ABK Indonesia: WNI yang bekerja di kapal China meninggal di Pakistan

ABK Indonesia: WNI yang bekerja di kapal China meninggal di Pakistan

Seorang anak buah kapal asal Indonesia yang bekerja di sebuah kapal ikan milik perusahaan China telah meninggal dunia di Pakistan, pada Jumat (22/05). Mendiang diketahui diberangkatkan oleh perusahaan Indonesia dengan dua pimpinannya telah ditetapkan Polda Jateng sebagai tersangka kasus tindak pidana perdagangan orang.

Informasi ini dikemukakan Kementerian Asing Negeri Indonesia berdasarkan keterangan sejak Konsulat Jenderal RI di Karachi, Pakistan.

Cerita bermula ketika Badan Pelindungan Praktisi Migran Indonesia (BP2MI ) mendapat pengaduan dari dua ABK Nusantara berisinial Ha dan EA pada tanggal 14 Mei 2020.

Kedua awak pesawat tersebut berasal dari kapal ikan milik perusahaan China, Xianggang Xinhai Shipping Co. Ltd.

Saat bekerja di kapal ikan tersebut, Ha mengalami lara hernia dan ES mengalami bala kerja.

Keduanya dipindahkan ke kapal Chad 3 milik perusahaan Pakistan di kira-kira perairan Somalia. Dokter sudah meninjau kondisi keduanya di atas kapal.

Saat tiba di Pelabuhan Karachi, KJRI Karachi sudah menghubungi kedua awak kapal WNI tersebut.

KJRI langsung berkoordinasi dengan otoritas setempat biar keduanya dapat turun ke darat melalui mekanisme izin on arrival mengingat Pakistan saat ini masih dalam status lockdown.

Akan tetapi, dalam Jumat (22/05), kondisi ES merisaukan dan Pejabat Fungsi Konsuler KJRI Karachi berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk segera menjemput dan mendatangkan yang bersangkutan ke rumah melempem setempat.

Tetapi sekitar pukul 22. 00 zaman setempat, ES dinyatakan meninggal dunia di RS Zaenuddin Karachi.

Kemenlu RI telah men keluarga ES di Indonesia & menyampaikan bela sungkawa serta penjelasaan dan rencana lanjut sehubungan jalan pemulangan jenazah.

Ha dan ES diberangkatkan oleh PT MTB yang dua pimpinannya sudah ditetapkan Polda Jateng sebagai simpulan kasus tindak pidana perdagangan karakter yang menimpa mendiang Herdianto dengan jenazahnya dilarung di perairan Somalia.

PT MTB, menurut keterangan Kemenlu RI, tidak memiliki ijin penempatan awak kapal baik dari Kementerian Perhubungan maupun Kementerian Tenaga Kerja.

Kemenlu menyatakan akan bekerja setara dengan BP2MI, Polri, serta Kementerian/Lembaga terkait dalam menangani pemulangan jenazah ES sesuai permintaan keluarga, pelepasan hak-hak ketenagakerjaan almarhum dan penyelidikan lebih lanjut kasus ini.

‘Perbudakan’

Sebelumnya, seorang ABK Indonesia bertutur pada BBC News Indonesia mengenai perlakuan yang dia terima saat beroperasi di kapal ikan berbendera China.

Dia dan jodoh WNI lainnya mengaku mengalami barang apa yang dia sebut “perbudakan” selama enam bulan di atas pesawat.

“Teman saya wafat karena disiksa lalu disimpan sebulan di tempat pendingin ikan & dibuang ke laut. Sementara, ana berempat tidak tahan dipukul, disiksa, akhirnya kami selamat dengan melompat dari kapal, 12 jam terombang-ambing di laut”, ujarnya.

ABK ini mengungkap dirinya disalurkan oleh perusahaan MTB yang berlokasi di Tegal, Jawa Tengah.

MTB adalah perusahaan yang sama yang menyalurkan Herdianto, ABK Indonesia yang meninggal dan dilarung di laut Somalia oleh pesawat berbendera China bernama Luqing Yuan Yu 623.

Kepolisian Daerah Jawa Tengah menyatakan pada Selasa (19/05) telah menetapkan MH dan S dari agen MTB sebagai tersangka. Keduanya berasal dari Tegal.