ABK Indonesia di kapal China: KBRI dan polisi Korea Selatan selidiki dugaan penyiksaan belasan WNI dalam kapal China

Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan Umar Hadi mengatakan KBRI dan negara penegak hukum Korea Selatan pusat melakukan investigasi terhadap dugaan penindasan yang dihadapi sejumlah ABK Indonesia yang bekerja di kapal China dan kini berada di Busan, Korea Selatan.

Negeri Indonesia juga menyatakan akan menyidik apakah pelarungan tiga ABK dengan meninggal dari atas kapal China itu sudah memenuhi ketentuan universal.

Sebanyak 14 ABK, yang sebelumnya melaporkan dugaan penindasan, dengan didampingi KBRI, akan mengadakan kembali pertemuan dengan coast guard pada Busan, Korea Selatan, Kamis, (07/05) sore waktu Korea Selatan.

Ia menambahkan metode hukum akan tetap berlanjut, walaupun para ABK itu, yang bekerja di kapal Longxing 629, direncanakan untuk diterbangkan kembali ke Indonesia dalam waktu secepatnya.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi, mengatakan pihaknya masih menyelidiki apakah pelarungan yang dilakukan pihak kapal terhadap tiga ABK yang wafat memenuhi ketentuan internasional.

“Harusnya begitu merapat, kapten kapalnya melapor pada syahbandar wadah dia merapat. Yang sekarang diinvestigasi, waktu laporan seperti apa? Itu prosesnya masi berjalan, ” sirih Umar kepada BBC News Nusantara, Kamis (07/05), melalui sambungan telepon.

“Pelarungan di laut ada syarat-syarat. Itu justru sedang dilihat apa sudah memenuhi, ” tambahnya.

Berserakan, bagaimana dengan kapten kapal China yang diduga bertanggung jawab berasaskan penyiksaan yang terjadi?

Umar mengatakan kapal itu masih melaut, namun KBRI sudah mempunyai data perusahaan yang mempekerjakan ABK itu.

“Kita tahu kok perusahaannya, kaptennya siapa, datanya lengkap, ” ujarnya

Sementara, Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care, menyebut kasus ini menunjukkan muramnya kondisi pekerja migran Indonesia, terutama yang bekerja di sektor kelautan.

“Apa yang dialami oleh para ABK Indonesia tersebut adalah bentuk daripada kelanggaran hak asasi manusia dimana mereka terenggut kebebasannya, bekerja di kondisi tidak layak, tidak memperoleh hak atas informasi, hingga hak yang paling dasar yaitu hak atas hidup pun terenggut, ” ujarnya, dalam keterangan tertulisnya.

Panggil dubes China

Kementrian Luar Jati Indonesia menyatakan akan memanggil Representatif Besar China untuk meminta penjelasan tentang alasan pelarungan sejumlah jenazah ABK Indonesia dan dugaan memakai terhadap mereka di kapal berbendera China.

Pengikut kapal (ABK) warga negara Indonesia yang bekerja di dua pesawat penangkap ikan China mengklaim kedudukan kerja mereka sangat buruk, makin ketika tiga ABK Indonesia meninggal, tubuh mereka dibuang ke laut, alih-alih dibawa kembali ke darat.

BBC Korea Selatan melaporkan belasan ABK membatalkan untuk meninggalkan kapal karena memakai yang mereka alami di kapal dan menumpang kapal lain yang kemudian berlabuh di Busan, Korea Selatan. Mereka telah menjalani karantina selama dua pekan terakhir.

Informasi tentang pelarungan jenazah WNI dan dugaan memakai terhadap para ABK WNI semula diberitakan oleh stasiun televisi Korsel, MBC.

Informasi ini kemudian diulas oleh YouTuber, Jang Hansol di kanalnya, Rabu (06/05), dan kemudian menjadi pancaran pengguna media sosial di Indonesia.

Dalam masukan tertulisnya, Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri mengutarakan pihaknya telah mengkonfirmasi kematian 3 ABK Indonesia saat kapal pantas berlayar di Samudera Pasifik.

Kemenlu Indonesia, ujarnya, selalu akan memanggil Duta Besar China di Jakarta untuk meminta penjelasan lebih lanjut terkait pemberitaan tersebut.

“Guna meminta penjelasan tambahan mengenai alasan pelarungan jenasah (apakah sudah sesuai dengan Keyakinan ILO) dan perlakuan yang diterima ABK WNI lainnya, Kemlu bakal memanggil Duta Besar China, ” ujar Judha dalam keterangan tercatat, Kamis (07/05).

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Indonesia serta kementerian/Lembaga terkait juga telah memanggil manning agency untuk memastikan pemenuhan hak-hak awak kapal WNI.

Apa tanggapan Kemenlu Nusantara terhadap pemberitaan pelarungan jenazah WNI?

“Kapten kapal menjelaskan bahwa keputusan melarung jenazah, sebab kematian disebabkan penyakit menular serta hal ini berdasarkan persetujuan personel kapal lainnya, ” kata Judha.

Merujuk metode pelarungan jenazah yang dikeluarkan organisasi buruh internasional (ILO), kapten kapal dapat memutuskan melarung jenazah pada kondisi antara lain jenazah wafat karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas menyimpan jenazah, sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.

Dia menambahkan, KBRI Beijing telah menyampaikan nota diplomatik untuk menodong klarifikasi mengenai kasus ini.

Dalam penjelasannya, Kementerian Sungguh Negeri China menerangkan bahwa pelarungan telah dilakukan sesuai praktek kelautan internasional untuk menjaga kesehatan para awak kapal lainnya.

“Dalam penjelasannya, Kemlu China menerangkan bahwa pelarungan telah dilakukan sebati praktek kelautan internasional untuk memelihara kesehatan para awak kapal yang lain, ” ujar Judha dalam bahan tertulis.

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri Indonesia dan kementerian/Lembaga terkait juga telah memanggil manning agency untuk memastikan pemenuhan hak-hak badan kapal WNI.

Kementerian Luar Negeri Indonesia selalu telah menginformasikan perkembangan kasus dengan pihak keluarga.

Benarkah ABK asal Indonesia alami eksploitasi di kapal ikan China?

Pemerintah Indonesia “memberi mengindahkan serius” atas kondisi yang dihadapi anak buah kapal (ABK) pokok Indonesia yang mengklaim mengalami memakai ketika bekerja di kapal berbendera China dan kini berada di Busan, Korea Selatan.

ABK yang bekerja di perut kapal penangkap ikan China tersebut mengklaim kondisi kerja mereka betul buruk. Bahkan ketika tiga ABK Indonesia meninggal, tubuh mereka dibuang ke laut, alih-alih dibawa balik ke daratan.

BBC Korea Selatan melaporkan belasan ABK memutuskan untuk meninggalkan pesawat karena eksploitasi yang mereka mengambil di kapal dan menumpang kapal lain yang kemudian berlabuh dalam Busan, Korea Selatan. Mereka telah menjalani karantina selama dua pasar terakhir.

Kapan ABK Indonesia akan dipulangkan?

Direktur Perlindungan WNI dan Lembaga Hukum Indonesia (PWNI) Kementerian Asing Negeri Judha Nugraha mengungkapkan KBRI Seoul berkoordinasi dengan otoritas setempat telah memulangkan 11 awak pesawat pada 24 April 2020.

“Sementara 14 awak kapal lainnya akan dipulangkan pada 8 Mei 2020, ” ujar Judha Nugraha dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Nusantara, Kamis (07/05) pagi.

Dia menambahkan KBRI Seoul sedang mengupayakan pemulangan jenazah pengikut kapal yang meninggal di RS Busan karena pneumonia.

Sementara, sebanyak 20 badan kapal lainnya melanjutkan bekerja pada kapal Long Xin 605 serta Tian Yu 8.

Secara keseluruhan, ujar Judha, sebelumnya kedua kapal tersebut membawa 46 awak kapal WNI, 15 antaralain berasal dari Kapal Long Xin 629.

Jenazah tiga ABK dibuang ke laut

Sebelumnya, BBC Korea Daksina melaporkan para ABK asal Nusantara ini menjalani karantina di Busan sejak 14 April silam. Itu telah menjalani tes virus corona dan dinyatakan negatif.

Pengacara berbicara dengan 3 ABK melalui telepon dan mereka menuturkan kondisi kerja yang sungguh-sungguh di kapal-kapal China yang menangkap ikan secara ilegal di selat Samoa.

Itu mengaku harus bekerja selama 18 jam per hari, beberapa dalam antaranya harus bekerja selama besar hari berturut-turut.

Mereka pun berada di laut dalam jangka waktu lama, 13 bulan, tanpa sempat berlabuh semasa menjalani pekerjaannya.

Mereka juga mengaku tidak diberi air tawar untuk minum & harus meminum air laut.

Diantara mereka juga mengaku mendapat kekerasan fisik dari awak kapal senior dan wakil kapten kapal.

Paspor mereka diambil oleh kapten pesawat dan upah tiga bulan baru mereka bekerja tidak diberikan secara alasan untuk mengganti biaya perekrutan.

Imbas lantaran kondisi kerja yang buruk itu, mereka mengatakan tiga dari ABK meninggal karena penyakit yang membuktikan gejala serupa seperti tubuh yang kembung dan sesak napas.

Setelah meninggal, biasanya, jenazah akan disimpan di lemari es dan dibawa kembali, namun jenazah ketiga ABK itu justru dibuang ke laut, ungkap mereka.

Judha Nugraha, Eksekutif Perlindungan WNI dan Badan Kaidah Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Daerah mengkonfirmasi kematian tiga ABK Indonesia saat kapal sedang berlayar pada Samudera Pasifik.