamatan dari pihak Taliban.

Sumber gambar, Getty Images

“Sudah memperoleh juga. Kalau kita cermati ke belakang di mana Indonesia ikut aktif dalam proses perundingan damai yang dilakukan pemerintah, dengan Afghanistan. Kita ikut hadir paling tidak, dilibatkan sebagai partisipan,” katanya.

Baca juga:

Sebelumnya, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah meninggalkan negara itu ketika kelompok bersenjata Taliban memasuki ibu kota, Kabul pada Minggu (15/08).

Ia dilaporkan terbang menuju Tajikistan. Wakil Presiden Amrullah Saleh juga dilaporkan menyelamatkan diri ke luar negeri.

Sumber gambar, Reuters

Kepastian kepergian Presiden Ghani antara lain dikonfirmasi oleh Abdullah Abdullah, Ketua Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional, lembaga yang dibentuk untuk berunding dengan unsur-unsur Taliban.

Menyebutnya sebagai “mantan presiden”, Abdullah mengatakan Ghani telah “meninggalkan bangsa dan negara ini dalam situasi yang seperti ini”.

Sumber gambar, EPA

Kemacetan luar biasa terjadi di seluruh sudut kota Kabul ketika warga berusaha melarikan diri. Pengungsi dalam negeri yang sebelumnya menyelamatkan diri dari pertempuran di daerah-daerah kini berusaha kembali ke desa-desa mereka.

Di sejumlah sudut kota, anjungan tunai mandiri dirusak setelah kehabisan uang.

Rekaman video yang disiarkan oleh kantor berita pro-Taliban menunjukkan para tahanan dibebaskan dari Penjara Pul-e-Charkhi di Kabul – penjara terbesar di Afghanistan.

Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen mengatakan kepada BBC bahwa penduduk Kabul tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan nyawa dan harta benda mereka.

“Kami adalah abdi rakyat dan abdi negara ini,” kata Shaheen.

Ditambahkan Shaheen bahwa kelompoknya tak menghendaki warga melarikan diri, tetapi tetap tinggal di negaraa itu dan membantu pembangunan kembali pasca-konflik.

Sumber gambar, AFP

Sebelumnya, sejumlah saksi mata menyatakan bahwa milisi itu hanya menemui sedikit perlawanan menuju Kabul.

Pimpinan Taliban memerintahkan para anggotanya untuk menahan diri melakukan kekerasan dan menjamin keamanan bagi mereka yang ingin meninggalkan Afghanistan lewat Kabul.

Demikian ungkap seorang pimpinan Taliban di Doha, Qatar, kepada kantor berita Reuters.

Dia juga meminta para perempuan untuk menuju ke kawasan perlindungan.

Gerak cepat Taliban

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Kurang dari dua hari, kelompok militan Taliban telah menguasai dua ibu kota provinsi di Afghanistan, sebulan setelah penarikan tergesa-gesa pasukan koalisi Barat dari negara tersebut.

Taliban mengeklaim telah menguasai kota Sheberghan di provinsi Jawzjan, dan merebut kota Zaranj, di provinsi Nimroz.

Seorang juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan kepada BBC bahwa pasukan pemerintah masih berada di kota Sheberghan dan akan segera menyingkirkan Taliban dari sana.

Namun, penguasaan ini adalah pukulan besar bagi pasukan keamanan Afghanistan, yang harus mennghadapi pertempuran di seluruh negeri.

Ada juga laporan tentang pertempuran sengit di Kunduz di utara dan Lashkar Gah di selatan.

Baca juga:

Militan Taliban telah membuat kemajuan pesat dalam beberapa pekan terakhir, merebut sebagian besar pedesaan, dan sekarang menargetkan kota-kota utama.

Kekerasan meningkat di Afghanistan setelah Amerika Serikat dan negara internasional lainnya menarik pasukan mereka dari negara itu, setelah 20 tahun operasi militer.

Sumber gambar, FARSHAD USYAN/AFP

Jatuhnya kota ‘benteng pertahanan pemerintah’

Kota Sheberghan adalah wilayah dari mantan wakil presiden dan panglima perang Afghanistan, Abdul Rashid Dostum yang menjadi benteng pertahanan pemerintah dalam memimpin perang melawan pemberontak.

Media lokal melaporkan bahwa 150 orang melakukan perjalanan ke kota itu untuk membantu pasukan Afghanistan.

Taliban pertama kali menguasai kompleks gubernur pada hari Jumat dalam pertempuran sengit, sebelum direbut kembali oleh pasukan keamanan Afghanistan.

Namun, kepala dewan wilayah itu, Babur Eshchi, mengatakan kepada BBC bahwa para militan kini menguasai seluruh kota, kecuali sebuah pangkalan militer, di mana pertempuran masih berlangsung.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan Fawaad Aman mengatakan kepada BBC bahwa pasukan pemerintah masih berada di “mayoritas” kota itu, termasuk bandara, dan bersikeras bahwa Sheberghan akan “segera bersih dari teroris”.

Namun Aman mengakui bahwa Taliban telah merebut beberapa bagian kota, dan pasukan pemerintah telah mundur “untuk mencegah jatuhnya korban sipil”.

Menurut kementerian pertahanan Afghanistan, pembom B-52 AS telah menyerang lokasi Taliban di kota itu.

Di sisi lain, pejabat Taliban mengatakan mereka telah “memenjarakan” Sheberghan. Video di media sosial menunjukkan ratusan narapidana meninggalkan penjara kota.

Kota ‘jatuh tanpa ada perlawanan’

Sementara itu di kota lain, kelompok Taliban mengklaim kemenangan di Zaranj – pusat perdagangan utama di dekat perbatasan Iran – dalam sebuah unggahan yang dibagikan di Twitter.

“Ini adalah permulaan, dan lihat bagaimana provinsi-provinsi lainnya segera jatuh ke tangan kita,” kata seorang komandan Taliban kepada Kantor berita Reuters.

Sumber gambar, HOSHANG HASHIMI/AFP

Foto-foto yang diunggah di media sosial memperlihatkan warga sipil menjarah barang-barang dari gedung-gedung pemerintah.

Beberapa anggota pemberontak Taliban difoto di dalam bandar udara setempat dan berpose di ruas jalan yang mengarah ke kota.

Mereka terus berupaya merebut kota itu setelah merebut beberapa distrik di sekitarnya.

Namun demikian, Wakil Gubernur Nimroz, Roh Gul Khairzad mengatakan kepada wartawan bahwa Zaranj jatuh “tanpa perlawanan”.

Dia dan pejabat lokal lainnya mengeluhkan kurangnya bantuan dari pemerintah Afghanistan.

“Kota itu berada di bawah ancaman, tetapi tidak ada seorang pun dari pemerintah pusat yang mendengarkan kami,” kata Khairzad.

Taliban terakhir kali merebut ibu kota provinsi itu pada 2016, ketika mereka menguasai sekejap kota Kunduz di wilayah utara.

Sembilan hari kemudian, Taliban berhasil menguasai kota-kota besar lainnya, termasuk Kabul (15/08).

Kelompok militan telah menutup perbatasan dengan Pakistan, dan gambar-gambar menunjukkan puluhan warga Afghanistan terdampar di sisi Pakistan, tidak dapat kembali ke keluarga mereka.

“Kami datang [ke Pakistan] untuk menghadiri pemakaman tiga hari lalu. Sekarang perbatasan ditutup. Kami duduk di sini. Kami tidak punya makanan dan uang,” kata seorang pria yang berusaha pulang ke Kandahar kepada kantor berita Reuters.

Sumber gambar, EPA

Utusan khusus PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, pada hari Jumat mengatakan perang di sana telah memasuki “fase baru, lebih mematikan, dan lebih merusak”, dengan lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam sebulan terakhir.

Dia memperingatkan bahwa negara itu tengah menuju “malapetaka”, dan meminta Dewan Keamanan PBB supaya mengeluarkan “pernyataan jelas bahwa serangan terhadap kota-kota harus dihentikan sekarang juga”.

Pemerintah AS dan Inggris telah mendesak warganya untuk segera meninggalkan negara itu karena situasi keamanan yang memburuk.

Pada hari Jumat, Kantor Luar Negeri Inggris memperingatkan bahwa militan sangat mungkin untuk melakukan serangan di Afghanistan. AS mengatakan warga negara dapat menerima pinjaman repatriasi jika mereka tidak mampu membayar sendiri penerbangan komersial.

‘Penghinaan terhadap hak asasi manusia’

Dawa Khan Menpal ditembak mati saat meninggalkan masjid di mobilnya.

Taliban mengatakan dia “dihukum karena perbuatannya”.

Negara-negara mitra pemerintah Afghanistan mengutuk pembunuhan itu dan menganggapnya sebagai tindakan mengejutkan dan pengecut.

Kuasa usaha AS untuk Afghanistan, Ross Wilson, mentweet bahwa dia “sedih dan muak” dengan pembunuhan itu, seraya menambahkan:

“Pembunuhan ini merupakan penghinaan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan berbicara bagi warga Afghanistan.”

Sumber gambar, Getty Images

Beberapa hari sebelumnya, serangan terhadap kediaman menteri pertahanan Afghanistan di Kabul menewaskan sedikitnya delapan orang.

Sang menteri, Bismillah Khan Mohammadi, tidak berada di rumah saat serangan tersebut.

Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Jumat, para perwakilan menyuarakan keprihatinan atas pertumpahan darah yang terus berkembang di negeri itu.

Utusan Afghanistan, Ghulam Isaczai meminta Dewan Keamanan agar mengambil tindakan guna menekan Taliban supaya menghentikan serangannya dan mengambil bagian dalam pembicaraan damai.

“Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan mereka menghancurkan Afghanistan dan mengancam komunitas dunia,” katanya.

Sementara itu, ketua Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan mengatakan kepada BBC bahwa negara-negara di kawasan khususnya perlu memberi tahu Taliban bahwa upaya merebut kekuasaan melalui kekerasan itu berarti bahwa pemerintahan mereka tidak akan diakui.